Story & History

Belajar dari Tukang Jahit


Bang Nape1            Kalau masuk ke komplek saya, setelah gerbang ada kios tukang jahit, tepatnya vermak levis. Saya biasa memotongkan celana ke Pak Wahyu, penyewa kios tersebut sekaligus penjahit tunggal di situ. Kalau beli celana, saya selalu bermasalah dengan dua hal. Kalau perutnya pas, panjangnya kelebihan. Kalau panjangnya pas, perutnya nggak masuk. Saya terima dengan sabar hati keadaan ini. Rupanya, perut buncit saya membawa rezeki. Setidaknya buat Pak Wahyu yang pasti akan memotong dengan senang hati celana saya.

Saya juga bisa menjahit, ibu saya yang mengajari. Tepatnya membiarkan mesin jahitnya saya pakai untuk eksperimen. Hasil dari menjahit saya yang pertama dan satu-satunya adalah ‘menjahit piyama’. Sangat fenomenal lah… Karena, walaupun bahannya bagus, hasil jahitannya sangatlah tidak bagus.

Mungkin saya baru lulus kalau menjahit sarung. Kok bisa begitu? “Ya, kan lurus doang, hehe…”

Menjadi tukang jahit itu memerlukan ketrampilan khusus. Menyambung bahan atau pola satu dengan pola lainnya sehingga menjadi satu produk yang utuh. Sebuah kemeja saja, setidaknya memiliki dua potong bakal lengan, dua potong bahan bagian depan, satu potong bagian belakang, belum lagi calon kerah dan sakunya.

Tidak bakal jadi baju, kalau yang dijahit hanya lengan sama kerahnya saja. Atau saku sama bagian depannya. Semua bahan yang sudah dipotong sesuai pola, harus disatukan, harus dijahit, hingga ia menjadi sebuah baju. Kita bakal ditertawakan banyak orang, malah dikira orang gila, baru pakai kerah sama lengan sudah ngaku-ngaku pakai baju. Orang awam tahu, baju itu ya ada lengannya selain tertutup depan dan belakangnya. Ada sakunya, bisa satu bisa dua. Juga berkancing, entah enam, tujuh, atau biasanya ada satu cadangan kancingnya.

Saat ini sebenarnya banyak dibutuhkan tukang jahit. Bukan karena mau puasa atau lebaran. Tapi karena banyak orang yang yakin sekali dengan hanya memiliki ‘saku’ saja, atau ‘kerah’ saja, bahkan kancingnya saja sudah ngotot mengatakan itu baju! Membaca belum selesai, masih ada koma, belum sampai titik, sudah ngotot kalau yang dibaca adalah kebenaran yang tak terbantah. Baru sampai bab satu, sudah ngoceh membodoh-bodohkan pihak lain. Jangan-jangan yang dibodohkan malah sudah khatam, bahkan sudah membaca ulang buku itu.

Saya yang mudah ngantuk kalau dapat senderan di tempat pengajian, lagi mudah pules kalau sudah kenyang. Pernah mendengar analogi orang buta melihat gajah. Cerita yang sudah sangat awam lah. Banyak yang tahu. Satu orang menyebut gajah itu tipis dan lebar, karena dia memegang telinganya. Satu orang lainnya menyebut gajah itu lebar, tinggi, seperti tembok. Tentu karena dia memegang tubuhnya. Satunya menyatakan gajah itu besar bulat seperti tiang yang kokoh, yup karena dia pegang kakinya. Begitu seterusnya, ada yang bilang gajah itu seperti pipa lentur yang bisa mengeluarkan angin, karena dia pegang belalai.

Mengapa fenomena baju sepotong, fenomena orang buta memegang gajah demikian riuh belakangan ini? Betapa mudah orang menyalahkan orang lain. Menunjuk hidung tanpa kesantunan menyematkan kebodohan pada pihak lain.

Mungkin dugaan saya salah. Apakah kita sudah mulai malas belajar. Atau malah sama sekali sudah tidak belajar. Merasa cukup dengan pengetahuan yang kita miliki. Malas mengeksplorasi lebih lanjut, menjahit pengetahuan satu dengan pengetahuan lainnya. Sehingga menjadi pengetahuan yang utuh. Atau jangan-jangan memang tidak ada bahan berikutnya yang bisa kita jahit?

Selain Pak Wahyu, di komplek saya ada juga Bu Toni yang kalau mau lebaran order jahitannya mengantri. Saya belajar sungguh dari mereka, bagaimana agar bisa melihat bentuk baju yang utuh dengan segala keindahan bentuk, pola, dan coraknya. Karena demikianlah baju. Selain nilai fungsinya, salah satunya menutup aurat, juga ada nilai estetiknya. Keindahan.

Terima kasih tukang jahit, telah membuat saya paham. Bahwa melihat sesuatu tidak bisa sepotong-sepotong. Apalagi mengototi hal yang hanya sepotong. Saya belajar padamu, wahai semua tukang jahit di seluruh dunia…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s