Story & History

Baju Orang Lain dan Melewatkan Kebahagiaan


Bang Nape1Selepas taraweh seseorang menelepon, “Bisa nggak ke sini, Taufan senggang nggak, Om pengen ketemu nih.” Begitu saja, tapi segera saya iyakan. Orang kayak saya itu kan waktunya senggang terus. Mau disebut sibuk malah norak, mau disebut sok sibuk kok ya nggak pantas. Manusia model seperti saya memang pantesnya tidak boleh sibuk, tidak usah sok sibuk, apalagi sok banyak kerjaan dan kegiatan. “Nggak pantes!”

Saya bergegas, ternyata sang penelepon tadi sudah menunggu. Saya dibukakan pintu, beriring jalan masuk ke rumah dan dipersilakan duduk di ruang tamu. Rumah yang bagus, minimalis, tapi sepi.

Lelaki tua, mungkin kalau mendiang ayah saya masih hidup seusia beliau. Itulah alasan saya bergegas langkah mengiyakan dan memenuhi permintaannya. Dia orang tua dan saya ‘tuakan’. Sepanjang langkah saya menuju rumah itu, dalam pikiran saya hanya satu. “Saya akan dapat banyak pelajaran berharga.”

Mengapa begitu, orang tua ini hafalan Al-Quran-nya banyak. Imam di masjid komplek saya. Spirit dakwahnya tinggi. Bicaralah, apa pun itu, akan dikeluarkan hubungan sebab akibat hingga solusinya. Akan dikutipkan banyak ayat Al-Quran untuk meyakinkannya. Bahwa semua yang terjadi di seluruh bumi dan alam semesta ini,

Namun malam itu, pembicaraan jauh sekali dari yang saya bayangkan.

Pembicaraan tentang hal yang privat. Seperti biasa, saya pun menyediakan diri dan menempatkan diri sebagaimana biasanya. Melebarkan telinga, membuka penampungan seluas-luasnya. Saya selalu yakin, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah ada jalan ceritanya. Tidak semua bisa dilogikakan. Bisa jadi malah dangkal. Karena memang kita itu dangkal, cuma bergaya sok pintar.

Teringatlah saya tentang pelajaran bentuk waktu belajar matematika. Belajar tentang kubus, segitiga, segi empat, belah ketupat hingga piramida. Menyambung keteringatan saya dengan pelajaran lainnya, tentang piramida Maslow. Tentang hirarki kebutuhan manusia. Dari kebutuhan paling mendasar hingga kebutuhan aktualisasi diri di puncaknya. Eh, waktu belajar jurnalistik, diketemukan juga dengan piramida terbalik.

Jadi saya mengambil kesimpulan sederhana dari perjumpaan dan pembicaraan yang panjang malam itu. Semakin menuju puncak piramida, hidup kita semakin sepi. Teman sebaya semakin sedikit. Mendiang Simbah saya setiap kali dijenguk selalu bilang, walaupun sudah berulangkali diucapkan. Menyebut teman-temannya yang semakin sedikit. Ada yang sudah meninggal, baru saja meninggal, sakit, dan penuh kerepotan di masa tuanya. “Simbah sudah nggak punya teman, wis repot kabeh…”

Keadaan simbah saya, menginspirasi saya untuk bersedia menyediakan telinga. Duduk manis mendengarkan cerita, walau berulang. “Anak muda sekarang sibuk, nggak mau dengerin orangtua ngomong.” Sebuah ungkapan kecewa sekaligus kegelisahan. Itu sebab saya yang tidak mempunyai kesibukan apa pun, sebisa mungkin menyediakan diri untuk menjadi ‘teman’. Tanpa harus memandang umur, karena kesepian, kesunyian, kesendirian, kegalauan, dan kegelisahan itu  bisa menimpa siapa saja.

“Kenapa sih Mas, mau-maunya buang waktu untuk dengerin orang ngomong…” seseorang pernah bertanya pada saya. Saya jawab, pertama saya tidak membuang waktu, saya sedang belajar. Apa pun yang menjadi pembicaraan itu pasti ada manfaat, faedah, ilmu baru, dengan berbagai olahan perenungannya. Kedua saya sedang memaksimalkan pendengaran. Saya sedang mengumpulkan banyak cerita, pengalaman, atau ungkapan yang penuh rasa dan melintas waktu. Melengkapi hal-hal lain yang saya ketahui dari buku, koran, majalah atau referensi lainnya.

Menjadi eksklusif memang pilihan. Manusia itu merdeka, boleh memilih menjadi apa saja. Tidak ada hak orang lain untuk melarang-larang atau menghambatnya. Satu-satunya yang bisa menghentikan atau mengaturnya adalah kesepakatan bersama, konvensi hidup bersama, dari tingkatan etika hingga perundang-undangan.

Banyak yang saya perbincangkan. Walau saya sebenarnya lebih banyak mendengar malam itu. Tapi satu hal penting saya bawa pulang, hidup haruslah jadi diri sendiri. Memakai pakaian dengan ukuran kita sendiri. Hidup dengan persepsi orang lain, melahirkan banyak gengsi yang menjeruji diri sendiri. Menghilangkan kemerdekaan, menyempitkan ruang gerak.

“Terlalu banyak kebahagiaan yang kita lewatkan kalau harus menari dengan iringan gendang orang…”

Iklan

2 tanggapan untuk “Baju Orang Lain dan Melewatkan Kebahagiaan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s