Story & History

Meminimalisir Ironi


Bang Nape1           Karena terlalu sering dan berulang, kadang kala kata dan kalimat baik turun makna dan harganya. Kenapa bisa turun makna dan harganya? Banyak kemungkinannya, pertama yang menyampaikan memiliki banyak ironi dengan kata-kata atau kalimat yang disampaikan itu. Kedua, bisa jadi memang pendengarnya bebal, hanya mendengar sambil lalu. Atau seperti saya, ngantukan.

Setiap kultum ramadhan, awal-awal puasa, selalu diuraikan tentang kesyukuran bisa bertemu kembali dengan puasa kali ini. Lalu disebutlah jamaah yang tahun ini sudah tiada, tak bertemu ramadhan karena meninggal dunia. Atau pergi, pindah domisili karena banyak hal. Karena pekerjaannya, studi, atau bisa karena masalah lainnya.

Saya sudah tahun keempat tidak berpuasa dengan ibu. Ya sedih. Tahun ini, saya tidak berpuasa dengan Metri, ponakan saya untuk tahun kedua, karena dia harus kuliah di Solo. Saya bukan satu-satunya orang yang pernah merasakan ‘rasa’ dan ‘suasana’ kehilangan orang-orang istimewa ketika ramadhan tiba. Banyak, banyak sekali yang merasakan hal seperti ini.

“Ramadhan kali ini, kita tidak lagi bisa bersama Pak Zainuddin, salah satu imam masjid ini yang kita cintai. Semoga Allah memberikan tempat yang layak untuk kebaikan beliau.…” ujar sang takmir.

Ya, satu persatu pergi. Satu per satu mati.

“Kullu nafsin dzaiqatul maut,” sang ustadz kultum menyambung. Semua yang bernyawa akan mati. Soal cara dan bagaimana matinya, Allah yang Maha Tahu. Manusia hanya berusaha sebisa-bisa agar khusnul khatimah. Memiliki akhir yang baik.

Soal mati itu pasti, tapi menyiapkan diri untuk bekal kematian itu yang tidak pasti. Apakah hanya saya yang punya goncangan gelombang iman? Naik turun seperti temperatur udara. Kadang panas, naik semua, kalau bisa setinggi-tingginya. Namun suatu ketika terjun bebas meluncur nyaris ke titik nadir. Bahkan minus…

“Berdekatlah dengan al-quran dan selalu ingat kematian…” kata ustadz di podium. Sekali lagi, ini soal kepekaan. Banyak tanda, banyak sinyal, dan isyarat yang tidak bisa saya tangkap dengan baik. Saya semakin salut pada orang-orang yang ‘tampak’ biasa tapi penuh penghayatan dibanding yang tampil dengan simbol-simbol kesalehan.

Saya berbaik sangka dengan orang yang memilih tampil dengan simbol kesholehan itu. Saya menghargai dan hormat. Meski saya tahu, beberapa yang saya kenal memiliki banyak ironi dari yang ditampakkannya. Tidak men-generalisir, nggebyah uyah, kata simbah saya. Menganggap yang tampil begitu ya begitu, hehe… karena saya yakin semua orang punya ironi dalam dirinya.

Hanya saja, menurut saya, ya jangan terlalu ironis lah hidup kita.

Misalnya, kita bisa ngomong banyak tentang kebaikan, mengutip banyak ayat, mengurai banyak dalil. Tapi ironisnya, kita dipertontonkan ironi dalam diri dan keluarga yang bersangkutan. Bisa ngomong ke orang-orang tentang kriteria kesholehan, bisa juga mengeluarkan dalil ukuran keimanan seseorang, tapi yang terjadi… istrinya tidak berjilbab, sama tetangga tidak berlaku baik, pada lingkungan angkuh, merasa memiliki strata lebih tinggi dari lainnya. Sebuah tontonan yang jauh dari kriteria kesholehan yang sering sekali diucapkan. Lha yang begini ini harus bagaimana menempatkannya…

Ini yang saya sebut pertama di atas, kalimat baik menjadi turun makna dan harganya. Karena penyampainya memiliki ironi-ironi yang jelas sekali rasa dan bentuknya. Bisa dilihat dan dirasai tanpa tertutupi. Saya yakin, mereka tahu persis apa risikonya, bila yang terkata tidak seiring dengan tindak nyata.

Ternyata pekerjaan rumah untuk menjadi baik banyak sekali. Namun satu yang paling penting dilakukan, seperti saya bilang kepada istri saya, “Meminimalisir keironian.” Setidaknya itu salah satu caranya, pasti banyak cara lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s