Fun Writing

Karakteristik Tulisan Ilmiah, Belajar dari Dina


Saya perkenalkan dulu siapa Dina, dia dosen yang sedang mengambil program doktoral di sebuah universitas negeri di Jakarta. Pembawaannya asyik, tapi saya tidak tahu, apakah seasyik itu dia mengajar di depan mahasiswanya. Soalnya, ketika di Fun Institute, nyaris luluh semua kejaiman, hilang segala batas formalitas. Jadilah, belajar seperti sedang ngobrol santai belaka.

Termasuk ketika Dina mengajari saya tentang penulisan ilmiah pada sebuah sore. Saya sambil ngopi, Dina sambil ngeteh. Tentu dilengkapi cemilan yang Dina bawa sendiri, oleh-oleh dari Cirebon, kota asal orangtuanya. Kota yang buat saya juga punya banyak cerita. Bahkan saya mencintai kota udang itu dengan segala kulinernya.

Baiklah…

“Gini aja, mulai dari bedanya penulisan ilmiah dengan penulisan non ilmiah…” saya berusaha mengarahkan pembiacaraan biar fokus.

“Oke, jadi penulisan ilmiah itu, asyiiik….” Dina ketawa sendiri, merasa aneh dengan gaya menjelaskannya pada saya. Saya hanya tersenyum.

Dina1 Jadi menurut Dina, penulisan ilmiah atau academic writing itu mempunyai ciri, “Penulisan ilmiah selalu mengacu pada teori sebagai kerangka atau landasan berpikir dalam pembahasan masalahnya,” Dina diam sejenak memandang saya. “Kang Taufan ngerti nggak? Kalau kecepetan saya jelasin pelan-pelan nih…”

“Ngerti, ngerti… landasan menulisnya berdasar teori, beda sama fiksi. Oke, lanjut!”

“Penulisan ilmiah itu harus lugas…”

“Maksudnya, tidak menggunakan majas, kalimat bersayap, tidak ada sense… gitu?”

“Yup, langsung jebret apa adanya. Beda sama fiksi kan?” Dina menegaskan sembari melanjutkan, “Terus, penulisan ilmiah itu juga harus efektif dan efesien. Kalau bahasa Indonesianya sangkil dan mangkus. Nggak perlu dijelasin kan?”

“Iya cukup. Gampangnya, penulisan efktif itu ringkas dan padat. Pokoknya menggunakan kalimat seperlunya, yang mudah dimengerti, mudah dipahami, dan memuat informasi yang penting. Siiipp…”

“Masih ada lagi Kang… penulisan ilmiah itu harus objektif. Tidak boleh dibumbui dengan subjektivitas penulisnya. Jadi yang ditulis berdasar data faktual, konkret…”

“Terus…” tanya saya lagi.

“Ya harus sistematis lah…”

“Maksudnya?”

“Ya penulisan ilmiah kan punya kaidah dan aturan penulisannya, Kang. Sistematis, berurut sesuai dengan produser yang berlaku…” kata Dina bersemangat. Saya tertawa geli, dia kesrimpet lidah saking semangatnya. Prosedur diucap prosedur… hehe…

“Salah ya Kang? Kok aneh gitu…” Dina masih belum sadar kekeliruannya.

Saya hanya geli. Meneruskan tawa saya sampai selesai. Baru saya beritahukan apa sebab saya menertawakannya. Mukanya memerah, mungkin malu, mungkin juga karena mulai matang, dan siap dipetik. Aiiih…

Sore yang menarik, ngopi, ngeteh, ngemil oleh-oleh sembari dapat pengetahuan baru dari Dina. Saya ya pernah dapat mata kuliah itu, tapi kan sudah lama sekali. Tidak ada salahnya menyegarkan ingatan dengan belajar bersama ahlinya. Setidaknya, Dina kan sedang menggunakan ini semua untuk penyusunan disertasinya, juga untuk menulis jurnal-jurnal dalam rangka menambah angka kreditnya sebagai dosen.

Belajar itu banyak sumbernya. Seperti juga banyak caranya. Saya memilih cara untuk belajar bersama. Karena saya merasa lebih banyak tidak tahunya, merasa sangat terbatas pengetahuannya. Bersyukur banyak yang datang ke Fun Institute dengan berbagai latar belakang keilmuan dan saya tinggal menyediakan diri untuk menampung luberannya…

“Kang, potoin saya di situ dong…” kata Dina sambil menyodorkan hape dan melangkah ke salah sudut batik di Fun Institute.

Hmm… inilah puncaknya. Foto-foto…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s