Story & History

Percayalah, Semua Akan Pergi


Bang Nape1Menyambung tulisan terdahulu. Tentang orang-orang yang tidak hadir lagi dalam shaf shalat taraweh ramadhan tahun ini. “Sebelum ramadhan saja empat orang jamaah kita wafat,” ujar seseorang selepas shalat taraweh dalam lingkaran kecil sambil santai. Lalu disebut satu persatu. Hati saya tergetar walau saya harus senyum. Senyum, karena hampir semua nisan keempat orang itu saya yang menulisnya.

“Pak Udin besar sekali jasanya pada mesjid ini,” batin saya. Saya tahu persis, walau status pekerjaannya dianggap sepele, tapi berkat jaringan dan kemampuan komunikasinya mengalirkan banyak sekali uang maupun material dalam proses pembangunan masjid puluhan tahun silam. Sampai akhir hayatnya, dia masih terus mengurusi masjid. Terakhir dia aktif dalam kepengurusan tanah makam yang dikelola masjid.

Badannya kian renta, rapuh, dan lemah sepulang menunaikan ibadah haji. Saya menaruh hormat begitu tinggi pada beliau. Karena seperti juga orang tua lainnya, dia salah satu orang yang mendukung dan berkontribusi riil dalam pembinaan remaja di komplek. Saya dan teman-teman sebaya, merasakan betul peran dan dukungannya.

Dia sangat mencintai mesjid…

Dalam keadaan lemah, dia masih sempatkan untuk berjamaah sholat jumat. Itulah hari-hari terakhir saya bertemu beliau. Hingga suatu hari, saya dikabari, “Fan, Pak Udin meninggal…” Saya balik kanan, walaupun sepeda motor saya baru masuk parkiran nun jauh puluhan kilometer dari sumber kabar. Sepanjang jalan saya mengenang…

Sosok yang sederhana, apa adanya. Saya boleh bilang, sangat dekat dengan beliau, hingga pekerjaan membuat saya jadi agak jarang ketemu, bicara apa saja, ngobrol dari soal anak-anak, masjid, tanah makam dan keprihatinan serta perasaannya. “Sekarang masjid beda, saya tidak bisa apa-apa. Menjadi jamaah saja…” ujarnya berat. Pada sebuah sore lepas shalat ashar seingat saya. “Ya sudah, malah makin khusyu, nggak banyak beban. Itu berarti Babeh disayang Allah…” kata saya sok tahu.

Begitulah, selalu ada yang agak menyayat hati setiap mengenang orang-orang yang kita cintai pergi. Kita tidak pernah bisa menawar, walau sedetik pun dari waktu yang telah ditentukan. Kepergian satu per satu orang-orang yang kita cintai, membuat satu keyakinan, bahwa siapa pun pasti akan pergi. Mungkin sementara, mungkin selamanya.

Berat rasa karena kita terlanjur cinta.

Mana ada orang akan bersikap biasa saja ditinggal orang yang dicintainya. Pasti kehilangan, pasti akan merasa kosong, ada yang kurang, ada yang hilang. Hingga waktu dilewati seperti pincang. Ingatan terkenang-kenang hingga hal yang paling detil dan sangat privasi. Seringkali keadaan ini, membuat orang yang ditinggal terpuruk, merasa sendiri, dan merasakan ketidakadilan. Seolah bumi runtuh…

Waktu berjalan, semua tumbuh dan saling berlari. Entah sudah berapa orang-orang di sekitar kita yang pergi. Ada yang pergi sendiri dalam sepi, ada yang pergi tanpa pesan, ada yang pergi dalam pelukan kasih serta diantarkan dengan limpahan rasa sayang.

Pergi bukan hanya mati…

Pergi juga sebuah perjalanan pengayaan. Agar kita menjadi luas. Tidak sempit, tidak picik. Karena dunia sangat luas, orang sangat banyak. Milyaran manusia tersebar di berbagai penjuru dunia. Sebanyak mungkin mereka bisa kita temui, seluas mungkin bumi Allah bisa kita pijaki, semakin tidak ada apa-apanya kita ini. Pergi adalah cara untuk menaklukkan keangkuhan, menekuk kesombongan, dan meluluhkan kejumawaan.

Tak terhitung orang-orang terdekat kita pergi…

Bisa pergi karena patah hati, sakit hati, atau frustrasi. Namun banyak pula yang pergi karena melihat harapan yang menjanjikan ‘sesuatu’ baginya. Demi masa depan, dia pergi studi. Karena sebuah pernikahan, dia pergi membangun mahligai rumah tangganya. Sebab upaya memenuhi panggilan tanggung jawab, seseorang pergi untuk menyongsong nafkahnya.

Yang pergi karena kematian, saya kok merasa mereka tidak pergi. Tapi kembali ke haribaan Sang Maha Cinta. Menempuh jalan takdirnya. Membawa semua amanah kehidupan di sepanjang umurnya. Meninggalkan banyak pelajaran bagi yang hidup. Hidup nuraninya, hidup kepekaan imaniyahnya.

“Meski tidak tampak gegap gempita, saya usahakan ini ramadhan terbaik,” batin saya. “Hal terjauh dari hidup kita adalah masa lalu, sementara yang terdekat adalah kematian. Semoga majelis kecil ini salah satu jalan khusnul khatimah…” kata seseorang yang dari semula diam saja. Menggema suara bersama, mengamini kalimat yang penuh getar itu. Saya tercenung, hingga satu persatu berpamitan pergi…

Iklan

2 tanggapan untuk “Percayalah, Semua Akan Pergi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s