Story & History

Kusni Kasdut, Jalan Licin Kekecewaan


Di bibirnya terlukis senyum yang yakin akan kebenaran

Matanya berbinar dalam keredupan

Mulutnya bergerak menyusun doa terangi batinnya…

 

Itu adalah penggalan syair ‘Selamat Pagi Indonesia’ yang ditulis Theodore KS, wartawan Kompas yang dinyanyikan God Bless. Sentuhan manis aransemen Ian Antono dan suara Ahmad Albar, membuat syair ini memiliki ruh kuat. Lagu yang mengabadikan sebuah tragedi, tentang hukuman mati seorang pejuang yang terpeleset di jalan remang, hingga harus mengakhiri hidup di depan regu tembak.

Nama Kusni Kasdut saya dengar ketika saya sekolah dasar. Orang-orang dewasa di sekitar saya membicarakannya. Saya hanya mencuri dengar dan membaca sekilah judul besar di sebuah koran. Tapi tidak paham. Dan itu berlangsung sangat lama. Ketidakmengertian dan ketidakpahaman terpendam hingga tahunan. Sampai akhirnya saya bisa membaca kisah sebenarnya.

Kusni Kasdut1 Waluyo adalah nama sebenarnya. Terlahir dari keluarga miskin, ikut berjuang, kakinya sempat terkena peluru hingga langkahnya tak lagi gagah. Merasakan pula hidup dalam penjara Belanda. Begitulah cerita yang sudah banyak berkembang. Siapa pun, di masa perang pasti memiliki panggilan jiwa yang kuat untuk menjadi bagian dari perjuangan memerdekakan bangsanya. Termasuk Waluyo si anak miskin kelahiran Blitar itu.

Waktu terus berjalan…

Kemerdekaan adalah harapan. Cita-cita dari sebuah perjuangan. Setelah fase berat dan berkeringat. Masa merdeka adalah pencapaian yang mestinya dinikmati bersama-sama. Tidak boleh ada yang mengklaim, baik segelintir, sekelompok, atau segolongan bahwa kemerdekaan adalah milik mereka. Harus dinikmati bersama.

Waluyo hanya ingin hidup lebih baik. Ya secara ekonomi, secara finansial tercukupi, dan statusnya meningkat di mata masyarakat setelah pernikahannya. Tapi apa yang terjadi. Waluyo alias Kusni Kasdut harus menerima kenyataan, kemerdekaan yang turut diperjuangkan tidak berbaik hati pada dirinya. Dia gagal menjadi tentara. Alasannya, salah satunya dia anggota laskar rakyat yang tak tercatat. Tentu ada alasan lainnya, fisiknya.

Hanya itu?

Tentu tidak. Namun Kusni Kasdut terlanjur kecewa. Dia terperangkap di jalan licin yang kian menjerumuskan kegalauannya. Dia bertemu orang-orang berperangai rompak. Menjadi pimpinan kelompok raja tega. Merampok! Kematian pengusaha kaya raya Ali Badjened di Kebon Sirih karena ditembak Bir Ali, temannya. Membuat heboh. Maklumlah, tahun 1960 perampokan dengan pembunuhan adalah hal langka. Nama Kusni Kasdut naik daun.

Setahun berikutnya, tahun 1961, Kusni Kasdut menjadi ‘trending topic’. Aksinya tidak wajar. Merampok barang antik di Museum Nasional dengan aksi yang dramatis. Menyandera pengunjung, menjarah 11 permata koleksi museum, dan menembak mati satu petugas museum. Kusni Kasdut jadi buronan nomer satu polisi! Semarang menjadi kota naas bagi Kusni. Dia tertangkap ketika sedang menjual hasil rampokannya. Kusni Kasdut pun diadili, dijatuhi hukuman mati!

Permohonan grasinya ditolak Presiden Soeharto. Kusni Kasdut mengakui sendiri, bahwa kejahatannya tak tertanggungkan lagi. Bagaimana tidak, dari mulai debutnya di dunia hitam, menculik dokter menuai vonis lima tahun penjara, kemudian diganjar 12 tahun untuk aksinya di Museum Nasional, ditambah seumur hidup untuk menebus kematian Ali Badjened, serta pidana mati untuk kenekatannya membunuh polisi.  Ditambah beberapa kali usaha melarikan diri dari penjara.

Menjelang subuh, 16 Februari 1980 di dekat Selat Kamal, sekitar Gresik. Kusni Kasdut dieksekusi. Jenazahnya di kebumikan di Probolinggo, Jawa Timur. Parakitri Simbolon membukukan kisahnya dalam ‘Kusni Kasdut’ yang diterbitkan Gramedia 1981. Sebuah upaya merawat ingatan. Melawan lupa, bahwa merangkul teman seiring itu penting. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Kuasa itu dipergilirkan, kalau waktu yang singkat tak sanggup membuat seseorang berharga. Hati-hati dengan arus balik orang yang kecewa dan terpelanting di jalan licin yang diciptakan…

Iklan

2 tanggapan untuk “Kusni Kasdut, Jalan Licin Kekecewaan”

    1. Syukriyah eh syukurlah kalau menambah pengetahuan… hanya menuliskan remah-remah sejarah. Karena zaman berlari sangat cepat. Terlalu banyak yang terlewat… semoga bermanfaat. Terima kasih sudah baca…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s