Story & History

Belajar Bersyukur dari Bang Jujun


Bang Nape1            Semalam saya terlibat dalam sebuah perkumpulan yang sangat dahsyat. Bersama saya, orang-orang shaleh ahli ibadah. Kecuali saya, mereka adalah orang-orang yang sangat dekat dengan masjid. Ada Ketua DKM yang biasa disapa Pak Haji. Hafalannya banyak, wawasan islamiyah tak diragukan. Ada pengurus lainnya, beberapa orang. Hampir komplit, termasuk Bang Jujun, sang muazin. Satu lagi, Papam yang biasa urus parkir.

Sayap masjid depan sekretariat melingkar beberapa orang. Sentralnya adalah minuman yang dihidangkan Bang Jujun. Orang yang menjadi muazin sejak masjid ini berdiri. Pertama saya datang ke komplek ini, sekitar awal tahun 90-an. Artinya perkenalan saya dengan Bang Jujun ya sepanjang umur masjid di komplek. Lama ya…

Ceritanya sambil menghabiskan tajil, seorang jamaah membeli serenteng kopi yang kemudian diseduh sama Bang Jujun. Jadilah kami ngopi bareng. Obrolan pun mengalir seperti air mengalir. Saya kebagian menjadi penggembira saja. Maklumlah, di antara mereka, saya mah apa atuh…

“Jujun tahu artinya syukur?” tanya Pak Haji tiba-tiba. Menyela perbincangan kami yang mungkin dianggap mubazir, karena banyak ketawa-tawanya.

Jujun itu makhluk Allah yang istimewa. Tidak diketahui siapa orangtuanya. Dia tidak mengenal orangtuanya. Apalagi tanggal lahirnya, dia hanya tahu kampung halamannya Bogor, tepatnya Leuwiliang, entah dimananya. Padahal itu adalah kampung almarhum Pak Pendi, orang baik yang merawat dan mengangkatnya. Dari cerita almarhum yang saya kenal, Jujun mengalami banyak sekali cobaan dalam hidupnya. Pernah ada kejadian yang membuatnya seperti saat ini. Tidak sekolah, tidak punya ketrampilan lain kecuali disuruh ‘ngoret’ atau bebersih rumput, selokan, atau apa saja. Serabutan.

Namun Allah memberikan suara bagus untuk azan. Selain itu juga memberi kemampuan hafalan surat-surat pendek sepaket dengan melagukannya sekaligus. Dulu, sebelum pengurus masjid berganti, warga komplek sering mendengarkan suara merdu Jujun bertilawah menjelang maghrib. Persis suara kaset…

“Syukur itu ya… terima kasih sama Allah,” jawabnya.

Perbincangan semakin mengerucut pada hal-hal yang harus disyukuri. Pak Haji sepertinya sedang memberi dorongan, semangat, dan spirit pada Jujun. Bahwa dia tidak perlu minder dengan keadaannya. Karena dengan segala keterbatasannya, dia diberi tempat dan kesempatan untuk terus-menerus mengumandangkan azan. Panggilan paling mulia, ajakan paling tinggi, tak tertandingi.

“Jadi Jujun harus bersyukur, berterimakasih kepada Allah…” kata Pak Haji.

Jujun tampak mengangguk-angguk. Saya melihat dengan seksama. Badannya yang tegap, tarikan ototnya keras, tangannya kekar. Bukti bahwa dia adalah seorang pekerja keras. Tidak menampik kesempatan, tidak menolak rezeki. Tidak ada kamus gengsi pada dirinya.

Ndilalah, sepulang badminton, sambil menunggu keringat kering, saya menonton televisi. Eh, ada tayangkan yang membahas tentang rasa syukur nyambung dengan pembicaraan di teras masjid sebelumnya. Suaranya, aksennya persis banget dengan Kiai Zaenuddin MZ, ternyata eh ternyata anaknya. Ustadz Fikri Haikal MZ. Dia menjelaskan, ciri orang bersyukur itu selalu melihat kelebihan orang lain dalam hal ibadah dan melihat keadaaan orang lain yang lebih kekurangan dalam hal harta benda atau urusan dunia.

Saya hanya bisa merasa-rasa saja…

Kira-kira saya termasuk orang yang bersyukur apa tidak. Saya semakin malu, apalagi kalau berkaca pada Bang Jujun. Saya disekolahkan orangtua dengan segala susah payahnya. Tapi rasanya manfaat saya baik buat diri sendiri, keluarga, apalagi orang lain kok tidak ada ya… Bang Jujun yang tidak sekolah, tapi kemanfaatannya dahsyat sekali. Apa yang miliki, jauh lebih baik dari Bang Jujun. Tapi dari yang saya miliki, apakah saya bersyukur?

Setidaknya, semalam saya belajar dua hal. Satu, jangan underestimate sama orang lain. Ini menegaskan keyakinan saya menilai seseorang, mengutip Cak Nur – Nurcholish Madjid – “Tidak ada orang yang sempurna, tidak ada yang semuanya baik, tidak juga semuanya buruk.” Kedua, saya semakin paham, terlalu banyak yang bisa kita syukuri, dekat sekali, mensyukuri hal yang kecil-kecil di sekitar kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s