Story & History

Keajaiban itu Dekat


Bang Nape1  Dulu saya sempat terlibat penulisan script drama tivi yang ceritanya harus ada ajaib-ajaibnya. Saya berusaha mengajaibkan banyak benda, tentu saya harus punya argumen dan dasar sebab akibat yang logis. Saya banyak membaca kisah keajaiban para wali, aulia, dan yang lainnya. Sebisa-bisa saya, mencari dasarnya. Tidak asal bisa ‘terbang’ karena harus kejar tayang.

Saya yang kurang piknik, baru tahu tentang keajaiban bocah lima tahun berhasil mengislamkan ribuan orang. Kisah Sharifuddin Khalifah terlambat saya mengerti. Keajaiban anak kelahiran Tanzania, Afrika Timur itu membuktikan, Allah Maha Canggih tak terkejar akal manusia untuk membuat manusia menyadari tidak ada daya pada dirinya. Diciptakan seorang Sharifuddin Khalifah, keturunan keluarga non muslim, penganut Katolik, hafal quran di usia 1,5 tahun, menguasai lima bahasa dalam usia sangat belia, menjadi magnet ribuan orang. Mau angkuh apalagi?

Khatam quran setahun sekali saja belum tentu. Apalagi hafidz quran di usia belum dua tahun. Bahasa Indonesia saja menulis tidak becus, ejaannya belum benar, membedakan sangsi dengan sanksi tidak bisa. Memisah di tempat dan digandeng saja jungkir balik, apalagi menguasai bahasa asing, lima sekaligus. Jadi, keangkuhan apa yang akan diagung-agungkan?

Keajaiban dan kehadiran Sharifuddin Khalifah bisa dimakna banyak sekali. Seperti ayat Tuhan lainnya. Banyak tafsirnya. Bisa jadi sebagai hadiah bagi muslim Afrika Timur yang telah lama merindukan Islam. Mungkin terlalu lama terseret dalam gelap, bukan gelap dalam arti fisik, tapi gelap pandangan imannya ditempa kesulitan ekonomi yang panjang, kehidupan yang sulit, serta huru hara emosional para penguasanya. Bisa dimakna lain juga, Sharifuddin adalah penyelamat umat, kasih sayang Allah menghadirkannya, agar derita dunia tak turut jadi derita panjang di alam berikutnya.

Banyak lagi kalau kita mau berpikir. Kalau mau…

syarifuddin khalifaKadang kala di antara kita, “Kitaaa? Guee kali…” iya, saya sering kali melihat keajaiban semata-mata, ‘an sich’ sebagai keajaiban saja. Berhenti mengagumi keajaiban. “Gila ya, keren banget!”, “Hebat,” ya semacam itulah. Kemudian saya terlibat dalam berbagai pembicaraan tentang keajaiban dengan copy paste dari sumber yang mungkin sama, buku yang sama, atau tontonan yang sama.

Kalau kata mendiang ibu saya, hal seperti itu masuk kategori ‘gumunan’. Gampang heran, mudah kagum. Jatuhnya norak. Cuma pilihan gaya untuk norak kan macam-macam. Seperti pilihan menu pedas produk keripik. Ada yang norak level ndeso, kampungan, agak ngota, atau jaim level dewa. Noraknya orang kampung sebenarnya beda dikit sama noraknya orang baru kaya. Ya sejenis itu lah…

Mestinya memang tidak berhenti pada kagum. Tapi lanjutkan perjalanan. Kalau kekaguman tidak menjadi sesuatu, buat saya mending saya batalkan. Buat apa mengagumi sesuatu tanpa berpengaruh apa pun pada diri saya. Juga keajaiban, kalau tidak menjadi daya apa pun, apalah makna keajaiban itu. Percuma, kita tak bisa belajar sedikitpun dari keajaiban yang sebenarnya dekat dan banyak sekali di sekitar kita.

Apa yang salah dengan cara berpikir kita, hingga mudah sekali kalau menilai keajaiban ya harus memenuhi kriteria super. Termakan oleh kampanye tentang perihal besar, langka, dan unik. Semua mengacu kepada benda, Borobudur, Menara Pisa, Big Ben, dll. Padahal, betapa ajaibnya tulang muda hidung kita melebihi semua keajaiban versi manusia apa pun merknya.

Bahkan ketika kita sedang limbung, otak kosong…

Hanya bisa memandang langit. Keajaiban langsung dipertontonkan. Betapa luas langit, dengan awan yang terus bergerak, berubah bentuk, berbeda dalam keragaman yang tak terbatas kerandomannya. Awan-awan begitu imajiner, membentuk, menyerupai, dan bisa mirip dengan kontruksi bentuk dalam otak kita. Hingga seribu pujangga bersyair tentang awan, seribu pula tercipta syair yang berbeda.

Lalu, mata kita. Ajaib nian lho… Konon mata berkedip sekitar 15.000 kali dalam sehari. Dalam sekali kedip sekitar sepuluh detik lamanya. Tanpa kita menyuruh, tanpa pernah kita menghitung. Sayang bukan kalau keajaiban berhenti pada kekaguman belaka. Mestinya, satu langkah lagi kita melangkah. Cukuplah dengan satu pertanyaan, “Siapa di balik keajaiban ini?”

Jawabnya, dalam hati saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s