FUN Institute

Spot Foto dari Mural Iseng


Saya senang bila sebuah kota, sudut dan beberapa bagiannya menyajikan seni gambar tembok. Bukan sekadar graffiti, seni menulis tembok dengan tulisan yang jenis hurufnya sangat imajinatif dan pemaknaannya yang sangat khusus. Tapi dengan gambar yang menyatu dengan ruh atau jiwa kota tersebut.

11992412_10207059568786081_1321097616_nTiang penyangga jalan layang, dinding-dinding sisi underpass, sudut-sudut tembok pagar di kanan kiri jalan besar. Bukan hanya menarik, tapi saya rasa memiliki fungsi lainnya. Kalau di Jakarta dan sekitarnya, mungkin bisa jadi pelipur lara dari jeratan macet yang mengular tak kenal waktu. Bila tematik tentu bisa jadi bahan promosi kota. Bila dibuat artistik pastilah menjadi ruang pameran besar dengan apresiasi yang panjang waktunya dan banyak sekali penikmatnya.

Saya tidak tahu persis sejarah dan awal mula seni menggambar tembok atau melukis dinding ini. Orang banyak menyebutnya dengan mural. Tentu beda dengan graffiti yang saya sebut lebih dulu. Saya tidak bisa membuat graffiti yang banyak dijumpai di berbagai tembok atau dinding strategis dengan tulisan yang khas dengan teknik semprot. Biasanya dijadikan ajang eksis atau ekspresi kecintaan pada sesuatu. Semisal almamater, sekolah, dan komunitas tertentu.

mural 1Menggambar tembok dan graffiti mungkin secara prinsip sama. Hanya secara visual saja hasilnya beda. Nantilah saya cari tahu lebih lanjut. Saya hanya ingin cerita, bahwa saya juga sering iseng menggambari tembok. Tentu gambar saya jelek, kadang malah nyontek dan saya gambar ulang dengan skala yang lebih besar dan warna yang berbeda. Sejak saya sekolah dasar, kamar saya sudah mulai digambari. Dari asal gambar, hingga perlahan mulai tematik dan merasa harus bisa dinikmati. Tidak sekadar ekspresif semata.

mural 3Sebenarnya lebih tepat kalau dibilang saya suka memain-mainkan cat sisa. Bukan menggambar dinding dengan niat yang gegap gempita dan kerasukan semangat perang ’45. Kenapa cat sisa, karena cat sisa yang saya miliki tak kunjung habis. Karena ketika saya menggambar satu tema, cat sisa itu habis, gambar belum selesai. Tentu saya membeli lagi warna yang sama. Begitu gambar selesai, cat itu masih tersisa. Kemudian saya menggambar yang lain. Eh, habis lagi, maka saya beli lagi. Begitu berulang berkali-kali.

mural 2Di Fun Institute, ada beberapa spot yang saya gambari. Ada nuansa fractal, semata-mata untuk memudahkan saya mengecat dan mempercepat waktu mengerjakannya. Karena menggambar model dan dimensi yang sama dengan pengulangan, maka itu cepat saya selesaikan. Tema lain biasanya hanya untuk menembah keindahan saja, syukur bisa menjadi spot foto yang unik bagi mereka yang datang ke Fun Institute. Seperti gambar kupu-kupu raksasa yang menjadi tempat foto favorit. Dengan pose tertentu dan sudut pengambilan gambar yang tepat, maka akan didapatkan foto seolah seperti orang bersayap kupu-kupu.

11996921_10207059622427422_1280700885_nBuat saya, menggambari tembok adalah keisengan belaka. Karena saya melakukannya tanpa pernah terjadwal khusus. Bisa sangat tiba-tiba, bisa berhenti sangat lama, bahkan baru beberapa bagian tak kunjung terselesaikan. Keisengan itu adalah ruang rekreasi saya. Sebagai orang yang terus-menerus intens dengan teks, setiap hari berjalan dari teks satu ke teks berikutnya. Maka salah satu ruang rekreasi saya adalah menggambar dinding. Tentu saya menggambari dinding rumah sendiri. Sesuai selera sendiri juga…

11997202_10207059578986336_1666480004_n Kalau ada yang meminta saya menggambari temboknya, pasti akan saya tolak serta merta. Karena sekali lagi saya hanya iseng belaka. Hanya mengendorkan syaraf-syaraf tegang di otak saya supaya tidak gila. Sebenarnya siapa pun juga bisa melakukan ini, memanfaatkan ‘cat sisa’ yang tak kunjung habis sisanya. Lebih jauh, saya berharap, Fun Institute jadi beda karena ‘keisengan’ saya itu. Apalagi kalau mural atau gambar tembok, terserah mau disebut apa, hanya ada di Fun Institute. Kan serasa gimana…

Saya senang, bila orang yang datang ke Fun Institute senang. Apalagi mengapresiasi ‘keisengan’ saya menghabiskan sisa cat itu dengan foto-foto dengan berbagai pose dan gaya. Setidaknya, bisa jadi oleh-oleh yang tak terlupakan. Demikianlah sejarah terjadinya tembok bergambar di berbagai sudut Fun Institute. Digambar dari sisa cat, oleh penggambar yang sangat buruk, otodidak dan sangat nekat. Jadi soal kualitas dan citarasa seni lupakan saja, percuma hanya akan membuang waktu belaka. Hehehe…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s