Story & History

Tetangga Juga Melihat Rumput Halaman Kita


Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau dari rumput sendiri…

Pepatah ini sering sekali dikutip dan dijadikan pembenar beberapa argumentasi, kejadian, atau peristiwa. Terutama berkait dengan banding membandingkan. Semisal melihat lebih enak kehidupan orang lain dibanding kehidupan diri sendiri. Orang lain selalu tampak lebih baik, lebih bahagia, dan lebih beruntung dibanding yang kita alami.

Saya tidak tahu, apakah selalu rumput tetangga lebih hijau?

Bisa jadi tetangga tidak menanam rumput kan? Atau malah rumputnya tak terawat, merambat kemana-mana, berantakan, dan menciderai keindahan. Menjadi sarang serangga, menjadi tempat sembunyi binatang melata, atau malah jadi area berbahaya.

“Kan itu pepatah Mas, pengandaian, perumpamaan…”

Iya, tapi ingat juga tetangga kita juga manusia. Punya pengetahuan yang sama tentang pepatah ini. Pasti dia juga melihat rumput di halaman kita juga. Bisa jadi sama seperti lainnya, sama seperti kita yang melihat rumput lebih hijau di rumahnya. Dia juga melihat rumput di halaman rumah kita lebih hijau dari miliknya.

Sebenarnya ini masalah sudut pandang. Dalam dunia menulis sering disebut point of view. Ada sudut pandang orang pertama atau akuan, pelaku sekaligus tokoh pentingnya. Ada sudut pandang diaan, orang ketiga, yang membuat pandangan dan perspektif lebih lapang kendalinya. Dalam realitas sehari-hari, ya tidak jauh beda. Sayangnya, kita sering terjebak untuk keukeuh tidak bergeser dari sudut pandang yang dianggap paling nyaman.

Misal, enak ya dia kerja di luar negeri.

Di mana saja, kerja pasti tidak enak. Ada aturannya, ada targetnya, ada bosnya, ada sikut-sikutannya, kompetitornya banyak. Namanya juga kerja, kecuali ada pekerjaan yang seperti diucapkan Kang Emil, Walikota Bandung, “Pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar.” Tapi kan tidak semua orang seberuntung itu, bisa mendapatkan hal itu, atau lebih tinggi levelnya, bisa menciptakan kondisi itu.

Misal kerja di Singapura. “Enak ya bisa mandi air singa muntah tiap hari.” Atau, “Bisa ke Universal Studio semaunya.” Banyak lagi yang bisa dipandang enak. Padahal buat yang kerja di sana, akan bilang…

“Kerja di Indonesia itu paling enak!”

“Kok bisa? Jakarta macet, lalu lintas semrawut, politik gaduh… bla, bla, bla…”

“Tapi kan bisa fesbukan di jam kerja, twiteran di kantor, bisa tiduran habis makan siang… di sini mana bisa! Lengah sedikit, tidak disiplin, tidak profesional, hasil kerja buruk kudu siap dipecat. Nggak becus, wasalam…”

Nah lho…

Jangan dikira tetangga tidak melihat rumput rumah kita juga. Bisa jadi kalau mentalnya fragile, rapuh, gampang patah hati eh patah semangat, dikeluarkan jurus pepatah lainnya. “Hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari pada hujan emas di negeri orang.” Aiiih, segitunya. Emang sih, batu (akik) lagi naik harganya, dan emas beberapa kali turun nilainya. Saya juga bisa bilang, ah, itu kan pepatah Om, perumpamaan! Hujan batu ya batu saja, ketiban benjol! Saya sih pilih hujan emas, waktu hujan saya neduh dulu sambil ngopi. Kalau sudah reda baru saya mungutin. Hehe…

Sekali lagi ini soal sudut pandang. Sekali waktu, ya naiklah ke pohon atau atas genteng. Agar sudut pandang kita lebih luas. Sekali waktu menyelamlah di empang lele, kalau tidak kesampaian ikut diving karena takut dimakan paus. Tidak elok menasbihkan diri jadi yang paling baik apalagi yang paling benar. Banyak orang hanya berempati, sekadar turut dan memperturutkan, seolah paling simpati, berderai-derai, mengurai-uraikan air mata. Tapi hanya simpati, bungkusnya saja. Belum sampai tindakan yang empatif. Setingkat lebih cepat, beberapa langkah lebih dulu. Tanpa bicara, tanpa banyak ngomong, langsung dieksekusi.

Saya bingung nulis apa ini…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s