Story & History

Sebaik-baik Prasangka adalah…


Bang Nape1           “Ngopi yuk ke rumah, udah lama nih nggak ngobrol kita…”

Seseorang mengajak saya mampir ke rumahnya selepas taraweh. Tawaran yang menarik. Karena sepanjang puasa ini, konsumsi mengopi saya menurun drastis. Tentu saja ini tawaran yang tak boleh dilewatkan. Apalagi sang pengajak ini, memiliki koleksi kopi yang komplit. “Biasa, kiriman anak-anak…” maksudnya anak-anak itu mantan anak buahnya ketika dia belum pensiun.

Ternyata, tidak hanya kopi yang dihidangkan ke meja yang berada di beranda rumah. Samping garasi yang kini tampak lapang, mungkin karena tidak ada mobil terparkir di situ. Sepiring kue, mungkin belum sempat dimakan setelah buka tadi, atau sudah kekenyangan sebelum taraweh, ikut dihidangkan. Inilah rezeki silaturahmi.

Seperti biasa, walaupun kalah umur saya suasana pembicaraan selalu susul-menyusul dengan derai tawa. “Saya demen nih, udah lama nggak ketawa-ketiwi begini.” Dia menyebut saya sekarang sombong, tidak mau main lagi. Dia menyangka saya sekarang sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk menjenguk dirinya. Dia juga mendakwa saya sekarang sudah ini, itu, bla, bla, bla… Sehingga dia merasa sulit benar sekadar ingin bertemu saya.

“Aih, saya mah apa atuh…” jawab saya menepis semua prasangka dan tuduhannya. Tentu semua dalam konteks bercanda. Saya terbiasa bercanda dengan beliau, ya walaupun kalah usia, hehe.

“Saya lagi ngedrop nih…” tiba-tiba suaranya melirih.

“Sakit?” tanya saya.

“Sakit semuanya,”

“Maksudnya?”

Dia cerita belum lama pulang dari rumah sakit. Duh, saya menyesal sekali tidak pernah mendengar kabar dia sakit. Tidak bisa menjenguk atau sekadar mendoakan kesembuhannya, sampai dia sudah di rumah lagi.

“Cobaan saya lagi berat, Fan…”

Kemudian mengalir cerita. Ya, berat. Mungkin cobaan, mungkin ujian, mungkin juga yang lain. Kadang kala, saking cintanya Allah sama makhluk-Nya, semua diberikan dalam satu paket. Ekonomi yang sulit sepaket dengan kesehatan yang buruk serta masalah keluarga lainnya yang tak kalah pelik. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Saya juga pernah. Ya pasti sangat berat.

Saya tidak bisa bilang apa-apa, kecuali mengingatkan kembali omongan ustadz yang tadi ceramah sebelum taraweh. Katanya, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.” Tahu sendiri pengetahuan agama saya cethek, dangkal. Mana berani saya sok menyitir ayat atau sok shaleh dengan mendalil. Ah, bukan saya banget…

Pembicaraan malam itu agak dalam, walaupun sempat kemana-mana, tapi fokusnya tentang mencari sikap atas realitas yang sedang terjadi. Saya tidak mendebat, hanya memakna dengan sesederhana mungkin yang saya bisa. Saya bisa jadi sudah gila kalau harus keukeuh bahwa cobaan atau ujian yang menimpa saya waktu itu sangat berat. Semuanya jalan bersama. Saya hanya berprasangka baik dengan semua yang terjadi. Pasti Allah sertakan hikmah dalam setiap kejadian.

Kalau saja tidak ada kejadian itu, saya yakin akan terjadi hal yang lebih buruk dan mungkin tidak bisa saya kendalikan.
“Bisa jadi sedang dilakukan pemutihan, Allah lagi bebersih, biar kebahagiaan dan keberkahan lebih lapang tempatnya di rumah ini.” Ujar saya sok tahu. Semua terjadi pada bulan Ramadhan, bulan suci, bulan yang penuh keberkahan. Bisa jadi kan, Allah sedang bebersih rumah, harta, dan penyakit kita. “Khusnuzon lah, Pak.”

Lama dia terdiam.

“Mungkin juga, Fan…”

“Kalau semua itu hadiah, mungkin juga kan? Siapa tahu bakal diganti dengan yang lebih baik. Kesehatan yang lebih baik, kondisi ekonomi yang semakin baik, ibadah juga semakin baik.” Mendadak saya sadar. Saya sudah terlalu banyak bicara. “Udah ah, nanti saya jadi sok tahu, dikira sok alim pula.”

Kadangkala, berprasangka baik itu berat. Lupa, kalau banyak hal masih bisa disyukuri, dinikmati, dan dihayati. Lebih mudah berburuk sangka, nyinyir, dan berlebihan alias lebay. Konon prasangka itu karena dua hal, karena niatnya dan sebab pengetahuan yang dimilikinya. Seberapa sering prasangka buruk yang dilakukan, sesering itu pula keburukan akan datang kepada yang bersangkutan. Apalagi berprasangka buruk kepada sang Maha Cinta, zat yang kasih sayangnya yang pernah menghilang meskipun ucapan setajam pedang.

“Kopinya enak nih…” kata saya setelah seruputan terakhir. Dia tersenyum, berdiri dan meninggalkan saya. Lalu kembali dengan sebungkus kopi. “Bawa pulang, buat teman ngetik, saya sudah harus ngurangin kopi,” katanya. “Ada hikmahnya, tenang aja… Bapak jadi sedekah kopi kan sama saya.” Saya merasa, perpisahan malam itu dibingkai dalam kesenangan. Ada tawa yang mungkin sudah lama dirindukannya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s