FUN Institute

Holiday Class Ramadhan, Sahabat yang Mengagumkan


Bang Nape1          Sore ini saya kedatangan sahabat baru. Mereka adalah sahabat kecil saya, peserta program Holiday Class. Kelas menulis yang diadakan untuk anak usia 8-14 tahun secara periodik untuk alternatif mengisi liburan sekolah. Berhubung liburan kali ini bertepatan dengan ramadhan, maka ditambahi judulnya jadi, “Holiday Class Ramadhan”.

Sejak sebelum pukul tiga mereka mulai berdatangan. Kali ini agak istimewa, karena pesertanya perempuan semua. Ada yang diantar keluarganya, ayah dan bunda serta adiknya. Ada yang diantar ibunya saja. Hampir semua diantar oleh orang-orang terdekat mereka. Menyenangkan sekali melihatnya.

Saya jadi teringat omongan Ega, salah satu peserta Fun Writing ketika melihat Noval, anak berbakat dari Pasar Kemis, Tangerang diantar bapak, ibu, dan adiknya. “Ih, bikin ngiri ya, orangtuanya care banget…” Noval anak SMP yang saat ini jadi ketua Osis dan gaya menulisnya Radit banget! Bocoran karyanya sangat ditunggu oleh anggota Komunitas Fun Writing lainnya.

Dia menjadi contoh, bagaimana jeli dan liarnya mengeksplorasi ‘dunianya’. Exploring your world. Ya, eksplorasi duniamu, karena tidak ada yang memiliki dan menyamai kecuali dirimu. Itu yang menjadi unik dan berbeda dengan lainnya. Sebagai contoh, Noval bisa mengeksplorasi soal kaki, jempol kaki, kaos kaki basah, hingga ke hal-hal yang tidak terduga…

holiday class ramadhan fixHari ini saya juga kembali tekankan kepada sahabat kecil saya yang hebat-hebat. Syarat pertama yang saya ajukan kepada mereka dijawab tuntas, tunai, dan langsung lunas. “Kalau mau jadi penulis, harus banyak baca. Coba, berapa koleksi buku yang sudah kamu baca?” tanya saya. “Semua buku atau buku KKPK saja?” tanya Nashifa. Saya meminta jawaban buku KKPK saja, itu lho lini buku anak terbitan Mizan – Kecil-Kecil Punya Karya.

“Aku sudah punya 24 buku KKPK,” jawab Nashifa.

Dahsyat. Ketika saya kejar dengan pertanyaan berikutnya, “Sudah dibaca semua?” Dia menjawab dengan lantang, “Sudah…” Saya melanjutkan pertanyaan ke Bella yang duduk di sebelahnya. “Saya punya 60 buku, eh lebih kayaknya…” Bella tampak mengingat-ingat, seperti menghitung ulang untuk meyakinkan jawabannya. Pertanyaan berikutnya pun dia jawab dengan sudah membaca semuanya. Aida sama, memiliki koleksi buku sejenis, jumlahnya lebih sedikit. Ada Nia, punya sepuluh buku tapi baru dibaca tujuh.

“Aku suka baca buku bahasa Inggris,” kata Ghia. Dengan polos, dia membuka tasnya, lalu menunjukkan kepada saya, dua buku cerita anak berbahasa Inggris. Luar biasa peserta Holiday Class kali ini. Semua langsung membayar tunai. Termasuk kejutan dari gadis mungil Ghia yang ternyata baru tiga bulan ini pulang ke Indonesia setelah hampir tiga tahun tinggal di Singapura.

Saya menatap mata mereka yang berbinar…

Ada harapan, mereka ingin menulis seperti teman-teman pendahulunya di lini buku anak yang sangat terkenal itu. Saya tidak mengajari mereka menulis, tapi membagi pengalaman, mencarikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan yang mereka temui ketika di otak mereka penuh dengan cerita. Tapi ada sesuatu yang membuat mampat, sehingga hanya menjadi angan-angan, judul yang terus berganti tanpa pernah menuliskan isinya. Atau harus berhenti ketika tulisan baru beberapa paragraf. Mogok di tengah cerita, macet tak tahu lagi harus menulis apa.

holiday class ramadhan2Menyenangkan sekali bisa bertemu sahabat kecil yang hebat hari ini. Mungkin ini berkah ramadhan buat saya. Disampaikan langkah mereka ke Fun Institute, sebuah mimpi tempat berbagi. Agar hidup saya bisa punya arti. Membagi sedikit yang saya miliki, tidak banyak, bukan pula saya ahli. Saya hanya ingin berbagi selagi mampu. Tidak banyak pula yang bisa saya bagikan.

Saya hanya membagi kebahagiaan, saya senang mereka melepaskan tawanya serta menarik pipi untuk senyum berkali-kali. Selebihnya saya hanya membagi pengalaman, bagaimana agar tulisan bisa segera diselesaikan. Agar judul tak menjadi ganjalan. “Aku bisa sehari membuat judul doang,” kata salah satu dari mereka. Hari ini, mereka sudah tahu, bagaimana membuka portal agak menulis menjadi lancar dan mengalir seperti air.

Masih teringat senyum mereka, ketika kembali ke pelukan ayah bundanya. Entah apa yang diceritakan sepanjang perjalanan pulangnya. Semoga kebahagiaan semata…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s