Story & History

Katanya Doang Cinta, Padahal Sih…


Bang Nape1      Semalam saya mendengarkan ceramah ustadz menjelang taraweh. Biasanya kalau awal-awal taraweh temanya tentang ‘keistimewaan’ puasa, ganjaran berlipat, dan ayatnya selalu berulang. Puasa itu milik orang beriman, panggilan untuk orang beriman. Biasanya begitu, tetapi kok semalam beda. Maksudnya beda mengambil sudut pandang dan mengemasnya.

Begitu pengurus masjid memberikan mikrofon kepada sang ustadz, sebelah saya bilang, “Ah, paling ceramahnya kayak yang sudah-sudah. Kelamaan, langsung taraweh aja lah…” Saya menoleh dan tersenyum. Mungkin tidak cukup dengan ucapan, dia pun menyodorkan gestur yang menunjukkan malas mendengarkan dan tampak sekali underestimate.

Underestimate menurut saya adalah bagian dari kenyinyiran. Menganggap orang lain tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas versi yang bersangkutan. Dalam bahasa lainnya, berprasangka buruk, bahkan cenderung melecehkan dan menganggap remeh. Orang di sebelah saya ini, mungkin masuk kategori itu.

Ternyata, sang ustadz tampil manis sekali. Mengemas ceramahnya dengan sudut pandang yang tepat. Mengambil analogi dengan pas. “Bagaimana kalau kita mencintai seseorang? Tidak langsung tembak kan? Pasti kita akan mencari tahu segala sesuatu tentang dia. Sok lah, pasti ingin tahu siapa namanya, dimana tinggalnya, pin bb-nya berapa, akun fesbuknya apa… Segala rupa informasi tentang dia akan kita cari, kita gali, kita kumpulkan dengan berbagai cara.”

Saya melirik sebelah saya, masih dengan sikap tidak respek. Ya, biar saja, bukan masalah saya kok. Saya hanya mengambil hikmahnya. Bahwa sebagian dari prasangka banyak kelirunya, itu saja.

“Nah, begitu juga dengan ramadhan, kalau kita tidak kenali, tidak tahu banyak siapa dan apa itu ramadhan, apa keistimewaannya, kenapa istimewa… seberapa banyak dari kita yang mengenal bulan ramadhan dengan baik di sini? Kalau sudah mengenal baik, maka mustahil dia akan memperlakukan ramadhan dengan biasa saja.”

Langsung tertohok saya. Perlahan, saya coba urai seberapa jauh pengetahuan saya tentang ramadhan. Hehe, memalukan. Ramadhan dalam otak saya hanyalah salah satu bulan hijriyah yang mewajibkan umat Islam berpuasa. Selebihnya saya tidak tahu. Kecuali ya jadi banyak tukang jualan tajil sore hari. Acara tivi jadi banyak ceramahnya. Artisnya banyak yang mendadak berkerudung. Banyak orang tiba-tiba berpenampilan shaleh, seperti pertunjukan fashion islami. Selebihnya? Ya menu makanan di meja makan semakin banyak dan komplit.

Saya tidak betul-betul membaca, mencari tahu, atau mengeksplorasi apa dan bagaimana puasa ramadhan dengan tuntas. Hanya mendengarkan dari sepenggal ceramah karena ngantuk, dari keterangan guru waktu sekolah, atau meneruskan tradisi yang berlaku di keluarga tanpa pernah berusaha tahu ke sumbernya. Seolah itu saja sudah cukup.

“Ngupil dosa luh…”

“Nyium istri batal lho…”

“Puasa nggak boleh nggunting kuku!”

Semua itu saya dapati bukan dari belajar. Kata orang terdahulu, diteruskan ke generasi berikutnya, begitu seterusnya, tanpa cek, tanpa ricek, apalagi merujuk pada sumber yang akurat.

“Kalau kita melakukan sesuatu, beribadah karena tahu persis apa makna dan tujuannya. Insya Allah, kita akan melakukan semua itu dengan penuh kecintaan…” sambung ustadz lagi.

Ya, ya, kecintaan hanya bisa kita tumbuhkan dengan pengenalan yang paripurna. Tidak sepotong, tidak setengah, tidak sepenggal-sepenggal. Tugas mencintai itu berat, karena harus punya tenaga ekstra untuk berburu ilmunya. Tapi menurut saya, yang terberat dari tugas mencintai itu adalah keberanian untuk berluas hati, berlapang dada, dan memiliki kerendahan hati.

Ini kesimpulan bodoh-bodohannya saya ya, air akan mengalir dari yang tinggi ke rendah. Maka agar ilmu mengalir ke kita, butuh kerendahan hati, lalu ditampung dan diwadahi dalam hati yang luas dan dada yang lapang. Maaf, kesimpulan orang baru sehari ikut taraweh.

“Lha kan emang baru mulai, ya baru sekali lah tarawehnya…” kata sebelah saya. Lho, kok ganti orang. Ternyata istri saya ikutan baca ketika saya menulis ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s