Sudut Pandang

Kalau Tinggal Metik, Ngapain Menanam


Sederhana sekali sebenarnya, menanam!

Sayangnya sebagian dari kita lebih suka memetik tanpa mau menanam. Kadang malah memetiknya tidak dengan cara elegan. Ada yang ‘kemaruk’, memetik sebanyak mungkin. Lebih banyak dari yang dibutuhkan, lebih dari kapasitas daya tampung yang dimiliki. Ada pula yang memetik dengan ajian ‘mumpung’. “Mumpung nggak ada orangnya nih…” padahal terjemahan bebasnya sama dengan mencuri alias maling. Atau, “Mumpung boleh nih, kapan lagi…” padahal tafsirnya, ‘kemaruk’ alias rakus, dan tidak tahu diri.

Banyak lah tafsir memetik.

Menanam fixMisal nih, ada orang yang menanam mangga. Dia disirami, dia urusi pupuknya, dirawat sedemikian rupa. Saat musim berbunga, bahagianya luar biasa, doanya meluap-luap semoga diizinkan nantinya dia menikmati buahnya. Tiap hari ditengoki, dilihati, disenyumi. Menikmati betul prosesi perkembangan dari bunga, menjelma jadi bakal buah, dan rupa yang terus berubah, membesar, membesar, dan kian membesar.

Tetiba, seorang datang entah dari mana asalnya…

“Wuih, mangganya buah, dirujak enak tuh!” Tak apa kalau hanya sampai segitu. Tapi kalau, “Wah, boleh juga tuh mangga!” sambil tangannya bergerak cepat mencari galah untuk memetiknya. Mungkin masih tak mengapa jikalau memetik seperlunya, tapi kalau kejadiannya, setelah memetik, lalu buahnya masam karena masih muda, dan tidak dihabiskan, menggeletak sisanya bersama kulit dan pisaunya. Apa kata sang pemilik sepasang mata yang setiap hari menyertai dengan rasa penuh harap, kelak mangga itu akan dia nikmati dengan suasana paling puncak dari segala nikmatnya.

Saat ini, sependek yang saya rasa, saya lihat, dan saya rasa… tidak terlalu menarik perihal ‘menanam’ ini. Mungkin saya lebai, berlebihan. Bahwa orang-orang yang masih terus menanam adalah orang yang mencintai kehidupan masa depan. Orang yang sangat yakin, bahwa Allah akan menumbuhkan. Entah apa bahasa agamanya, saya tidak terlalu paham.

Menaman tidak hanya pohon. Ketika seseorang menanam kebaikan, kemanfaatan, ilmu pengetahuan, juga sebaliknya. Semua akan dipertumbuhkan. Diciptakan akar-akar yang akan menopang kekuatan batangnya. Ditumbuhkan dahan untuk kemudian ranting-ranting bercabang. Dipergilirkan hijau daun, dari yang muda, tua, hingga kering dan kemudian jatuh agar merimbun. Terus, hingga ada bunga yang berputik, menjadi buah, menjadi buah…

Tidak harus kita yang memetik.

Almarhumah ibu saya senang sekali menanam. Tidak hanya di sekitar rumah, tapi di halaman Posyandu yang pernah diurusi semasa hidupnya. Di tempat lain yang mungkin ditanami. Kini beliau tiada. Pohon kelapa di belakang masjid, orang bilang. “Itu kelapa tanamannya Bude…” –Orang komplek menyapa ibu saya dengan panggilan Bude-. Atau ketika tiba-tiba penjaga Posyandu datang ke rumah, mengantarkan buah nangka yang matang, “Ini buah nangkanya Bude,” atau sebelah rumah yang sempat diberi bibit pisang ke rumah, membawa beberapa sisir pisang, “Dulu yang bibitnya dari Bude. Itu masih ada lagi…”

Ibu saya tidak menikmati apa yang dia tanam. Tapi, anaknya, menantunya, orang-orang di sekitarnya, orang-orang yang jauh dari dunianya di alam kubur sana, menikmati hasil dari yang beliau tanam..

Jadi apa lagi yang harus saya tafsiri dari ‘tanam-menanam’ ini?

Apakah saya termasuk bagian dari orang yang telah menanam? Seberapa banyak saya telah menanam? Atau hanya orang yang berharap hanya memetik. Atau malah orang yang tega menebang tanaman orang?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s