Story & History

Tempat Lahir


Menjadi orang Indonesia itu menyenangkan. Banyak keramaian…

Seharian ini, sejak pagi saya sudah mendapati beberapa keramaian. Pagi sebelum subuh, bebek dan ayam peliharaan tetangga sudah ramai. “Bebek saya kalau ada tikus atau binatang lain mesti ramai,” kata pemiliknya seraya meminta maaf, kalau suara bebek peliharaannya yang cuma dua ekor itu bikin tidak nyaman.

Berikutnya, ramai tukang jualan yang teriak. Ada yang teriak roti rasa roti, ada tukang bubur ayam, disusul tukang bubur sungsum, hingga geser beralih giliran. Ada tukang jamu, tukang sayur, tukang gas dan air isi ulang… Hadeuh, begitulah ramainya.

Bahkan satu orang tukang sayur saja bisa bikin keramaian. Memiliki daya magnetis yang menghinoptis para ibu untuk terus bicara apa saja sambil memraktikkan ketrampilan memilih jenis sayuran, menawar, sekaligus menggosip.

Soal konten, gosip kaki lima bisa sangat luas jangkauan dan temanya. Jangankan soal suara bebek berantem sama tikus, ayam berkokok tengah malam yang diartikan ada anak perawan hamil. Misalnya lho… Soal penting dan genting tentang politik, negara, dan kekuasaan pun tak luput dari bahasan gosip. Soal harga naik mah sudah terlalu basi, mau puasa pasti naik, mau lebaran apalagi. “Belum juga puasa, saya dan keluarga sudah puasa,” celetuk salah satu dari mereka. “Lha, gimana, apa-apa naik…”

Antara menggosip, kesal, memaki, dan nyinyir nyaris tidak ada batasannya. Emosi yang dimainkan lincah sekali. Jadi jangan heran, kalau soal kekeliruan pidato soal kelahiran Presiden Sukarno oleh Presiden Jokowi pun renyah dibicarakan.

“Presiden kok nggak ngerti sejarah?”

“Apa sampeyan ya ngerti?”

“Lha kalau saya nggak ngerti ya pantes, cuma rakyat…”

“Emang kalau rakyat lebih ngerti dari presiden kenapa?”

“Ya kasihan presidennya…”

            Kerumunan kecil yang mengelilingi gerobak sayur pun riuh dengan cekikik tawa geli. Begitulah keindahan menjadi orang Indonesia. Bisa menertawakan ironi dengan sangat sadar dan menghibur. Kondisi mereka sama, susah-susah juga. Wong yang dihadapi sama, kenaikan bahan konsumsi sehari-hari. Sementara gaji dan upah suami mereka tidak mengalami kenaikan.

“Jadi yang bener Bung Karno itu lahir dimana? Blitar apa Surabaya?”

“Wis, daripada ribut, jelasnya kita tanyakan pada yang bersangkutan…” celetuk tukang sayur. Kontan saja, tukang sayur ngawur itu jadi sasaran para pelanggannya.

“Dasar tukang sayur edan!”

Tuh kan, enteng saja memaki seseorang. Tidak cuma dimaki, dikatain, tapi dibonusi juga. Bisa cubitan, bisa dilempar terong, atau disapu mukanya pakai seikat kangkung. Dan yang dimaki juga tidak emosi, cengar-cengir belaka. Betapa luasnya daya humor para jelata ini. Kelenturan dalam interaksi tak membuat kesumat, kecil hati, mudah tersinggung, dan bikin front. Asyik banget kan…

Saya menyukai keramaian. Tapi yang menghibur…

Seperti pertunjukan teater rakyat yang sangat natural itu. Tanpa pencitraan, tanpa mempersoalkan kasta intelektualitas atau hal rasis lainnya. Menjadi rakyat sungguh menyenangkan. Meski tidak selalu senang, kan manusia selalu ada cobaannya. Beda-beda kadarnya. Lagi-lagi, ini soal keluasan. “Menjadi orang itu yang luas…” kata mendiang ibu saya. Kalau luas, katanya lagi, tidak mudah tersinggung kalau dikritik atau dinasihati. Tidak mudah tersulut amarahnya, tidak tinggi hati dengan sedikit yang dimiliki. Karena hakikatnya tidak ada orang yang sempurna kan? Kesempurnaan hanya milik Allah. Tapi kalau ada yang tidak mau belajar, merasa cukup dan puas diri dengan apa yang diraih, dimiliki, dan digapai. Kasihan juga sih…

“Eit ibu-ibu, jangan bubar dulu, dimana tempat lahir Bung Karno?”

“Di dukun bayi…” sahut satu ibu sambil ngibrit bawa sayuran.

“Baiklah, tapi itu belum diitung Bu, masak ngutang lagi…”

Aih, indahnya Indonesia saya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s