FUN Institute

Kerikil dalam Sepatu


Bukan Anak Raja

“Saya tidak ingin menjadi kerikil dalam sepatu,” celetuk si anak muda.

Beberapa orang tua menolehnya. Aneka pandangan mengarahnya. Muatan pesan sorot mata yang menujunya beragam. Ada yang tatapannya panjang, antara ingin tahu lebih jauh atau sekadar mengintimidasi agar tidak mengganggu pertemuan itu. Ada yang hanya sekilas belaka, tidak menarik sama sekali tampaknya.

“Bisa dijelaskan maksudnya,” ujar seseorang bersuara berat, orang yang sejak awal memimpin pertemuan itu dengan pandangan yang konstan.

Anak muda itu mengangguk pelan.

“Untuk sebuah gerak yang baik, tidak cukup dengan bersama-sama semata. Tapi butuh komitmen. Clear, semuanya jelas di depan. Satu visi, satu pandangan…”

“Itu tidak perlu dijelaskan lagi anak muda, kita sudah biasa lakukan pekerjaan seperti ini…” celetuk seseorang.

“Saya tahu dan menghargai itu, Bapak. Untuk itu, maka saya harus jelaskan keberadaan saya agar tidak menjadi kerikil dalam sepatu Bapak… Sungguh pasti akan mengganggu. Tidak hanya mengganggu, tapi bisa melukai, menyakiti, dan membuat celaka perjalanan ini.”

“Kamu sengaja melakukannya? Mau membuat kami celaka?”

“Justru ini cara untuk menyelamatkan arah dan langkah kita, Bapak?”

“Tahu apa kamu, kami sudah bertahun-tahun melakukannya.”

“Iya, justru sudah bertahun-tahun, bisa tanpa sadar kita telah melewati jalur seharusnya, tanpa sadar arah orbit kita sudah melenceng dari tujuan…”

“Ahh… kamu tahu apa?”

“Saya tahu, mengemban amanah itu berat…”

“Apa hubungannya dengan kita?”

“Amanahnya sederhana, tapi beban mengerjakannya berat Bapak, jangan sampai kerja berat Bapak tak berakhir di tujuan dengan selamat…”

“Omong apa kamu, anak muda?”

“Jangan menjadi orang yang mencelakakan diri sendiri, Bapak?”

“Maksudmu?”

“Orang yang mengamanahkan hewan kurbannya kepada kita, untuk disembelih, kemudian diolah dan dibagikan kepada yang berhak. Itu sebuah amanah yang memuliakan, tidak semua orang mendapat kepercayaan seperti ini.”

“Itu memang yang kita lakukan selama ini…”

“Ya, maksud saya, mari kita lakukan amanah itu sebaik-baiknya. Kita sedang dipercaya menjadi jalan ibadah orang lain. Seperti halnya keset di depan pintu. Menjadi benda yang penting agar orang bisa masuk ke rumah dalam keaadan bersih. Kalau orang yang masuk dan membersihkan kakinya pada kita itu mulia, maka kita jauh lebih mulia, Bapak…”

“Tidak usah bermajas dan berbunga-bunga ucapanmu anak muda…”

“Jangan kotori kemuliaan ini dengan niat matematis, berapa bagian kita, bisa ambil apa kita dari kambing atau sapinya. Tidak usah ada pikiran saya ingin kepalanya, saya ingin kakinya, saya ingin ekornya, saya ingin torpedonya… Hindarkan pikiran untuk menyembunyikan sekerat atau dua kerat dagingnya untuk apa pun alasannya. Hindarkan Bapak… Hindarkan…” anak muda itu tercekat di akhir kalimatnya. Berat.

“Jadi kamu menuduh kami selama ini melakukan itu?”

“Saya hanya menyampaikan apa yang harus disampaikan. Saya tidak tahu, apa makna lain dan sebutan dari orang yang mengambil diam-diam, dengan sengaja, dengan niat apa pun walau hanya sekerat daging, seruas tulang, atau seiris empedu yang pahit sekalipun dari sebuah amanat yang sudah dipercayakan…”

Meski hening, hanya mata yang menatap saling bersilangan, ada dada yang bergemuruh dari hati-hati yang keruh. Andai hati jernih mengendap, kejujuran adalah benih kepercayaan, cinta, dan rasa hormat…   

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s