Story & History

Kutemukan Kau di Sini…


Bang Nape1Yang hilang akan ketemu, yang pergi akan kembali.

Sudah berapa kali kita betul-betul merasa kehilangan? Kelihangan bukan semata benda, berujud material, tapi kehilangan bisa juga teman, saudara, orang-orang yang kita cintai. Termasuk kehilangan waktu dan momentum yang sangat berharga. Kemudian, siapa saja yang telah pergi dari kita, sahabat, teman, tetangga, kekasih…

Kejadian yang paling membuat saya sangat kehilangan adalah tatkala ibunda saya kembali keharibaan Allah, 24 Februari 2011. Empat tahun silam. Ibu saya single parent yang kuat dan gigih. Hidup hanya berdua dengan saya sebagai anak tunggalnya. Puluhan tahun, melewati hari-hari, dari yang sangat pahit hingga berangsur membaik. Saya sangat kehilangan.

Beberapa waktu saya memutuskan beberapa hal yang mungkin tidak masuk akal buat orang lain. “Saya tidak akan pergi jauh!” Ya, saya memilih untuk tetap di Jakarta, dengan segala jungkir baliknya mengelola banyak beban. Walhasil, perlahan tapi pasti, saya kembali menemukan kembali diri saya. Satu hal yang mengembalikan itu semua, ya pesan-pesan mendiang ibu saya.

“Jadilah manfaat bagi orang lain…”

Itu salah satunya. Makanya selepas ibunda saya pergi, perlahan saya membuka rumah saya untuk siapa pun yang ingin belajar menulis. Karena kala itu satu-satunya yang bisa saya bagikan kepada orang lain adalah ‘sedikit pengalaman’ menulis dan keterlibatan saya di dunia literasi. Alhamdulillah, satu persatu orang datang belajar. Saya tidak mengajari, sekali saya tidak mengajari, tapi saya membagi sedikit pengalaman saja.

Sambil berjalan, saya temukan lagi kemanfaatan yang bisa dilakukan. Berbagi tetap menjadi kata kuncinya. Begitu saya lakukan sambil jalan menembus waktu yang terus memburu. Hingga saya merasa, Allah telah mempertemukan saya kembali dengan mendiang ibunda saya. Saya merasa, setiap kemanfaatan yang saya lakukan adalah ibu saya. Ada senyumnya, ada usapan tangan di kepala, ada pelukan hangat, serta ciumannya. Kecintaaan dan rasa sayang saya, tak mengejar apa yang pernah ibu saya lakukan. Cukuplah dengan apa yang saya bisa…

Banyak lagi cerita kehilangan, tapi saya tidak peduli.

Saya masih sangat beruntung, bertemu dan bisa berkumpul dengan teman, sahabat, dan orang-orang baik. Saya belajar banyak dalam diam. Mencukupkan beberapa patah kata saja untuk menghangatkan, selebihnya saya lebih menyiapkan telinga untuk mendengar. Seraya membuka seluasnya kerendahan hati, agar mampu menampung sedemikian banyak ilmu yang mengarus dan mengalir. Dalam setiap kali berkumpul, selalu saja saya mendapati banyak hal baru yang bisa membuat saya semakin luas.

Semalam saya menemani petugas keamanan komplek. Seperti biasa, beberapa orang pun turut berkumpul. Tidak semua dalam pembicaraan itu serius. Tapi saya selalu mengambil hal positif. “Bu Hafni masih sendirian, Fan?” tanya seseorang di antara mereka. Saya menjawab masih, lalu saya sebut juga beberapa nama orang lain yang bernasib sama seperti Bu Hafni. Sendiri dalam arti benar-benar tinggal di rumah sendirian tanpa ada orang lain yang menemani. Banyak sebabnya, mungkin pilihan, mungkin kondisi yang memaksanya sendiri, atau sebab lain. Saya tidak bisa menduga-duga.

Saya hanya membatin, tidak semua orang berkeluarga lalu dikaruniani anak. Tapi tidak harus juga, tidak punya anak lalu harus dalam kondisi sendiri menjalani masa tuanya. Saya mengembalikan itu pada diri sendiri. Banyak yang bisa dilakukan. Tapi bisa jadi enggan melakukannya, memilih tidak melakukannya, atau memang banyak keterbatasannya hingga tidak bisa melakukan. Ya, melakukan hal yang bermanfaat. Seperti yang disampaikan ustadz dalam kultum sholat taraweh. “Kebaikan itu semuanya kembali ke pemiliknya. Kalau kita melakukan kebaikan, amal shaleh, insya Allah, semua kembali ke kita. Tidak akan salah alamat Allah mengembalikan kebaikan dan buah manfaat yang kita tanam.”

Ketika pembicaraan masih berlanjut dengan tema yang terus berganti-ganti. Diseling riuh tawa, asap rokok dan kopi. Saya mengajak salah satu petugas keamanan untuk menyambangi rumah-rumah yang pemiliknya tinggal sendiri. Meyakinkan, saya akan kembali dengan kemanfaatan sebisanya. Menitipkan pesan kepada sang penjaga komplek, “Tolong sering-sering ditengoki rumah-rumah ini…”

Tuhan sering sekali saya temukan dalam keberanian menahan diri untuk hanya menjadi pendengar. Selamat berpuasa…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s