FUN Institute

Hargamu, Seberapa Besar Cara Menghargaimu


Bang Nape1         “Selamat ya, semoga bukunya laris dan berkah…”

Itu yang akan saya ucapkan pertama kali kalau seorang teman mengabari bahwa bukunya telah terbit. Semoga laris, karena saya tahu persis, penulis sangat berurusan dengan kelarisan buku. Hitungan royalti mereka sangat berhubungan dengan jumlah penjualan bukunya. Jadi, saya harus mendoakan agar laris. Walaupun doa adalah selemah-lemahnya pertolongan. Setelah itu, saya akan membelinya. Nah, ini bentuk apresiasi saya lainnya. Setelah itu saya akan meresensinya, diminta atau tanpa diminta.

Kalau kebetulan dekat, saya akan menawarkan untuk bedah buku, diskusi dan sebagainya. Fun Institute akan mengagendakannya. Bila perlu menjadi satu rangkaian acara dengan agenda lainnya. Sekalian dengan acara kumpul teman-teman. Tujuannya tentu saja mengapresiasi.

Setiap karya akan mempunyai nilai sendiri. Bagus atau tidak tergantung perspektif yang kadang subjektif. Ada karya bagus, tapi karena ada tendensi tertentu, maka dia bisa berubah nilai, bisa menjadi tidak bagus, setengah bagus setengahnya jelek, atau malah karya yang buruk. Tidak apa. Itu hak setiap orang menilai.

fajar sentuhan
“Sentuhan” karya  Fajar Fadjri dari Balikpapan, beneran menyentuh…

Penilaian kan juga punya tata nilai. Keadaban, etika, estetika, dan beberapa elemen lain. Nah, penilaian objektif akan muncul dengan penuh kejernihan dan keseimbangan, bersifat independen, kritis. Tentu karena latar belakang penilainya memiliki kompetensi yang cukup, memiliki dasar ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan.

Satu hal, saya tidak pernah yakin, ada seorang penulis membuat karya yang buruk. Saya tahu persis, menulis itu proses yang luar biasa melelahkan. Tidak hanya sekadar duduk di depan komputer atau laptop, lalu menulis. Mengetik, tak, tik, tak, tik, selesai. Tidak sesederhana itu. Menulis itu penuh peluh, seperti pekerjaan lainnya. Ada proses dan kegiatan yang panjang sebelum seseorang melihat dia duduk mengetik.

Mungkin ada yang melihatnya cepat sekali orang menulis. Tapi dia tidak tahu, sebelumnya dia ‘berpuasa’ panjang dengan melahap banyak sekali buku, majalah, koran, atau referensi lainnya. Berburu informasi dari berbagai sumber, mendatangi tempat-tempat penting untuk memperkuat settingnya, dll. Lihat koleksi bukunya di rumah, periksa juga kartu perpustakaan di dompetnya.

Ada penulis yang melakukan riset kecil, karena memang kebutuhan informasi untuk tulisannya tidak terlalu banyak. Tapi ada juga penulis yang melakukan riset panjang, bukan hanya sebulan, dua bulan saja. Tahunan. Ada yang lima tahun riset, menelusuri semua jejak informasi yang dibutuhkan, berbiaya jutaan. Begitulah yang terjadi. Jadi saya tidak pernah yakin ada penulis yang membuat karya yang jelek.

Saya sering bilang sama teman-teman, “Mereka yang sekarang bagus, atau merasa bagus tulisannya, juga pernah menulis jelek. Lanjut…”

Tugas saya bukan menilai, tapi mengapresiasi.

screening film pendek Sehingga saya senang saja ketika seorang teman mengabarkan bukunya terbit, tulisannya dimuat di media, atau film pendeknya selesai dan mau ikut festival. Sebulan ini saya menerima buku dari teman di Balikpapan, Fajar Fadjri. Pegawai negeri yang penuh dedikasi, tapi masih antusias menulis. Buku kumpulan cerpennya, “Sentuhan” terbitan Penerbit Koekoesan. Menarik, karena saya semakin meyakinkan saya, siapa pun bisa menulis dan ide menarik berhamburan di sekitar kita. Tinggal eksplorasinya. “Sentuhan” adalah karya kesekian dari PNS berprestasi ini. Dan dia masih terus menulis tentang dunianya.

Selanjutnya, teman saya lainnya… Ali Musafa dan teman-temanya sedang bergairah membuat film pendek. Saya mengapresiasi dengan memberikan ruang untuk  bedah film. Di Fun Institute, sekalian acara buka bersama hari Minggu lalu (5/7), Ali memutar beberapa film pendeknya. Hadir teman-teman lainnya, ada penulis script sinetron stripping yang ribuan episode. Ada juga praktisi film pendek dari Yayasan Nurani Dunia, ada mantan kameramen sekaligus VJ program ‘Si Bolang’.

Walhasil, ada banyak ilmu baru bertebaran dalam sebuah ‘apresiasi’ karya. Sesederhana apa pun karya itu. Sejelek apa pun kata orang yang ‘merasa’ mempunyai kedudukan di tataran dewa dan ‘merasa’ punya otoritas menjelekkan karya orang lain di luar genk-nya. Hal terpenting dalam mengapresiasi adalah memberi penghargaan atas apa yang dilakukan orang lain. Selanjutnya memberi semangat untuk terus berkarya…

Selamat berpuasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s