Fun Writing

Malas Menulis, Ini Sebabnya…


Malas Menulis

“Sudah selesai tulisannya?”

Jawabannya beraneka rupa. Dari sekadar senyum kecut sampai nyengir kuda. Itu jawaban lain dari kata, ‘Belum’. Kalaupun ada yang dengan gagah berani bilang ‘belum’ itu pun dibonusi dengan senyum. Ketika dikejar dengan pertanyaan berikutnya, “Kenapa belum selesai?”

Alasan yang terkemuka bakal beraneka rupa juga. Dari mulai tetangga yang kambingnya panuan, komputer atau laptopnya rusak, listrik mati, hingga mama minta pulsa. Hampir semua alasan ada, dari mulai yang tidak masuk akal, logis, sampai yang tidak ada kaitan dan mengarang bebas. Kalau mau dikejar lagi, ya ngapain. Capek!

Malas.

“Kalau malas tidak ada obatnya lah…” begitu saya selalu bilang. Sambil bercanda, saya sering bilang, biar nggak malas, “Nulisnya di kabel sutet tegangan tinggi!” Paling mereka akan menyahut sambil nyengir masam. “Kesetrum dong, Mas…”

Saya sering memberikan contoh, betapa pentingnya disiplin dalam menulis. Misal dalam sebuah proses keredaksian koran harian. Kalau salah satu reporter tidak menuliskan beritanya karena malas, apakah korannya akan berhenti terbit? Tentu tidak. Apakah rubriknya akan dibiarkan kosong ketika terbit? Tentu tidak. Dalam kondisi apa pun, tulisan harus selesai. Tidak ada alasan. Seperti juga tidak ada alasan untuk memecat reporter macam itu.

Kenapa sih malas…

malas menulis1Mungkin sederhana, malas! Sangat privat, sangat pribadi. Tapi ini bisa menjadi masalah besar dan genting buat sebuah negara, aisshhh… coba saja, kalau kita malas seorang diri, tak apa. Dua orang malas, mungkin mulai masalah. Tiga orang, sepuluh orang, ratusan, jutaan… Nah, bahaya kan! Jutaan orang di sebuah negara malas semua. Itu sebab, mungkin ya, perlunya kementerian pembangunan manusia. Karena kalau malas, bawaannya tidur mulu… hehe.

Baiklah, mungkin bisa ditelusur mengapa malas.

Pertama, tidak enjoy dengan apa yang kita lakukan. Menulis adalah aktivitas yang menyertakan banyak hal. Ketrampilan menulis hanya salah satu saja. Ada faktor lain seperti membaca, mendengar, berpikir, dan eksplorasi berkaitan dengan pengayaan tulisan yang harus dimiliki penulis. Memerlukan energi bukan hanya fisik, tapi psikis dan pikiran. Kalau sudah tidak enjoy, tidak nyaman, tidak menemukan kesenangan, maka bisa menimbulkan kemalasan.

Kedua, tidak memiliki motivasi dan target. Kalau menulis memiliki target dan motivasi, insya Allah larinya cepat sekali. “Kudu kelar nih, honornya mau buat kawin!”, “Harus selesai nih, biar bisa beli mobil.” Motivasi apa pun sah, mau motivasinya pendapatan finansial, mau spiritual, atau yang paling mulia sekalipun, silakan. Tidak ada undang-undang yang melarang penulis punya banyak uang, rumah bagus, istri cantik, dan bisa jalan-jalan keliling dunia.

Ketiga, tidak fokus. Punya banyak keinginan, tapi tidak bisa membuat prioritasnya. Mana yang tidak penting, agak penting, penting, dan sangat penting. Ini berhubungan dengan manajemen waktu seseorang. Bukan berarti seorang penulis itu kerjaaannya harus terus menerus di depan komputer atau laptop. Boleh kok nongkrong di tukang ngasah batu cincin, tidak dilarang juga kok ikut main futsal, atau nonton bareng balapan motor GP sambil ngopi. Asal bisa ngatur waktunya. Itulah pentingnya, membuat deadline, pentingnya menentukan jam biologis menulis, dan pentingnya disiplin menaati itu semua.

“Saya kan harus ini, harus itu…”

Tidak perlu menyalahkan kondisi. Banyak orang sukses hari ini, menjadi orang besar,  tumbuh dengan mengakali kondisi dengan mengoptimalkan kreativitas dalam keterbatasannya. Belajar mencari solusi untuk setiap masalah. Bukan menjebak diri ikut berputar-putar dalam pusaran masalah. Kata pepatah bijak, “Lebih baik menyalakan lilin daripada meratapi kegelapan.”

Rasanya alasan malas itu basi sekali ya… Apalagi perkembangan teknologi dan informasi juga luar biasa.  Sebutlah, “Laptopnya eror, Mas?” “Kan ada rental!” “Paket internetnya habis,” “Kan banyak warnet!” atau “Kan banyak wifi gratis di tempat ngopi.” Kiranya, cukuplah alasan malas dimakamkan saja dengan sempurna. Doakan saja, biar dia tenang di alamnya. Tidak kembali lagi mengganggu aktivitas menulis kita.

Jadi kalau ada pertanyaan, “Tulisannya sudah selesai?”

“Lah, yang belum dikasih saja udah saya kerjain, Mas…”

Edun, rajin apa gila nih bocah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s