Ibu, Story & History

Bercanda sama Mertua, Kenapa Nggak?


ibu-bundar-emas           “Mantu itu ya anak, bedanya cuma Ibu nggak nglairin aja…”

Itu kalimat mendiang ibu saya jauh sebelum saya menikah. Ceritanya saya ingin tahu saja, dimana kedudukan menantu dalam diri ibu saya. Kan sudah biasa kalau cerita tentang hubungan menantu mertua itu momok jelek. Tidak bisa harmoni, banyak cerita tidak mengenakan. Karena saya ingin sekali memberikan menantu terbaik untuk ibu saya, maka saya pun bergerilya mencari tahu, apa dan bagaimana mantu yang baik itu menurut beliau. Biasa saja diskusinya, santai, sambil kulineran.

Seseorang menyarankan kepada saya, “Sebaiknya nanti istrimu orang Jawa, Fan.” Saya tersenyum. Ada yang memberi saran lain, ini, itu, bla, bla, bla… Saya terima semua. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Mereka, peduli pada saya. Tanpa kepedulian, mustahil mereka mau buang waktu menyarankan segala kebaikan itu, dengan masing-masing versi, perspektif dan sudut pandangnya.

Menjelang nikah, saya hanya mengajukan satu hal, bukan syarat lho ya, kepada calon istri saya. Menurut saya penting sekali. “Ibu saya anaknya cuma satu, kalau anaknya banyak, dia bisa berpaling, berpindah hati, atau lari ke menantu lainnya. Saya hanya ingin, kamu bisa menjadi menantu yang baik untuk ibuku, menjadi anak perempuan yang baik untuk ibuku. Aku yakin, kamu bisa…”

ibu dan eraCalon istri saya tahu, ibu saya pintar memasak. Multitasking, aktif mengikuti banyak kegiatan kadang malah menjadi inisiatornya, temannya banyak. “Saya nggak bisa masak, gimana?” Wajar sekali dia khawatir. Saya hanya bilang, belajar. “Belajar sama ibu.” Belajar itu adalah menyediakan diri dengan kesadaran dan kerendahan hati untuk menerima apa dan sesuatu yang baru, mungkin baru, atau mungkin malah kita sudah tahu dari orang lain.

Benar saja, waktu terus berjalan…

Hingga suatu ketika, hampir semua kegiatan ibu turut melibatkan istri. Ibu saya memperlakukan istri saya benar seperti anak perempuannya. Diajarinya memasak, diajak bicara tentang anak lelakinya yang kini menjadi suaminya. Apa makanan kesukaannya, bagaimana memasaknya, dll. Ada transformasi yang pelan tapi pasti. Saya turut membantu agar semuanya rileks. Saya melihat, istri saya juga rileks…

Dari dapur ke meja makan. Di meja makan komunikasi bukan hanya verbal dan formal, tiada jarak, tiada sekat.

Transisi itu berjalan dengan baik, setidaknya tidak terlalu banyak riak. Satu kuncinya, saya harus berperan untuk menjadi jembatan keduanya. Mana ada seorang ibu rela menyerahkan begitu saja kepada orang lain untuk mengurusi anaknya yang sangat disayangi. Dalam persepsi lain, mana ada ibu yang rela anaknya ‘diambil’ orang lain. Mungkin itu salah satu sebab, kadangkala transisi hubungan ‘mertua dan menantu’ tidak begitu mulus.

Bahwa ada kekhawatiran, “Apa iya, istrinya bisa mengurusi anakku sebaik aku.” Sangat mungkin terjadi. Atau sekadar rasa sedih, “Jangan-jangan nanti anakku lebih sayang istrinya daripada aku.” Juga sangat mungkin terjadi. Jadi, salah satu cara terbaik ya saya berusaha melakukan keseimbangan, tidak mengubah diri menjadi orang lain, tetap menjadi anaknya yang dulu. Tapi perlahan, saya bawa serta istri dalam setiap waktu dan kesempatan bersama ibu.

Saya bilang sama istri, “Saya tidak punya siapa-siapa lagi kecuali ibu. Sekarang dia juga ibumu. Aku sangat berharap, frekuensi aku dan kamu menyayangi ibu sama… Aku yakin, kamu tahu persis bagaimana keutamaan memuliakan ibu.”

Yah, alhamdulillah…

Semua berjalan baik-baik saja. Belakangan malah waktu istri saya dengan ibu lebih banyak. Dia  benar-benar menjadi anak perempuan ibu saya. Boleh ditanya kepada yang bersangkutan, kasih sayang dan perhatian ibu kepada istri saya tidak beda dengan memperlakukan saya. Menemani belanja, menemani jalan-jalan, menemani ke mana saja ibu pergi, menjadi teman ngobrol, menjadi partner memasak, menjadi bagian semua apa yang ibu lakukan tanpa dia harus kehilangan apa pun. Tetap menjadi dirinya sendiri.

Hari ini ibu saya ulang tahun, kalau masih hidup beliau berusia 72 tahun. Lahir 3 Juli 1943. Terlalu banyak yang bisa diteladani. Buat saya dan istri, ibu adalah teladan yang mulia, tak terkejar kebaikannya, dan membuka banyak pintu kebahagiaan. Dalam segala kenangannya, doa terbaik untuknya…

Iklan

2 tanggapan untuk “Bercanda sama Mertua, Kenapa Nggak?”

  1. Hm… gimana caranya mengambil hati mertua, Mbak Era? Dulu aku gagal mengambil hati calon mertua. Hiks. Semoga saat kelak menjadi istri beneran, bisa akur ya sama mertua. Aamiin… 🙂

    1. biasa saja, berjalan sebagaimana mestinya… yang jelas rumusnya, “Sayangi dan hormati orangtua…” menahan diri untuk tidak merasa lebih pintar, sok tahu, apalagi merasa ‘pemilik tunggal’ suaminya. Karena, walaupun sudah jadi suami atau istri, kedudukannya tetap tidak berubah, tetap anak bagi orang tuanya… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s