Fun Writing

Yang Sering Diabaikan Penulis Pemula


 

Kiat HilmanBeberapa waktu saya pernah menjadi bagian dari proses seleksi naskah dan mengeditnya. Intensitas itu mengasah kepekaan dan memberikan beberapa catatan tentang naskah yang baik dalam penulisannya. Saya mendapati begitu antusiasme orang ingin jadi penulis, terutama penulis fiksi. Mereka mengirim naskah kumpulan cerpen dan novel beratus halaman.

Namun beberapa dari mereka mungkin lupa, kurang mengerti, atau sudah terlanjur menuliskan, sayang kalau mau direvisi. Padahal, naskah itu bersaing dengan banyak naskah lainnya ketika sampai ke meja penerbit. Memang dari rumah, sampai ke jasa pengiriman, dia masih pede sendirian. Tapi, di tengah jalan, sampai di kantong kurir dia sudah berdesakan. Tidak sendiri lagi, hari itu. Ditambah hari-hari sebelum dan sesudahnya.

Bagaimana naskah yang baik itu?

Pertanyaan ini sebenarnya jawabnya mudah, sebaik naskah yang sudah jadi buku dan diterbitkan. Nah, persoalannya, sudah baca berapa novel ketika hendak menjadi penulis novel. Sudah baca sebanyak apa cerita pendek saat percaya diri mengirimkan kumpulan cerita pendek ke penerbit. Merasa ‘pengalaman saya lebih seru dan mengharu biru dari cerita ini itu’ tidak membuat serta merta membuat naskah itu diterbitkan.

Artinya apa, naskah yang baik itu dari ide dan temanya unik, beda, dan mengandung kebaruan. Ada yang baru. Tidak klise, basi, dan hanya mengulang tema serupa dengan membedakan tokoh dan settingnya saja. “Tidak ada ide baru di dunia ini, semua sudah ditulis.” Itulah sebabnya, penulis dituntut untuk kreatif. Karena menulis adalah pekerjaan kreatif. Sibuk berdalih, membuat orang lain yang terus menulis dengan segala kreativitasnya, menyalip antrian kesempatan lebih depan lho…

Saya hanya mengulang petuah lama dalam dunia tulis menulis.

Bertele-tele dan panjang lebar di pembukanya. Berlembar-lembar bercerita tentang sesuatu yang klise, datar, biasa saja. Membosankan. Hampir satu bab pembuka, hanya menuliskan hal yang membingungkan. Pagi yang indah, matahari mulai menampakkan sinarnya. Ayam berkokok bersahutan… Hadeuh, sekarang pagi sudah tidak indah, subuh saja sudah bising. Ayam sudah tidak berkokok, diganti dering alarm hape. Jadi bukan hanya hape yang diupgrade, keterampilan membuat pembuka cerita juga perlu terus diupgrade.

Ceritanya mudah sekali ditebak. Pembaca akan mudah sekali menebak ujung atau ending cerita. Tentu cerita seperti ini tidak lagi menarik. Tidak perlu terburu-buru dengan menyederhanakan cerita. “Pembaca sekarang butuh yang ringan dan fresh, mereka sudah stress, tidak perlu dikasih yang rumit-rumit.” Iya, betul. Cerita yang menarik tidak harus rumit. Tapi membuat rasa ingin tahu pembacanya terpelihara hingga titik akhir cerita itu yang penting. Pembaca menemukan kejutan-kejutan tak terduga, serasa diajak serta bermain dengan berbagai emosi dan teka-teki.

Tokohnya terlalu sempurna, seperti bukan manusia. Padahal tokoh dalam cerita adalah representasi manusia pada umumnya. Ada baiknya, ada sisi buruknya juga. Tidak terus menerus rajin, kadang timbul malasnya juga. Kalau antagonis, bisa dijelaskan penyebabnya. Bisa saja dia gagah, pintar, soleh. Tapi kan mungkin juga dia teledor, keliru, dan bisa lepas kontrol dalam beberapa hal. Boleh saja tokohnya jahil, usil, jelek, tapi memiliki rasa empati tinggi. Cara mendeskripsikannya juga tidak semata-mata fisik, ada banyak yang bisa diceritakan dari seorang tokoh. Selayaknya manusia, ada yang senang ngopi, kalau duduk selalu angkat kaki, kalau makan berdecap, bunyi cap cap cap. Sok berani padahal penakut. Biarlah tokoh itu tetap manusia, toh Superman juga bisa mules kok.

Satu hal yang bikin sebel, terlalu menggurui! Pembaca itu tidak bodoh. Sampaikan pesan dengan smooth, santai, pelan, halus, jangan mengindoktrinasi. Mungkin terlalu bersemangat, tapi jadinya malah norak. Tidak usah menggarami laut. Berusahalah mengemas pesan sedemikian rupa, agar pembaca tak merasa sedang diceramahi atau dikhotbahi.

Ada beberapa hal lagi kekeliruan dalam memulai menulis, tapi nanti saya sambung lagi. Soal sudut pandang atau point of view yang tidak konsisten, dialognya tidak efektif, dan yang paling menyedihkan, penggunaan dan penguasaan EYD yang kacau balau. Padahal belajar bahasa Indonesia belasan tahun dari sekolah dasar sampai kuliah. Masak membuat paragraf belum beres, menggunakan tanda baca juga berantakan, menulis cerita kok pakai bahasa sms, disingkat-singkat. Bahasa Indonesia itu penting, saudara…

Sebelum saya sambung nanti-nanti, ini saya bonusi, kiat menulis dari Mas Hilman, penulis serial Lupus yang eksis sampai sekarang sebagai penulis skenario sinetron yang disegani.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s