SENGGANG

Wartang – Kuliner Akulturasi di Tepian Cisadane    


Setelah menyusuri pinggiran Sungai Cisadane, saya dengan rombongan teman-teman mahasiswa P2K UMT memilih Wartang sebagai persinggahan kuliner. Wartang itu singkatan, tapi juga merk dagang. Warung Akulturasi Tangerang, begitu panjangnya. Alhamdulillah saya dan teman-teman berkesempatan bertemu dengan sang inisiator dan pemiliknya, Mas  Faiz Alatas.

Menurut pemiliknya, kenapa disebut akulturasi…

“Karena warung ini menyajikan berbagai menu lintas budaya. Tangerang adalah salah satu kota yang memiliki akulturasi lengkap. Selain Cina, Arab, Betawi, Banten, ada juga Jawa, Sunda, dan Eropa. Keragaman itulah yang menginspirasi Warung Akulturasi Tangerang atau Wartang ini…”

wartang-plang
Wartang – salah satu kuliner pilihan di tepian Cisadane
wartang-nasibakar
Nasi Bakar Peda – salah satu varian menu yang yummy…
wartang-umt1
Kuliah Kuliner bersama teman-teman P2K Public Relations UMT
wartang-umt2
Exploring Tangerang, belajar tak harus terperangkap kubikel

Nah, berhubung beliaunya sibuk, apalagi baru saja selesai hajatan Festival Cisadane 2015. Wartang berpatisipasi membuka empat gerai selama sepekan. Jadi, syukur banget masih bisa disambut ownernya. Muda, gagah, tampak pekerja keras, dan inspiratif. Kesempatan bertemu walau sebentar, cukuplah berharga buat saya.

Walhasil, saya dan rombongan berhasil menguasai semua meja lesehan di sebelah kiri. Karena selain makan, saya harus menyampaikan satu materi untuk teman-teman mahasiswa ini. Mereka harus menulis dalam seminggu ini. Menulis apa? Ya menulis tentang hasil kuliah luar ruang ini lah… hehe, kayak iklan ya. Ada indoor, ada outdoor atau luar ruang.

Jadi, pilihan menunya banyak. Benar-benar akulturatif…

Saya memilih makan nasi timbel komplit! Sunda pisan, kan. Sambelnya pedes bukan main, bikin mata melek, kepala pecah, hehe… Istri saya, makan nasi bakar. Varian nasi bakar ini macam-macam. Dari isi ikan peda, ayam, apa lagi yah, banyak pokoknya. Rasanya? Dahsyat! Recommended lah… soalnya saya ikut makan nasi bakar peda, menghabiskan pesanan istri saya.

wartang-escampur
Es Campur Wartang
wartang-eskuwut
Es Kuwut khas Wartang

Selain itu, ada ayam bakar yang tampaknya juga uenak. Soalnya sebagian mahasiswa itu memilih menu itu. Ketika saya lihat, hmm, mereka makannya lahap sekali. Mungkin perpaduan antara lapar dan menu yang enak itu. Harapan saya, materi kepenulisan yang saya sampaikan sambil makan enak itu, juga ikut dikunyah dengan renyah masuk menjadi ilmu yang menyatu dalam darah mereka. Sehingga, kelak, akan semakin banyak, mahasiswa Tangerang yang menuliskan tentang kotanya sendiri. Kota yang sebenarnya luar bisa untuk dieksplorasi segala sisinya.

Lepas dari mereka, maksudnya ketika acara usai, teman-teman bubar. Saya melanjutkan kongkow saya dengan tim Fun Institute. Fitri baru pesan makan, kalau tidak salah ayam penyet. Saya lihat menggiurkan. Sayang saya sudah kenyang. Maka, akhirnya saling memesan ulang minuman saja. Saya memilih Es Kuwut andalan khas Wartang. Menyegarkan sekali… harus dicoba. Istri saya memesan es campurnya, Dina sang calon doktor memilih es pelangi atau apa namanya, nanti dicek di daftar menu saja.

Wartang ini lokasinya mudah dijangkau. Berada di sisi Sungai Cisadane. Bersebelahan dengan tempat nongkrong dan wisata kuliner lainnya. Saya datang menjelang asar dan baru buka. Kita juga bisa mendapati pemandangan menarik, bisa menikmati sunset di tepian Sungai Cisadane. Apalagi kalau kita memilih duduk di kursi tenda yang berderet di sepanjang tepian kali, persis di depan Wartang.

Andai saja saya tidak kekenyangan…

Saya masih ingin mencoba menu lainnya, ada nasi ulam yang menjadi andalan Wartang. Satu hal lagi, saya masih penasaran dengan makanan khas Tangerang yang sudah langka dan disajikan di Wartang. Ada yang tahu ondar-andir? Empleng? Roti Konde?

Aih, rasanya saya akan ke Wartang lagi untuk mengkhatamkan rasa penasaran dan memanjakan lidah saya. Kelihatannya, asyik juga menulis di tepi Sungai Cisadane depan Wartang itu. Menikmati pemandangan Sungai Cisadane, ditemani lilin temaram, plus fasilitas  wifi-nya gratis. Setidaknya, menjadi catatan saya dalam Exploring Tangerang, jangan lupa ke Wartang. Pilihan menunya benar-benar akulturatif, walaupun tetap saja, bayarnya pakai rupiah, bukan pakai gulden, talen, euro, atau renminbi. Renminbi? Itu lho mata uang Cina…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s