Story & History

Sampaikan Walau Satu Ironi


Bang Nape1            Dulu, simbah saya bilang kalau orang ngomong doang tapi tidak menjalankan apa yang dikatakan, dia sebut ‘jarkoni’. Maklum simbah saya orang jawa. Singkatan dari ‘bisa ngujar tapi ora nglakoni’, bisa ngomong tapi tidak menjalani. Pintar menasihati tapi perilakunya jauh dari yang dikatakan. Kalau bahasa iklannya, no action talk only alias Nato! “Ngomong doang mah gampang!” kira-kira begitu.

Saya tidak akan mengambil contoh jauh-jauh, diri saya saja…

Kalau teman-teman di Komunitas Fun Writing yang biasa ngumpul di Fun Institute, saya suruh menulis, terus saya tidak menulis. Itu namanya saya omdo, jarkoni. Kalau saya bilang, “Menulis itu harus konsisten, minimal sehari satu atau dua jam…” sementara saya malah tidak konsisten. Malah cuma mainan game Candy Crush atau terlalu main-main dengan media sosial. Ya koplak namanya. Omdo, omong doang, alias jarkoni.

Mengapa bulan ini saya bertekad untuk melakukan ODOP, one day one post di blog saya? Itu karena saya juga harus konsisten dengan ucapan dengan tindakan. Memang berat, tapi itu risiko sebuah ucapan. Apalagi ucapan orang yang dianggap mempunyai pengikut, dipercaya orang karena dianggap kapabel.

Hati-hati, karena kalau tidak sinkron, akan menjadi ironi.

Mungkin ini bukan pertama kali saya bicara tentang ironi dalam diri sendiri. Buat saya ukuran integritas seseorang adalah mampu meminimalisir ironi. Mustahil ada orang tanpa ironi, tidak ada manusia sempurna. Tapi, orang dengan sedikit ironi dalam dirinya menurut saya, mereka itulah orang yang benar-benar baik.

Ini hanya ukuran versi saya saja. Orang yang baik tentulah orang yang paling banyak bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang lain. Saya hanya memotret soal konsistensi ucapan dengan tindakan. Seberapa sinkron, seberapa paralel. Kalau dalam bahasa agama, seberapa istiqamah.

Mengapa harus hati-hati?

Karena semakin tua, orang cenderung lebih senang bicara. Walaupun banyak pula orang muda yang maunya bicara. Bukannya kalau semakin banyak bicara, semakin banyak pula lupa apa yang pernah diucapkannya. “Emang gue pernah ngomong gitu, ya?” “Kok saya tidak merasa berkata seperti itu ya,” “Kapan aku ngomong kayak gitu?” Banyak lagi ungkapan lupa.

Lebih mengerikan itu bila sudah bicara membawa-bawa ayat, bawa dalil, bawa argumen baik yang shahih maupun sekadar ikutan. Bahaya sekali kalau akhirnya hanya melahirkan atau menampakkan ironi. Membuka tabir dan aib sendiri. Dari sekadar hal sepele sampai hal besar. Walhasil, akan melahirka kenyinyiran…

Sudah ya, saya mau taraweh.

Jangan sampai saya juga bikin ironi sendiri. Saya usahakan, kalau sedang di rumah taraweh di masjid. Lebih ramai dan bisa silaturahmi sama banyak tetangga. Jangan sampai teman fesbuknya ribuan, follower twitternya ribuan, eh… sama tetangga hanya kenal beberapa orang. Ironis banget, kan. Padahal, kalau ada apa-apa juga tetangga yang bakal turun tangan duluan.

Saya hanya menyampaikan saja, walaupun satu ironi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s