FUN Institute, Fun Writing

Imajinasi, Berani Beda ala Hanna


“Pesawat terbangnya di makan ikan paus…”

Ups! Saya terkesima. Teman sekelasnya, Shifa dan Ghia pun saya lihat tampak terbelalak. Suasana kelas menulis hari minggu di Fun Institute riuh. Namun Hana, peserta termuda yang belum genap tujuh tahun itu terus mengelanakan imajinasinya. Tidak ada batas imajiner dalam kelas ini, semua sah, semua boleh, dan tidak ada yang salah. Asal tetap masuk akal, logis.

Di kelas menulis Fun Institute dikembangkan semua potensi ketrampilan berbahasa. Sehingga kelas tidak selalu dibayangkan, masuk kelas, menulis, menulis, dan menulis. Ada ruang untuk mengembangkan daya imajinasi dengan memaksimalkan daya simak, daya baca, dan daya cerita.

Menulis menjadi daya berikutnya.

11937898_10206993963545991_2012614090_nMaka tidak heran kalau kelas menulis Fun Institute selalu seru. Seperti halnya Hana bercerita tentang apa yang hendak ditulisnya. Petualangannya ke sebuah laut lepas, mempertemukan dengan paus dan kehidupan laut lainnya. Kisah tentang pesawat masuk mulut ikan paus tentu tidak tiba-tiba ada. Dia melintas dalam ingatan Hana, entah dari cerita orangtuanya menjelang tidur tentang cerita Nabi Yunus yang pernah hidup di perut ikan paus. Melalui buku yang dibacanya, melalui percakapan dengan teman, guru, atau dalam pengalaman interaktif lainnya.

Setiap anak punya cerita. Setiap mereka datang, mereka membawa cerita baru. Kewalahan bila kita mendengarkan semuanya. Keinginan untuk menceritakan pengalaman dan pengetahuan mereka secepat-cepatnya luar biasa. Sangat menggebu. Ya demikianlah anak-anak.

Apa yang ada di benaknya ingin segera ditumpahkan. Hingga para ibu bilang, “Hana kalau di jalan cerita nggak ada habisnya.” Tidak beda dengan Bunda Shifa, “Setiap pulang sekolah, dia ikuti bundanya, dari dapur, ke tempat makan, ke kamar, pokoknya kemanapun sambil terus bercerita.” Pun Ghia yang baru pulang dari Singapura, meski dengan bahasa Indonesia terbata, dia pun pencerita.

einstein1Di sini, peran para pembimbingnya untuk menjaga agar semangat bercerita itu tetap terjaga. Itu sebab, di Fun Institute tugas para mentor adalah menjaga spirit itu. Karena itulah modal yang sangat penting. Mereka datang dari jauh, ingin belajar, ingin menjadi penulis. Harapan itu harus dipelihara, dipupuk dan diurusi bersama.

Semangat itu api.

Itulah yang akan mematangkan semua masakan yang kita olah. Saya hanya menyediakan diri untuk menjadi penjaga api. Agar api mereka tidak terlalu besar, mudah membakar dan menjalar, malah tidak menjadi apa pun. Ludes, jadi abu saja. Tapi juga menjaga agar api tidak mati karena terlalu kecil. Redup, kehabisan bahan bakar. Untuk menjadi penjaga api, diperlukan kesabaran dan kesadaran bahwa apa yang saya lakukan adalah menjadi bagian mematangkan tanpa karbitan, terburu-buru, atau instan. Saya menemani proses tumbuh mereka secara alamiah.

Meski tampaknya main-main…

Walau tampaknya tidak serius. Karena saya bilang kepada orangtua mereka, konsep belajar di Fun Institute, ya belajar dengan asyik. Seperti bermain tapi belajar. Tampak tidak serius tapi seru terukur. Karena, menurut saya, hasil sebuah keseriusan tidak selalu yang tampak serius. Saya belajar dari para komedian, betapa seriusnya mereka menyiapkan segala sesuatu dengan daya, upaya, dan olah pikir yang kencang demi sebuah tawa penikmatnya.

Seorang teman berkata, “Tertawa adalah puncak bahagia.”

Artinya, kalau peserta kelas menulis seperti Hana, Shifa, dan Ghia terdengar tertawa. Insya Allah, mereka sedang berbahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s