SENGGANG, Story & History

Pacaran di Museum Cina Benteng


“Apa yang menarik dari museum? Di tengah pasar pula…”

Tak kupedulikan ucapannya, kugandeng tangannya. Langkahku meliuk, menepi atau berhenti sesaat. Menunggu lalu lalang orang, sepeda motor, atau becak yang melintas dari arah berlawanan di jalanan yang sempit dan kian menyempit oleh lapak dagangan di kanan kirinya. Begitu jalanan melega, saya gegas langkah sambil terus menggenggam tangan perempuan yang pertanyaannya kian ditelan riuh Pasar Lama, Tangerang.

“Museum sebelah mana ya, Bang?” tanya saya kepada pedagang jajanan yang mangkal persis di pertigaan.

“Itu, yang itu…” dia menunjukkan sebuah bangunan yang tampak beda dari bangunan di sekitarnya.

Hanya berselang beberapa rumah, saya dengan mudah menemukan rumah berlantai dua dengan arsitek khas Tionghoa kuno. Rumah yang dibuat tiga abad yang silam, sempat terbengkalai, sebelum dibeli dan direstorasi menjadi museum warisan Tionghoa Tangerang oleh seorang pecinta sejarah dan kebudayaan, Udaya Halim. Museum Benteng Heritage diresmikan dengan nuansa angka satu, yaitu tanggal 11, bulan 11, tahun 2011.

“Kalau kamu tidak mengenali kotamu, mana bisa cintamu tumbuh,” kata saya sambil memandangi bangunan museum dari jalanan. Setelah mengambil foto dari beberapa angle, saya ajak masuk. “Nanti kamu akan tahu, kenapa harus ke sini.”

Perempuan itu tersenyum agak terpaksa. Matanya masih melihat ke sekeliling. Memindai pandangan pada meja lapak pedagang yang bergelimpangan di tepian jalan. Seperti hiasan penyambut ke Museum Benteng Heritage, The Pearl of Tangerang. Baru selangkah saja kaki beranjak dari pintu masuk, aroma dan suasananya Tionghoa kental sekali. Ada pernak pernik dan lampion dengan dominasi warna merah dan emas, simbol optimisme dan kebahagiaan di masa depan. Satu lagi, ada pesan kecil menyambut, tulisan dalam tiga bahasa dan huruf kanji, Hou de zai wu, great virtue carries good merit. “Tindakan yang penuh kebajikan membuahkan kebaikan.”

Itulah pesan cinta sang pemrakarsa dan inisiator museum ini. Tanpa cinta, rumah peninggalan abad 17 ini mustahil menjadi oase sekaligus penanda penting peradaban kota tua di kawasan Pasar Lama Tangerang. “Sembilan puluh persen, rumah ini sesuai dengan aslinya. Termasuk lantai yang kita injak,” jelas lelaki berkacamata yang menjadi guide museum.

“Lantainya asli? Dari abad 17?” desis perempuan yang terus mengikuti langkahku. Saya tersenyum melihat rona kagum di wajahnya. “Keren banget…” Wajah itu menaik rona kagumnya, padahal baru sampai di ruang tamu. Semacam ruang tamu, tempat pembelian tiket berkunjung ke museum. Rasanya, dua puluh ribu rupiah terlalu murah untuk sebuah ‘pengembaraan sejarah’ yang amazing ini. Guide terus menjelaskan semua yang ada di ruangan itu. Dari lukisan yang menggambarkan Tangerang di masa lalu, dari asal mula benteng, bioskop tertua, hingga sebuah barongsai yang sangat akulturatif. Berwajah naga, tapi penuh dengan simbol keindonesiaan. Ada unsur garuda, ada merah putih yang Indonesia banget.

Lepaskan alas kaki dan dilarang memotret di dalam museum.

Ketakjuban atas museum yang meraih juara pertama FIABCI (Federation Internationals des Administrateurs de Bien-Conselis Immobiliers) Indonesia kian menjadi. Ada moon gate yang berumur 200 tahun, asli, original, menjadi interval ruang lantai satu. Ruangan yang bisa digunakan untuk gathering atau acara kumpul-kumpul dengan kapasitas 80 orang. Kebayang bisa reunian di ruangan yang eksotik dan penuh nilai sejarah.

“Hmm, keren banget tempatnya,” perempuan berwajah merona menggumam, pelan tapi jernih terdengar di telinga saya. Begitulah, saya merasa mendapat jawaban atas pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’.

“Alas kakinya dilepas dan mohon tidak memotret apa pun di dalam museum,” ujar sang guide seraya membagikan tas plastik untuk menyimpan alas kaki. “Mari kita lanjutkan ke lantai dua.” Saya menggandeng perempuan itu naik anak tangga yang agak terjal, dari kayu hitam yang tampak kuat dan mengkilap.

Wow…

“Amazing,” kembali saya mendengar suara bening perempuan yang kian merona wajahnya. “Timbangan kuno? Ini apa? Koleksi alat candu yang ada di dunia?” Pertanyaan atau pernyataan takjub? Saya hanya bisa diam dan senyum, mendengarkan semua penjelasan guide yang detil dan mampu menghidupkan suasana. Apalagi ketika dijelaskan tentang pintu kunci rahasia. Bukan hanya tentang filosofi yang mendalam, tapi ada teknologi sederhana yang luar biasa. Sungguh menjadi hiburan yang menarik dan membuat penasaran ketika saya dan perempuan itu tak kunjung bisa membuka pintu kunci rahasia.

Hingga sampailah pada sebuah dinding yang menceritakan tentang asal mula sejarah etnis Tionghoa sampai ke nusantara, dan masuk ke Tangerang. Di sinilah saya menemukan jawaban, mengapa di pecinan, ada klenteng dan tak berjauhan dengan masjid. Berawal dari ekpedisi armada Cheng Ho, seorang laksamana Tiongkok pada masa Dinasti Ming (1405-1433) yang melakukan perjalanan ke Nan Yang atau laut selatan. Dengan 300 kapal dan 30 ribu pengikut. Cheng Ho atau Zheng He adalah seorang muslim, namun tidak semua pengikutnya muslim.

Ada fakta mengejutkan, ternyata kapal ekpedisi Marcopolo tidak seberapa besarnya di banding dengan kapal ekspedisi Cheng Ho. Hmm, saya baru tahu dengan melihat replika kapal koleksi museum ini. Termasuk sejarah mengapa nenek moyang orang Tionghoa bisa sampai ke Tangerang. Saya terkagum-kagum dalam diam, berbeda dengan ketakjuban perempuan yang saya gandeng. Dia terus berdesis, bergumam, dan tampak ekspresif dengan hal yang baru dilihat dan diketahunya.

“Diduga nenek moyang orang Tionghoa yang mendarat di Teluk Naga, Tangerang pada abad ke-15, merupakan bagian rombongan dari armada Cheng Ho yang memisahkan diri dipimpin oleh Cen Ci Lung…” jelas si guide.

“Terus, kenapa disebut Cina Benteng, Mas?” tanya saya.

Dengan menunjuk gambar, dia menjelaskan detil sekali. Sejarah menjadi indah di museum ini. Bukan semata pajangan artefak dan saya jadi semakin paham, saya jadi semakin mengerti. Sejarah memang masa lalu, tapi tetap aktual di hari ini. Bahkan setelah ratusan tahun berikutnya. Museum Benteng Heritage adalah buktinya. Seperti kalimat bijak Confucius, study the past if you would define the future. Sejarah itu bukan makhluk masa lalu belaka, tapi daya yang mampu menggerakkan kegemilangan di masa depan. Seperti jargon popular yang diucapkan Sukarno, pendiri bangsa ini, Jasmerah, jangan sekali-kali lupakan sejarah.

“Ihhhh… sepatunya lucu banget!”

Udaya Halim Blog- MBH
Udaya Halim, owner Museum Benteng Heritage. Tinggal di Perth Australia, aseli Tangerang.

Perempuan itu terkesima, takjub, dengar ekspresi yang kian tak terhalangi lagi. Melihat koleksi sepatu kecil-kecil warna-warni koleksi museum. Sang guide pun menjelaskan tentang sepatu mini itu. Saya sendiri pernah membaca tentang tradisi Chanzu yang dilakukan perempuan Tionghoa di masa lalu. Sebuah tradisi yang menyimbolkan kesejahteraan dan kecantikan, selain menunjukkan strata perempuan tersebut dalam masyarakat. Dalam tradisi Chanzu yang berarti bunga lotus, kaki yang kian kecil membuat perempuan itu semakin cantik. Perempuan paling cantik, dengan kaki hanya 7,5 cm disebut san cun jin lian atau golden lotus.

“Mereka biasanya memulai menekuk kakinya mulai umur enam tahun, namun sejak Revolusi Sun Yat Sen, tradisi seperti ini dihapuskan karena dianggap tidak manusiawi,” terang sang guide.

“Lucu ya, tapi kan pasti sakit banget…” kata perempuan itu.

“Kamu juga lucu, lebih cantik dari si kaki mini walaupun kakimu jarinya jempol semua…” saya menyahut sambil bercanda.

“Ihhh, kamu gitu deh!” perempuan itu memukul pelan lengan saya.

Bagian lain yang menarik adalah relief di dinding kayu. Katanya itu dulu ditemukan dalam kondisi berdebu, kotor, dan mengenaskan. Relief tentang roman klasik Tionghoa, Sam Kok. Dari empat sisi, cerita bisa diurutkan. Dari relief kayu yang penuh dengan nilai estetik tinggi ini, muncul pertanyaan. Bangunan apakan yang kini menjadi museum di masa lalu itu. Tentu tidak sederhana menelusurinya, perlu riset yang panjang. Hanya bisa dibayangkan, pada tahun 1700-an, sudah ada bangunan dengan arsitektur yang berbeda, memiliki gaya ornamental khusus, seperti detail relief kisah Sam Kok, di tengah pemukiman etnis Tionghoa Benteng, pastilah bukan bangunan biasa. Dengan fungsi biasa juga.

“Jangan-jangan rumah mafia, Mas…” saya nyeletuk.

Si guide hanya tersenyum, seiring dengan mata melotot perempuan di samping saya. “Hati-hati kalau ngomong, kebanyakan nonton film mafia tuh…” sergahnya.

“Diperkirakan semacam kantor serikat dagang, karena letak dan posisinya di tengah pusat perdagangan,” sang guide meluruskan.

Saya hanya tersenyum, teringat ketika saya membaca kisah Sam Kok. Roman popular yang menceritakan tentang perebutan kekuasaan, intrik, pengabdian versus pengkhianatan, serta menyertakan nilai-nilai loyalitas, kejujuran, dan persaudaraan. Roman keren karya seorang pujangga di zaman Dinasti Yuan.

Dan ternyata, ada yang menarik di Museum Benteng Heritage tentang karya sastra. Ada koleksi terjemahan karya sastra dan cerita silat, lengkap dengan mesin tik dan surat-surat milik Oey Kim Tian atau OKT. Seorang sastrawan, pendokumentasi kebudayaan Tionghoa di Benteng. Lagi-lagi saya diseret ke sebuah kekaguman atas dahsyatnya karya penulisan yang tidak hanya merentang menembus ruang dan waktu, tapi menjadi jembatan sejarah generasi berikutnya. OKT memang sudah tiada, “Rumahnya masih ada, dekat dari museum ini, boleh kalau mau ke sana,” kata sang guide. Bagi saya bukan masalah rumahnya masih ada, tapi kekaguman saya atas jasa dan dedikasinya pada sastra dan budaya, hingga saya diperkenankan mengenali masa lampau, khususnya sejarah Tionghoa di Pasar Lama.

“Oke, kita lihat video dulu ya. Ini video tentang pernikahan etnis Tionghoa yang masih berlangsung sampai sekarang…” lanjut sang guide. Lalu dengan khusyu saya dan perempuan itu menonton, sambil mendengarkan penjelasan, tradisi Cio Tao, baju, hingga pernak-perniknya. “Penuh simbol ya…” tegas saya. Guide itu pun mengangguk, dalam budaya Tionghoa memang penuh dengan simbolisme. Asyik juga prosesi pernikahan ala etnis Tionghoa Benteng.

“Nanti kamu pakai kebaya encim ya, kalau kita berjodoh…” goda saya pada perempuan di samping saya. Sebuah cubitan mendarat dengan selamat di lengan saya. Sang guide turut geli melihat tingkah norak ini.

“Kok ada gaple?”

“Bukan hanya gaple atau domino ya, itu ada kartu lainnya. Ada ceki, ada mahyong. Konon mahyong itu diciptakan oleh Cheng Ho, untuk hiburan anak buahnya melewati ekspedisi yang panjang, selain permainan, mahyong disinyalir merupakan strategi perangnya Cheng Ho…”

Hampir satu jam tidak terasa, koleksi Museum Benteng Heritage menenggelamkan saya dan perempuan itu ke masa silam, mempertemukan dengan kebesaran armada Cheng Ho, cerita tentang peradaban lainnya, tentang sastra, dan pencapaian nenek moyang dengan segala keindahannya. Rona wajah perempuan itu berubah di akhir perjalanan ini. Senyumnya merekah, tampak meruar aura cantiknya, apalagi ketika saya membiarkan dia membeli beberapa pernak-pernik souvenir. Saya melihat ada binar cinta memancar dari matanya.

Sejarah bukanlah cerita masa lalu belaka. Karena tidak ada lompatan peradaban, setiap generasi membangun jembatan untuk generasi berikutnya. “Keren banget ya, Mas…” katanya saat baru saja langkah kami beranjak keluar museum. “Nanti kapan-kapan ke sini lagi ya.” Saya mengangguk seraya menggandengnya. Sepanjang Jalan Cilame, Pasar Lama, saya seperti merasai iringan tekyan dengan senar yang terus bergetar…

  • Pernah diikutsertakan dalam lomba penulisan pariwisata Kota Tangerang dengan judul asli Museum Benteng Heritage, Pesona Sejarah Tionghoa di Tengah Riuh Kota 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s