FUN Institute

Berani Memulai, Menjajal Ilmu Kepernahan


Bang Nape1 Waktu datang pertama kali, awal mula Fun Institute masih dikonsep. Sosok ini datang dengan gaya ‘mesin diesel’. Lama panasnya. Tampak hati-hati dalam beradaptasi. Kalah seru sama dua teman saya lainnya yang sudah bocor duluan. Pria asal Pemalang yang bekerja di Grogol ini, lebih mengikuti gaya teman-temannya.

Namun apa dikata, pertemuan berikutnya, dia ternyata leading, menyalip teman-temannya dengan koleksi cerita konyolnya yang luar biasa banyak koleksinya. Dengan tuturan yang medok dan bahasa Indonesia yang menurut saya, bahasa Jawa yang di Indonesiakan, dia membuat saung Fun Institute lebih segar. Semakin banyak gigi mengering karena terus ternganga-nganga karena ceritanya. Tawa kian sering menggelora karena ceritanya yang ‘genuine’, khas sekali.

Kini, setelah beberapa tahun bersama, belajar menulis, belajar macam-macam… Mas Ali, begitu saya dan teman-temannya menyapa, mulai berdebut membuat film pendek. Awalnya, hanya untuk keperluan ulang tahun komunitas kepenulisan tempatnya bernaung. Kini ia memberanikan diri untuk mengikuti festival. Saya pernah bilang, untuk tahu mana kurang dan lebih, baik dan buruknya, sebuah karya harus diturutsertakan dalam sebuah kompetisi. Bukan untuk menang atau kalah, tapi di sana ada pelajaran penting, ada banyak karya yang bisa menjadi bahan koreksi, materi belajar lagi, dan spirit untuk kembali membuat karya yang lebih baik.

Ali Musafa, terus bermetamorfosa…

Saya bukan orang yang menyukai perayaan, semacam homo festivo itu. Tapi saya memiliki cara untuk mengapresiasi teman-teman yang berkarya. Fun Institute memberi tempat untuk itu. Waktu salah satu teman Fun Institute, mengeluarkan novel pertamanya, saya beri ruang untuk launching dan diskusi tentang novel itu. Ketika seseorang karyanya dimuat majalah atau media, saya tempel di sepanjang waktu di semacam galeri sederhana yang ada di Fun Institute.

Pun dengan film pendek Mas Ali yang berjudul, Cintaku Jauh di Facebook, tentu saja ada ruang untuk karyanya. Kebetulan pas bulan ramadhan, sekalian saja bikin acara bedah film pendek dan mini workshop sambil ngabuburit. Bukan untuk mengadili kualitas filmnya, tapi penghargaan atas ‘keberaniannya memulai’. Lebih luas dari itu, ada silaturahim antara teman-teman yang biasa ngumpul di Fun Institute. Dan di atas semua itu lagi, puncak dari dari semua ini adalah berbagi. Membiasakan untuk memiliki kepekaan mengapresiasi, menghargai, dan terus belajar tiada henti.

Sederhana saja, berbagi pengalaman tentang produksi film pendek. Ali sudah memulai, tentu banyak teman lain yang akan tertarik mengikuti jejaknya. Dengan demikian, pengalaman Mas Ali sudah mengalirkan ilmu tersendiri bagi teman-teman yang datang. Apalagi ketika dibahas lebih sistematik bagaimana membuat film pendek yang efektif dan hemat bugdet. Tentu akan lebih menarik lagi.

postes bedah film1
Ngabubrit, menjaga kehangatan dengan berbagi pengalaman baru dalam kebahagiaan di Fun Institute

Bagaimanapun, film pendek tidak semata-mata karya seni belaka. Namun bisa menjadi dokumentasi yang kelak bisa menjadi referensi penting sebuah generasi. Saya salut dengan yang dilakukan para sineas di ajang Eagle Award yang diselenggarakan oleh Metro Tivi. Saya juga kagum pada Mas Dandy Laksana dengan Watchdoc-nya yang memproduksi film-film dokumenter yang lalu lalang di televisi. Ada program Bab yang Hilang, Jalan Pedang, atau Menolak Lupa yang buat saya sangat berbobot nilainya.

Hidup hari ini adalah mata rantai dari generasi yang hidup masa lalu. Sejarah manusia sering kali hanyut begitu saja ditelan zaman. Tidak ada penghargaan, tidak ada jejak. Ya, karena kita tidak membuat jejaknya, tidak membuat sesuatu yang mampu menembus zaman berikutnya. Menulis adalah salah satu cara menembus zaman. Membuat film pendek dari juga cara lain untuk eksis di zaman berikutnya. Banyak kitab ditulis para ulama dan cendekiawan menembus ratusan tahun dari zamannya. Dia hidup dan terus menghidupkan. Dari karya tulis mereka, zaman terangkai, regenarasi tertaut, dan nilai-nilai terus tumbuh.

Saya menitip harap, kelak Mas Ali dan teman-teman Fun Institute lain pun akan mengarah ke sana. Membuat film pendek dengan kualitas konten dan penggarapan yang lebih baik. Mendokumentasikan dan mengabadikan ‘sesuatu yang bernilai’ untuk menembus zaman berikutnya.

“Seribu langkahmu, tetaplah mulai dari langkah pertamamu.” Saya mengapresiasi, memberi penghargaan yang tinggi kepada setiap ‘keberanian memulai’. Berikutnya, nikmati proses, sadar berproses, sabar dalam proses. Selamat ya Li…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s