Story & History

Menertawakan Masa Lalu


“Jangan takut pada masa lalu,” kata seorang teman.

Saya tersenyum. Memandangi wajahnya yang sangat serius. Tidak tampak dia sedang bercanda. Entah kesurupan apa, dia kali ini sangat serius. Padahal biasanya sangat jenaka. Datang hanya untuk ngopi, ngobrol, dan ketawa-tawa.

“Kita harus berani melihat yang paling buruk dan tidak menyenangkan sekalipun,” lanjutnya. Masih dengan sangat serius. Aroma kopi yang menguar sedap tak tampak mengendurkan air mukanya yang kencang. “Kalau mau hidup bahagia, ya harus berani mengunyah kenyataan. Termasuk memamah masa lalu yang nggak ngenakin dan memuakkan sekalipun.”

Saya tersenyum, lalu tertawa.

Dia tampak tak rela saya tertawa. “Kok lu malah ketawa…”

“Gue lagi mengunyah masa lalu yang paling pahit,” jawab saya terus tertawa.

“Sial…”

Ya, kemudian kami pun tertawa bersama. Itulah ritual yang paling indah bila kami bertemu. Berteman sudah puluhan tahun, membuat saya mengenalinya lebih banyak, demikian sebaliknya. Berteman dalam makna apa adanya. Mengunyah kepahitan bersama, menggenggam harapan bersama, menikmati mimpi bareng, dan menertawakan kegagalan sekeras-kerasnya.

Semua orang punya masa lalu. Soal suram, pahit, getir, pilu, atau sebaliknya beda-beda ukurannya. Karena kalau soal rasa pasti subyektif sekali. Ada orang yang pernah makan hanya dengan kerupuk dan sambel sudah merasa sangat menderita. Tapi orang lain yang makan dengan menu sama berulang kali dan berulang hari merasa bahagia. Kerupuk dan sambel bisa serasa menu hari raya buat yang sering tak bisa makan. Tapi menu itu bisa menjadi ukuran betapa menderitanya seseorang yang biasa makan dengan lauk lengkap di setiap jadwal makannya.

Mengadili rasa memang sulit, apalagi kalau tidak pernah sepaham, satu gelombang, dan satu definisi mengawali pembahasannya. Jadilah masa lalunya seolah paling suram, paling gelap, dan paling mengenaskan. Ukurannya adalah dirinya sendiri. Tapi kalau dibilang ‘lebay’ tidak terima. “Enak aja lu ngomong, lu nggak ngrasain sakitnya sih…”

Kemudian penyesalannya panjang sekali. Menyalah-nyalahkan. Bisa menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang-orang yang terlibat dalam masa lalunya atau menyalahkan dirinya sendiri. Memaki-maki dengan penuh dendam. Bahkan menganiaya diri sendiri, baik dengan sadar atau tidak disadari.

masa lalu small“Susah sih berdamai sama diri sendiri…” saya pernah mendengar teman lain bicara begitu. Sembarang saja saya menyahut, “Kalau sama diri sendiri nggak bisa damai, gimana bisa menikmati keindahan hidup!” Aishhhh… gaya banget saya dah! Tapi saya kan ngomong begitu karena hampir di setiap markas koramil ada tulisan besar di spanduk, DAMAI ITU INDAH. Artinya saya tidak asal ngomong kan. Ada dalilnya tuh.

Semua orang punya masa lalu. Banyak sekali. Tapi sering kali kita memilih satu atau dua masa lalu yang terus dikenang, lalu dikembangkan penuh dendam. Padahal banyak masa lalu yang membahagiakan. Menyenangkan, membanggakan, menggelikan, atau juga memalukan. Tapi ada yang fokus pada satu atau dua saja kisah kegagalan, cerita pengkhianatan, sakit hati, dan sejenis itu. “Masa lalu gue kelam! Gue suka berantem…” lha kan semua hidupmu di masa lalu tidak diisi dengan berantem semua. Ada makan enak, minum enak, piknik sama keluarga, atau study tour akhir tahun satu sekolahan. “Aku nggak mau jatuh cinta lagi, sakiiit… sakiitt!” Sakitnya dipikir dan dikenang sepanjang hayat. Saat hati berbunga, saat hati mekar, saat rasa berdesir bahagia tidak dikenang. Padahal sepaket, dalam satu masa, satu peristiwa, dan dengan tokoh yang sama.

“Gue dulu kalau ngopi mules, sekarang malah kecanduan,” kata teman saya setelah menyeruput kopi di cangkirnya.

“Gue dulu juga kecil, sekarang malah udah tua!” saya menjawab asal.

Begitulah, masa lalu itu tidak semuanya buruk, tidak pula semuanya menyenangkan.  Ada yang bilang, kita hari ini adalah cermin kita di masa lalu. Lamat-lamat senja menghampiri, suara kaset mengaji dari speaker masjid mengalun…  wal tandzur nafsum ma qoddamat lighod… diiring suara merdu menerjemahkan, “… dan hendaklah setiap diri memperhatikan yang telah diperbuatnya untuk hari esok…”

Mata kami saling mengirim kode. Kami beriring ke masjid menjemput azan. Sambil berjalan dia bilang, “Dulu gue nggak bisa sholat!” kemudian saya sahuti, “Dulu gue takut pelajaran agama, gue pernah sampai pipis di celana saking takutnya!”

Masa lalu adalah puncak kejenakaan bila kita mau menertawakannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s