Fun Writing

Feature – Berkisah Fakta Rasa Sastra


Fakta rasa sastra

Namanya Mustofa. Orang-orang biasa menyapa, Pak Mus. Sehari-hari dia mengurusi masjid di komplek pensiunan yang tak lagi penghuninya pensiunan. Banyak sekali pekerjaan yang dilakukan Pak Mus. Dari mulai menyapu, mengepel, menyalakan dan mematikan lampu, mengecek air buat wudhu hingga mengumandangkan azan dan qamat.

Tidak ada yang tahu banyak siapa Pak Mus. Orang penting yang tidak dipentingkan. Orang hanya bisa menggerutu kalau lantai masjid berdebu, kotor dan tidak dipel. Mengumpat kalau toilet bau pesing, menuntut sempurnanya semua urusan masjid. Orang yang datang sesekali saja, bisa dan sah menuntut apa pun pada Pak Mus. Menyapu dan mengepel masjid yang luasnya hampir setengah lapangan bola juga makan waktu dan energi.

“Kalau mereka tahu, Pak Mus hanya diberi uang saku 150 ribu sebulan untuk semua ini, mereka akan malu…” saya membatin dalam rasa masygul dan ingin menangis. Kalau bukan karena panggilan hati, mustahil sosok tua itu memilih pekerjaan ini. Meninggalkan keluarga, jauh dari anak dan istri.

Menulis feature sama seperti menulis berita jurnalistik lainnya. Karena feature adalah salah satu produk tulisan jurnalistik. Biasa disebut depth news atau soft news. Sehingga harus tetap memenuhi kaidah prinsip jurnalistik. Harus mengungkapkan fakta, berimbang, dan ini bedanya, kalau feature lebih subjektif.

feature - tempo1Seperti contoh di atas, banyak orang yang melihat Pak Mustofa. Setiap hari ratusan jamaah masjid datang dan bertemu dia. Dianggapnya biasa, setiap masjid pasti ada marbotnya. Tapi ketika seseorang melakukan tindak jurnalistik, yaitu interview, wawancara, atau investigasi kemudian menuliskannya, maka jadilah dia menulis feature. Begitu sederhananya menulis feature.

Karena tuntutan dalam menulis feature adalah bukan sekadar memberitahukan, tapi menuturkan, mengisahkan. Sehingga kemampuan mengambil sudut pandang sangat penting. Semua orang bisa melihat hal yang sama, tapi tidak bisa begitu halnya dengan mengisahkannya kembali. Ada yang sangat datar, biasa, tidak menimbulkan emosi apa pun bagi pembacanya. Namun ada yang bisa membuatnya menjadi kisah yang menguras emosi dan melahirkan empati.

Mengapa bisa begitu, karena tulisan yang baik, dituliskan oleh sejumlah proses, skill, dan penguasaan bahasa yang baik. Pengetahuan tentang teknik menulis, harus disertai dengan upaya menulis yang kontinyu. Sehingga kemampuan dan ketrampilan menulis seseorang bisa meningkat. Alah bisa karena biasa, begitu pepatah berkata.

Menulis feature pun demikian. Harus melalui proses. Hingga mampu memiliki sudut pandang berbeda terhadap suatu kejadian atau peristiwa. Membuat nilai berita atau tulisan menjadi lebih berbobot. Padat dengan kebaruan. Ada hal baru, ada keunikan, ada yang berbeda. Selain menghibur dan ringan.

Feature boleh juga disebut lebih ringan dari berita dan artikel. Cara mudahnya, feature itu menulis berita seperti menulis fiksi. Membawa masuk pembacanya kepada kisah yang sedang dibaca. Seolah berada bersama tokoh atau suasana yang sama. Kalau dalam definisi ilmiahnya, menurut Dr. Williamson dalam Features Writing for Newspaper, feature adalah tulisan kreatif yang terutama dirancang guna memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian situasi atau aspek kehidupan seseorang.

Marbot banyak. Masjid dan mushola banyak. Nama Mustofa banyak.

Namun dengan serangkaian tindak jurnalistik, mencari tahu, mengekplorasi informasi tentang Mustofa yang marbot. Maka akan lahir tulisan tentang human interest tentang nilai-nilai kemuliaan yang tidak paralel dengan penampilan dan tingkat pendidikan, misalnya. Ada jamaah yang berpendidikan tinggi, perlente, tapi menganggap keberadaan marbot sepele saja. Merasa memiliki hak untuk menyuruh, menggerutui, dan menegur marbot, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau dipikir, 150 ribu sebulan sampai mana?

“Alhamdulillah berkah, Allah menjaga anak istri sayah…” kata Pak Mustofa.

Malu dan musti bagaimana saya dengan jawaban seperti ini. Sungguh Pak Mustofa bukan malaikat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s