Story & History

Bahaya! Merasa Lebih Mulia…


“Kasihan ya Mas…”

Istri saya sering sekali mengucapkan kalimat itu. Simpatinya tinggi. Melihat sesuatu yang dirasa berat, membebani, dan tidak pernah ada dalam jangkauan pandangan serta pikirannya, selalu dianggap sebuah penderitaan.  Sering sekali, kita memudahkan penilaian, rasa, dan simpati hanya dengan ukuran sendiri. Padahal, baju yang paling pas adalah baju dengan ukuran masing-masing. Orang yang gemuk tidak bisa pinjam baju orang kerempeng dan kurus. Pasti tidak muat dan kalau dipaksa pasti sobek. Pun sebaliknya.

“Kasihan bagus, tapi tidak harus dikasihani…” kata saya.

“Kok begitu?”

“Mereka melakukan itu setiap hari, merasakan itu setiap hari, sudah berlangsung lama sekali dan mereka menikmati itu. Kamu baru melihat sepotong dari banyak bagian hidupnya,” jawab saya. Bukan saya tidak simpati, saya mengajarkan simpati sejak lama. Tapi empati lebih penting. Merasa apa yang mereka rasakan dan membuat mereka lebih nyaman dengan keadaannya.

Suatu ketika, simbah saya perokok berat yang biasa melinting sendiri. Simbah saya punya slepen – tempat menyimpan tembakau, papir, klembak, menyan, dan irisan cengkeh- yang selalu dikantongi ke mana dia pergi. Nah, karena harus menempuh perjalanan dengan kereta, maka saya dan mendiang ibu berinisiatif mengganti rokoknya dengan rokok kretek. Sepanjang malam, saya melihat simbah gelisah. Dia kehilangan rasa, kehilangan kenikmatan, dan sangat terlihat tidak menikmati rokok kretek buatan pabrik.

Saya tahu, itu menyiksa.

Hingga ketika sampai di Cirebon, ketika kereta berhenti agak lama saya ajak simbah menikmati rokok lintingannya. Saya lihat cuaca cerah di wajahnya. Seperti menemukan kembali semua kenikmatan yang sudah dia miliki bertahun-tahun lamanya.

empati1 Saya hanya ingin mengatakan, tidak serta merta perubahan yang kita anggap baik itu kebaikan juga buat orang lain. Orang mudah saja mengatakan merokok itu tidak baik, sumber penyakit. Apalagi merokok kretek tanpa filter, dll. Bahkan ada yang menganggap orang yang merokok itu membahayakan, menjijikan, patut untuk dibully, dan bisa tidak masuk surga. Tidak mengapa. Mereka punya dalilnya, tapi saya juga punya alasan menghargai orang lain tanpa harus membuat orang tersebut jadi seolah-olah tidak memiliki kemuliaan apapun sebagai manusia karena merokok.

Ups! Kenapa jadi ngomongin rokok…

Saya hanya ingin bilang, bahwa setiap orang memiliki ukuran kebahagiaan masing-masing. Sesuai dengan kondisinya, sebagaimana keadaannya. Kalau seseorang sudah cukup bahagia dengan memakai sandal, tidak perlu dipaksa untuk pakai sepatu agar dia lebih bahagia. Karena belum tentu itu membahagiakan, kalau akhirnya jadi kikuk, lecet, melukai, dan bikin aneh sehingga menjadi bahan tertawaan orang banyak. Usahanya baik, niatnya baik, tapi tidak selalu baik bila ukuran kebaikan itu dipaksakan.

“Alhamdulillah, Mas… walaupun kecil rumah sendiri, nggak ngontrak lagi.” Itu kebahagiaan. Tidak bisa dipaksa dengan ukuran kita, “Mendingan ngontrak, lebih gede rumahnya, bagus, ada garasinya, dekat jalan raya… bla, bla, bla…”

Simpati bisa menjadi milik banyak orang. Tapi tidak dengan empati.

Sederhana sekali bahagia itu. Menikmati yang seharusnya kita nikmati. Tidak perlu jauh-jauh mencari. Kebahagiaan melimpah di sekitar kita. Memberi apa yang seharusnya bisa kita berikan. Tidak harus uang, bisa senyuman, bisa waktu untuk menemani bicara, bisa sedikit cerita jenaka agar bisa tertawa bersama-sama.

Tidak usah merasa lebih mulia dari orang lain, tidak perlu memperlihatkan lebih baik dan lebih saleh. Kita tidak bisa mengukur hal-hal seperti itu, jangan mengambil hak Tuhan menilai orang lain dengan kedangkalan dan keterbatasan kita.

Jangan sampai terbersit di hati bahwa kita lebih mulia… Berbahaya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s