Story & History

Tumben yang Tak Kunjung Padam


Bang Nape1   “Tumben, sekarang rajin ke masjid, Fan…”

Terus apa salahnya saya rajin ke masjid? Waktu saya rajin ke kantor kok tidak ada yang ‘numbenin’, “Tumben rajin ke kantor, Fan.” Atau ketika saya rajin membaca, tidak ada juga yang bilang, “Tumben rajin membaca.” Saya rajin ke pasar, mengantar istri belanja, biasa saja. Saya mengurusi kebun, menyiangi, memupuk, dan menyirami setiap hati tidak juga ada teguran, “Tumben rajin ngurus tanaman Fan…”

Kalau saya sekarang rajin ke masjid, ya wajar. Waktu saya, selepas maghrib sudah di rumah. Shalat isya dan taraweh tahun ini memang saya usahakan sebanyak mungkin di masjid dekat rumah. Sekaligus bersapa dengan tetangga. Bisa salaman, bisa jalan beriring, bisa tertawa bersama dalam canda selepas taraweh. Saya bisa membayar tunai kekangenan rasa yang sempat jeda panjang karena tuntutan pekerjaan dan waktu yang tersita di luar.

Bukan sekali dua kali, saya menemukan orang-orang punya banyak sekali waktu luang untuk urusan trivial orang lain. Padahal kalau dilihat, mereka juga belum terbebas dari persoalan yang rumit dalam diri dan keluarganya. Saya hanya bisa mengira, mungkin merepoti diri dengan urusan remeh temeh orang lain itu sebuah hiburan yang membahagiakan. Atau mungkin juga hobi, murah dan tak perlu bayar. Tidak seperti hobi orang besar yang banyak duitnya.

Tapi saya menjumpai orang yang selalu begini, dari waktu saya masih bujangan, sampai sekarang saya sudah berkeluarga, bahkan sudah mantu. Tidak berubah. Hanya fisiknya makin melengkung karena tulangnya menua. Serta keriput kulit mukanya karena zaman terus memakan umurnya.

Saya menulis ini tidak sedang nyinyir. Tapi sedang belajar.

Beberapa malam lalu, di sebuah lingkaran bakda shalat taraweh dibahas tentang ‘demi waktu’. Majelis dadakan yang rileks ini sering kali justru kajiannya walau sambil lalu malah lebih kena dan mendalam. Dalam lingkaran itu, hadir orang penting yang sering kali dianggap tidak penting. Sebut saja namanya Papam, saya tidak tahu persis namanya.

Sebelum turut di barisan ‘orang masjid’, dia dianggap aneh. Tiap malam begadang, kadang cuma catur di warung. Dari pagi sampai siang tidur. Setelah itu ya ngobrol, lontang-lantung, lalu malamnya kembali begadang. Begitu bertahun-tahun.

“Umurmu sekarang berapa Pam?” tanya Pak Haji.

“Lima puluh tiga Pak Haji…” jawabnya.

“Sejak kapan kamu begitu, begadang, tidur bangun siang…” Pak Amin, salah satu jamaah turut bertanya.

“Ya sejak saya lulus sekolah…”

“Emang nggak kuliah atau kerja?”

“Ya pernah, tapi ya gak betahan, Pak…”

“Lulus SMA itu kira-kira umur 18 tahunan ya, Pam?”

Sosok kerempeng yang itu mengangguk. Lalu semua berhitung, anggap saja, dari usia 20 dia berlaku seperti itu. Lalu baru dua atau tiga tahun ini dia kembali ke masjid. Artinya sekitar 30 tahun waktunya hilang tak berjejak. Sungguh kerugian yang nyata. Saya lihat wajah-wajah terkesima. Ternganga kaget, tidak percaya…

Saya merinding saja mendengarnya. Ada orang yang kehilangan waktu sedemikian banyak. Malam itu saya belajar banyak. Ayat itu bernama Papam. Pak Haji memberikan tekanan tentang pentingnya waktu, orang-orang yang merugi. Orang yang tak menjadi baik walau terlihat baik. Karena kebaikan itu hanya untuk pandangan dan ingatan pendek manusia. Bukan untuk sebuah penghambaan kepada Tuhan.

Saya merasa berkah ramadhan kali ini adalah tumbuhnya pemahaman baru bagaimana beragama. Saya jauh dari shaleh, itu sebab saya lebih suka menyediakan telinga untuk sebanyak mungkin mendengar. Menghamparkan pikiran seterbuka mungkin, agar bisa menampung sebanyak mungkin aliran ilmu dari ayat-ayat Tuhan yang terus mengalir tanpa henti. Memasang jaring seluas-luasnya untuk memerangkap lintasan-lintasan keshalehan orang lain. Siapa tahu, saya tertular jadi orang yang berilmu, shaleh, dan beruntung.

Kata Pak Haji sebelum majelis itu bubar, menjadi baik itu ya bukan berarti tidak pernah berbuat buruk, menjadi benar bukan berarti tidak pernah salah. Tapi dia berusaha untuk lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi hari-hari berikutnya.

“Tumben ke masjid, Fan,” saya mendengar kalimat ini, sama persis, puluhan tahun lalu dari orang sama. Jadi saya mesti bilang apa? Wow, gitu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s