Fun Writing

Membuat Outline itu Penting


“Saya sudah menulis, tapi belum selesai. Macet!”

“Aku udah berapa halaman, tapi stuck!”

Ungkapan dan keluhan seperti ini sering sekali saya jumpai. Baik dalam kelompok diskusi kecil, sekadar obrolan iseng, hingga pertanyaan serius peserta pelatihan menulis di berbagai tingkatan. Jangankan menulis yang macet. Jalanan di Jakarta saja tiap hari macet. Tapi kan akhirnya semua sampai ke tujuan. Walaupun waktu tempuhnya jadi lebih lama. Sekarang tinggal mau berangkat lebih pagi, atau mau sabar menikmati kemacetan yang padat merayap itu.

Hampir setengah hari saya ngobrol tentang menulis dengan dua tamu yang datang ke Fun Institute, menemani saya ngopi kemarin. Sebelumnya saya minta maaf, kalau yang saya tuliskan pernah saya tulis, mirip, atau beririsan dengan tulisan sejenis ini. Soalnya tema perbincangannya memang balik lagi ke soal writers block. Macet lagi, macet lagi ketika menulis.

naning - writers block1 Dengan berbagai variasi pertanyaan, sebenarnya jawabannya sama. “Jalan terus jangan berhenti.” Seperti analogi jalan macet di Jakarta, jalani saja nanti juga sampai tujuan. Hanya melambat. Begitu lepas dari simpul macet, ya bisa tancap gas lagi. Kalau agak kreatif, mau mencoba jalan alternatif, bisa jadi sampai lebih cepat. Walaupun harus melewati jalan sempit berkelok, lewat gang kecil, bahkan harus membungkuk karena melintasi tali jemuran samping rumah orang.

“Menulis itu kan tidak tiba-tiba menulis, mengetik…” kata saya.

Banyak yang merasa sudah cukup yakin, dengan gagahnya, punya ide langsung membuka laptop atau menyalakan komputer. Langsung mengetik… Dapat ditebak, dalam hitungan berapa paragraf dia berhenti. Habis… Bingung apa lagi yang hendak ditulis. Dipikir, dipikir, dipikir, tetap tidak jalan. Walhasil ya sudah. Tinggalin. Wasalam.

“Outline tetap penting. Biasakan buat outline…”

“Outline? Hmm…”

“Iya, kerangka tulisan. Biar terarah, fokus, dan efektif.”

“Gitu ya… saya kalau mau nulis ya nulis saja. Buka laptop, ketik… macet!”

“Hmm, bisa saja. Banyak yang melakukan seperti itu. Tapi… penulis profesional pun tetap membuat outline sebelum menulis. Bedanya, kalau pemula kudu corat-caret atau ditulis dulu. Para ahli itu, membuatnya di otak. Tidak kelihatan. Yang tampak hanyalah mereka itu langsung mengetik…”

“Berarti outline penting sekali ya…”

Saya tidak perlu menanggapi lagi. Pernyataannya itu sudah menjadi jawabannya. Saya lebih memilih menyeruput kopi yang mulai dingin.

“Outline itu isinya apa saja ya?”

Yesss! Ini pertanyaan cerdas. Tadi ketika datang, bilang ngakunya sudah menulis. Kendala menulisnya adalah macet. Sekarang dikasih solusi. Kirain sudah tahu, hikss…

“Isinya parutan kelapa dikasih garam sedikit dan gula jawa yang diiris tipis,” jawab saya agak bercanda tapi serasa menelan bola volley nyangkut di leher.

“Sabar, sabar…” seolah ada bidadari berbisik merdu sekali di telinga saya seraya menepuk bahu.

Akhirnya saya menjadi serius. Saya ajak geser duduknya, dari kursi tenda ke saung yang ada whiteboardnya. Saung memang tempat yang menarik untuk agak serius tapi santai. Saya pun segera membuat coretan-coretan di whiteboard.

“Ini cara saya, Mas… mungkin cara orang lain beda dan lebih canggih,” kata saya.

Hendaknya menulis itu dibiasakan membuat outline. Tuliskan semua bagian penting atau inti yang hendak kita sampaikan. Ada pembuka, ada isi, dan penutup.

“Kayak nulis skripsi yo Mas… saya kira nulis fiksi ndak perlu outline.”

Setelah itu, kita kumpulkan bahan yang mendukung dan dibutuhkan untuk tulisan. Kumpulkan bahan sebanyak-banyaknya. Mending lebih daripada kurang. Tulisan yang kurang bahan, berpotensi macet di tengah jalan. Selain itu, kalaupun selesai, akan terasa sekali kalau kontennya tidak padat. Hanya bermain-main dengan kata dan kalimat, mutar-mutar dan berulang seperti naik komidi putar.

“Kalau tentara itu amunisi ya Mas…”

“Kira-kira begitu, karena perang kan nggak mungkin pakai senapan angin. Musuh tidak mati malah masuk angin…”

Keduanya tertawa. Tapi saya tidak yakin dia paham. Hehe…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s