Story & History

Pesan Terakhir di Mimbar Khutbah


Bang Nape1            Sebenarnya saya berat hati menulisnya…

Saya telah menganggapnya sebagai orangtua, guru, sekaligus mentor hidup. Saat itu saya dan mendiang ibu baru saja berhijrah atau pindah tempat tinggal. Semula saya setengah hati, karena tempat tinggal baru kami terasa jauh dari mana-mana. Namun, ibu saya merasa, di tempat inilah dia menemukan tempat yang memberikan banyak hal yang diinginkan. Termasuk, cita-citanya punya rumah dekat dengan masjid.

Walhasil, jadilah saya bergaul dengan orang-orang masjid. Salah satunya, tak perlulah saya sebut namanya. Adalah seorang pensiunan yang kebetulan juga memegang amanat ketua erwe. Dari beliau, saya menjadi anak muda yang belajar banyak. Apalagi saya sepantaran dengan anaknya, kuliah juga di kampus yang sama.

Kemampuan manajemennya baik sekali. Termasuk kepiawaiannya mengorganisasi. Beruntung saya mendapat kesempatan belajar dari beliau. Orangnya tawadhu, sederhana, dan menjadi imam masjid yang bacaannya enak sekali. Bersama beliau, saya dilibatkan banyak sekali kegiatan.

Saya ingat, dipinjami mesin ketik ‘brother’. Awalnya saya diminta membantu mengetik laporan atau berbagai jenis surat menyurat. Saya diperbolehkan untuk menggunakan mesin tik itu untuk mengetik lainnya. Itulah awal saya menulis. Mengirimnya untuk berbagai media. Dan satu persatu tulisan saya mulai dimuat, mendapat honor, dan saya sampaikan terima kasih sekali kepada beliau. “Pakai saja,” katanya.  Subhanallah…

Beliau menjadi salah satu bagian penting dalam awal mula saya menulis. Sampai akhirnya saya dibelikan komputer sebagai hadiah ulang tahun oleh ibu. Sebuah jalan berikut yang membuat saya semakin bersemangat menulis. Bukan karena honor dari menulisnya, tapi karena saya senang menulis.

Hingga hari yang mengharukan itu tiba…

Saat beliau sedang berkhutbah di podium. Masjid penuh, jamaah shalat jumat padat. Beliau berkhutbah seperti biasanya. Temanya sederhana, sangat dekat dengan keseharian jamaah. Intinya, beliau ingin bahwa semua muslim, terutama warga di sekitar masjid senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang bertentangan dengan aturan agama. Sering sekali beliau menekankan pentingnya saling hormat menghormati dalam bertetangga dan bermasyarakat. Mungkin ini berkaitan dengan amanatnya sebagai pemangku lingkungan.

Di tengah khutbah, saya menyimak, sesekali bertatap mata. Ketika beliau mengutip sebuah hadits, saya merasa beliau menatap saya.

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebutir kesombongan, karena kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Oleh sebab itu, jangan sombong….”

ojo_rumongso_biso_by_astayoga-d858nfvTatapan matanya seperti menuju saya. Ucapan itu seperti pesan buat saya. Seperti khusus ditujukan semata untuk saya. Dan… setelah mengucapkan kalimat itu. Dalam hitungan detik, beliau ambruk di podium. Jamaah di shaf terdepan bergegas menolongnya, menggotong, dan merebahkannya. Beberapa orang berusaha memberikan pertolongan pertama. Ternyata… Allah menjemput hamba terbaiknya dengan cara yang luar biasa.

Malaikat Izroil diutus menjemput beliau di tempat yang paling dicintainya. Di masjid yang menjadi tempatnya siang malam menunaikan shalat lima waktu. Tempat terbaik, saat menyampaikan risalah Rasulullah, menyampaikan pesan mulia, “Jangan sombong…” Itu kalimat terakhirnya yang terdengar lantang. Sebelum hening sesaat, yang kemudian menjadi sebuah duka. Beliau meninggalkan bukan hanya keluarganya, tapi juga jamaahnya. Termasuk saya…

Banyak sekali pesan beliau. Namun pesan terakhir di tengah khutbah itu begitu menghunjam. Membuat saya senantiasa berhati-hati. Terlalu banyak jebakan menuju kesombongan. Jalan menuju keangkuhan sangatlah licin. Kita bisa meluncur bebas dengan keriaan, keceriaan, dan gegap gempita seperti anak kecil bermain di papan selucur. Tanpa sadar berlaku sombong dan angkuh dengan sangat bahagia.

Entahlah, sepulang dari masjid tadi, memandangi mimbar podium dari kayu jati beberapa kali. Terlibat pembicaraan dalam lingkaran orang-orang masjid. Mendadak saya teringat sosok itu. Pesan di khutbah terakhirnya mengiang-ngiang. Jangan-jangan ini sinyal kalau saya sudah menjejak jalanan keangkuhan, jangan-jangan saya telah masuk dalam lorong kesombongan. Mungkinkah saya sudah terperangkap dalam ‘rasa lebih’ dari yang lain. Sungguh saya tidak punya alasan apa pun untuk menyombongkan diri. Tidak ada alasan walau hanya hanya menaikkan satu mili rasa lebih dari yang lain…

“Sing bisa rumangsa, aja rumangsa bisa…” itu pesan simbah saya, jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa. Walaupun bisa, tetaplah berendah hati untuk bisa menjaga perasaan orang lain, tidak merasa lebih tinggi, lebih baik, dan lebih mulia dari orang lain. Intinya, hidup bersama, berinteraksi dengan sesama, berlakulah hati-hati…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s