Story & History

Haji Agus Salim – Sang Diplomat Poliglot


Berapa bahasa yang kita kuasai hari ini?

Senyum itu menunjukkan betapa rendah hati kita ini. Maknanya, saya hanya bisa bahasa ibu, mungkin bahasa daerah yang dibawa orang tua, bisa satu, bisa dua. Kemudian bahasa Indonesia tentu saja, dan bahasa Inggris. Alhamdulillah pasif… cukup memenuhi syarat rekrutmen karyawan yang hanya menyantumkan klasusul, menguasai bahasa inggris pasif.

            Saya terhenti pada buku “Seratus Tahun Haji Agus Salim” di deretan lemari buku. Buku yang saya beli dan baca lebih dari sepuluh tahun lalu. Tokoh ini luar biasa, di usianya yang sangat muda, Agus Salim mampu menguasai tujuh bahasa asing sekaligus! Tujuh, ya tujuh… Bukan hanya itu, dia juga lulusan HBS terbaik se-Hindia Belanda. HBS atau Hogere BurgerSchool adalah sekolah menengah untuk orang Belanda, Eropa, dan elite pribumi dengan pengantar bahasa Belanda. Mengapa orang pribumi bisa masuk sekolah Belanda, karena adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi pemerintah Belanda kepada penduduk Hindia Belanda.

Kebayang kan kayak apa cerdasnya Haji Agus Salim…

Agus Salim1Karena dia juga bekerja sebagai penerjemah. Tidak hanya piawai dengan bahasa Belanda yang wajib di sekolahnya. Agus Salim mampu berbahasa asing lain seperti Inggris, Arab, Turki, Prancis, Jerman dan Jepang. Sampai-sampai pemerintah Belanda meminta dirinya untuk menjadi penerjemah di kantor konsulat mereka di Jeddah, Arab Saudi. Agus Salim melakukan pekerjaannya itu dalam kurun waktu 1906 hingga 1911. Saya nggak kebayang, Jeddah pasti tidak semetropolis sekarang, transportasi antarnegara hanya kapal laut, dan gadget tidak secanggih sekarang. Tapi beliau bisa sehebat itu…

Maka jangan tanya betapa besarnya peran Agus Salim dalam masa pergerakan hingga kemerdekaan Indonesia. Dia berjasa sekali membuka hubungan diplomatik negara-negara Timur Tengah. Mesir menjadi negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia, tak lepas dari peran diplomasi Agus Salim. Wajar bila dia menjabat menteri luar negeri untuk dua kabinet di masa awal kemerdekaan. Menjadi menteri luar negeri pada Kabinet Amir Syarifuddin (1947), dan menjabat posisi yang sama dalam Kabinet Hatta (1948-1949).

Orang pandai selalu menulis…

Itu juga yang terjadi pada diri Agus Salim. Saya senang kalau seorang tokoh menulis. Menandakan bahwa jiwa intelektualisme tak bisa dibendung walau banyak tantangan merundung. Agus Salim adalah wartawan. Jurnalis sejati. Rekam jejaknya jelas, dari mulai menjadi wartawan hingga menjadi pimpinan Harian Neratja. Memimpin harian Hindia Baroe, hingga mendirikan surat kabar Fadjar Asia. Tidak terlalu banyak yang tahu, kalau Agus Salim bersama Djajadiningrat dan Soepomo adalah panitia penghalus bahasa dalam penyusunan UUD 1945.

Cerdas dan berani. Dia menguasai banyak bahasa, menulis, dan menjiwai semangat jurnalisme. Menulis bisa menjadi senjata melawan penjajah. Tulisan bisa membuat penjajah tidak bisa duduk tenang dan tidur pulas. Tulisan juga bisa membangkitkan, menggelorakan, dan membangun keberanian melawan. Agus Salim menjadi orang Indonesia pertama mengenalkan Bahasa Indonesia (Melayu) di forum resmi Volkstraad tahun 1918.

Ini pesan pesan penting untuk generasi sekarang…

Banyak yang pintar, tapi tidak cerdas. Banyak yang pragmatis, berpikir pendek, berharap semua instan, lemah semangat bertarung dan berkompetisi. Pintar saja tidak cukup untuk membuat dan mengambil peran dalam perubahan. Perlu kecerdasan, perlu keberanian. Banyak orang cerdas, tapi tidak berani mengambil peran. Jadi tidak perlu mengeluh dengan kondisi negeri. Malapetaka, bukan karena kebodohan dan keserakahan berkuasa, tapi karena orang baik dan cerdas tidak ambil bagian dan diam saja.

Sudah saja, saya malu sama Haji Agus Salim. Pertama penguasaan bahasa asing saya buruk sekali. Keberanian saya juga tak seujung kukunya. Tulisan saya? Tidak ada ruh dan greget yang menggelorakan, apalagi membangkitkan empati dan semangat. Ya semangat berbuat , semangat memperbaiki, semangat memberi harapan dan optimisme. Saya yakin Haji Agus Salim kecewa memiliki generasi tidak membanggakan macam saya.

Maaf beribu maaf “The Grand Old Man”

Iklan

2 tanggapan untuk “Haji Agus Salim – Sang Diplomat Poliglot”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s