Story & History, Sudut Pandang

Bolehkah Kubuang Sampah di Halamanmu?


Bang Nape1Seseorang dari kerumunan hadirin berdiri dan meraih mikrofon, “Kalau ada kandidat yang bisa menangani tumpukan yang menggunung dalam tempo singkat, saya akan memilih Anda… itu saja.” Kemudian mikrofon diberikan kembali kepada moderator acara bedah visi misi kandidat erwe.

Satu per satu dari tujuh kandidat diberikan kesempatan menjawab. Macam-macam jawaban. Satu kandidat, paling muda menjawab tenang, “Sesuatu yang luar biasa, harus ditangani dengan cara yang luar biasa juga. Tidak bisa dengan cara konvensional, biasa-biasa saja, prosedural, dan birokratis. Harus ada terobosan… kerja cepat, cerdas, dan efektif. Insya Allah, sehari selesai…”

Apa enaknya, punya tempat tinggal yang sepanjang jalan masuknya menjadi tempat buang sampah orang-orang tak berotak. Tidak berotak, pilihan diksi yang lebih ramah dari pilihan diksi kekesalan dan kemarahan lainnya.

Saya tinggal di komplek perumahan paling mula di kawasan ini. Menyusul kemudian pemukiman baru. Lebih luas, lebih banyak penghuninya. Dengan kasat mata, bisa terukur siapa pemiliknya. Setidaknya berpenghasilan cukup baik, karena uang muka dan cicilannya lumayan mahal. Pendidikannya rata-rata setingkat sarjana, pendidikan tinggi. Lulusan universitas, tempat orang-orang belajar dengan sebutan ‘maha’. Maha itu paling, tertinggi.

Namun apa yang terjadi…

kerjabaktiBeberapa di antara mereka ternyata tak punya derajat ketinggian itu. Dengan mudahnya, limbah rumah, dilempar dengan entengnya sembari mengendarai sepeda motor atau mobil. Tempat itu bukan tempat sampah, tanah orang yang belum dibangun. Pinggir jalan yang ribuan orang lewat lalu lalang setiap detik, menit, dan jam. Termasuk para pembuang sampah itu, keluarganya, bisa istrinya, anaknya, mungkin juga orangtua atau mertuanya. Mereka pasti merasakan juga aroma busuknya.

Kekesalan warga komplek saya sempat meninggi. Sebuah spanduk berbunyi, “Yang buang sampah di sini binatang” dengan gambar monyet besar di samping tulisan. Tetap saja tidak mempan, masih saja ada yang membuang sampah di sekitar spanduk. Jadi, apa betul mereka itu binatang? Atau memang monyet, seperti gambar di spanduk itu.

Petugas keamanan pun ditambahi tugas khusus, memergoki para pembuang sampah sembarangan itu. Satu dua sempat tertangkap, suruh ambil lagi sampahnya dan bawa pulang. Ada yang berdalih, “Itu masih ada sampah?” Ada yang sok berargumen, tapi sebenarnya itu bagian dari mental bajaj dalam dirinya. Ngeles…

Saya juga pernah memergoki, seorang ibu yang memboncengkan anaknya yang masih balita. Membuang sampah dengan entengnya. Saya hentikan motor persis di depan motornya. “Ibu kok ngajari anaknya buang sampah sembarangan,” cetus saya. “Ibu baca kan tulisan itu?” saya tunjuk spanduk gambar monyet. Dia tetap merasa tak bersalah. Tapi saya paksa untuk mengambil lagi sampahnya.

“Boleh nggak saya buang sampah di depan rumah ibu?”

Suatu hari kelak, kalau tiba-tiba anakmu membuang sampah di halaman rumahmu. Tak boleh kalian marah karenanya. Karena ibunya, orangtuanya, yang telah memberikan keteladanan itu sejak dia kecil. Kalau kelak, tetanggamu baik yang dekat atau pun yang jauh menimbun sampah di dekat rumahmu. Jangan pula menggerutu, karena demikian itu kelakuan yang kamu lakukan dulu.

Hidup itu bukan menang-menangan dan enaknya sendiri. Ada orang lain… Orang lain itu bisa jadi tetanggamu, bisa jadi kelak menjadi orang paling penting dalam hidup yang masih panjang ini. Tidak pernah ada yang tahu, seperti apa kehidupan di masa depan. Yang membenci bisa jatuh cinta setengah mati. Yang sepertinya sayang begitu kepayang akan menjadi musuh yang panjang. Kita tidak pernah tahu…

Mari saling menenggang. Bisa jadi beban hidup itu terasa berat, karena terlalu sering tanpa sadar kita membebani orang lain. Apalagi kalau orang-orang ikhlas membuang beban yang terus dilakukan berulang-ulang. Orang yang kerja bakti membuang sampah menumpuk itu, bisa jadi umpatannya memantul kembali ke haribaan pelaku pembuang sampah. Menempel menutupi pori-pori rezeki. Keringat, haus dan lelahnya menjadi saksi semua transaksi doa dengan Tuhan. Wallahu’alam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s