Fun Writing

Resensi Buku, Memeras Esensi


Resensi Memeras Esensi

Meresensi sebenarnya bisa menjadi pekerjaan yang sangat menyenangkan bagi para pembaca buku. Karena ini pekerjaan langka. Badan dunia Unesco dalam rilisnya, menyebut Indonesia tingkat bacanya rendah, hanya ada satu orang pembaca buku serius di antara seribu. Meresensi menjadi sangat eksklusif karena dilakukan oleh segelintir orang di antara melimpahnya buku, film maupun musik.

Apa saja yang harus dilakukan dalam meresensi.

Sebenarnya sederhana, karena tujuan dari resensi adalah membuat timbangan dari karya buku, musik atau film, untuk menjadi pertimbangan khalayak pembaca. Apakah mau membeli buku, nonton film, atau membeli compact disc musik dari produk tersebut.

Seperti pekerjaan lainnya, meresensi juga melalui beberapa tahap. Mulai dari persiapan, pengerjaan dan publikasi. Pada tahap persiapan meresensi buku, tentukan dulu buku yang akan diresensi. Walaupun jumlah penerbitan buku di Indonesia tergolong rendah, masih kalah dengan Jepang, India, dan China. Namun jumlahnya mencapai 18.000 buku per tahun di dua tahun silam, sekarang pasti bertambah. Terdiri dari berbagai genre, baik buku umum, buku referensi, dan buku pelajaran. Bagaimana pun jumlah itu sangat berharga bila kita mau mengambil peluang membaca dan meresensinya.

Pertama tentukan buku yang mau diresensi. Utamakan buku-buku baru. Kemudian buat anatomi bukunya yang terdiri dari judul buku, nama pengarang, penerbit, tahun terbit, ukuran buku dan harganya. Contoh saja, saya baru mendapat kiriman buku dan sudah selesai membacanya. Judul buku: Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab. Penulis: Mauludin Anwar, Latief Siregar, Hadi Santosa. Penerbit: Lentera Hati. Tahun Terbit: Juni 2015. Ukuran buku: 15,5 x 23,5 cm. Harga: Rp. …. (nanti saya cek di toko).

quraish shihab1

Kedua membaca buku sampai selesai. Buatlah catatan-catatan penting atas hasil pembacaan buku tersebut. Karena ini berkaitan dengan resensi yang akan kita tulis. Setidaknya, kita mengetahui beberapa hal ini, isi buku tersebut. Kemudian tujuan penulisan buku, latar belakang penulis, hingga kita bisa mengambil kesimpulan dan menimbang dimana kelebihan dan kekurangan buku tersebut.

Langkah ketiga menulis. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, isi resensi diselaraskan dengan hasil pembacaan dan catatan-catatan penting tentang buku tersebut. Satu hal sederhana yang perlu diketahui, judul resensi tidak harus sama dengan judul bukunya. Misal buku yang saya itu, mungkin saya akan menjuduli resensi itu, “Quraish Tetap Manusia, Biografi yang Komplit” atau “Menafsir Quraish, Biografi Manusia Langka”. Setelah itu tuliskan informasi umun tentang buku tersebut dengan membuat ringkasan secara global atau garis besarnya. Kemukakan sisi menarik dan manfaat buku tersebut bagi pembaca. Nah, terakhir kita bisa memberi penilaian, buku ini dikasih bintang berapa atau dengan nilai berapa. Cukup bagus, bagus, atau bagus sekali.

Keempat, publikasikan. Banyak media yang menyediakan rubrik resensi. Kalau beruntung resensi akan dimuat, dapat honor, atau dapat buku baru dari penerbitnya untuk diresensi. Boleh juga memilih memublikasikan sendiri melalui website dan blog pribadi.

Bagaimana dengan meresensi film dan musik?

Sama saja, intinya kita memberikan timbangan atas karya tersebut dengan tujuan memberikan referensi bagi calon penonton atau penikmat musik yang kita resensi. Bedanya, kita harus menonton dulu atau mendengarkan musiknya dulu. Beberapa hal teknis penulisannya hampir semua sama.

Kalau sudah mulai dapat efeknya, insya Allah meresensi menjadi asyik sekali…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s