FUN Institute

Sudut Pandang


Obrolan saya di saung Fun Institute, kali ini soal sudut pandang. Gara-gara pertanyaan sederhana dari Fhia, anak Sastra Arab UIN, yang sedang skripsi. Dia memiliki panggilan istimewa pada saya, ‘Panda’, mengimbangi panggilan ‘Bunda’ pada istri saya. Fhia adalah salah satu yang ‘cukup’ serius menulis. Sejauh ini, dia memulai dengan menulis cerpen, mengirim ke berbagai media, dimuat. Lalu menulis novel, diterbitkan, launcingnya pas ultah Fun Institute ke-2, setahun silam. Satu lagi, dia juga ngeblog…

Balik ke soal sudut pandang…

“Kenapa sih, Panda bisa memberi sesuatu yang beda, padahal objek yang kita tulis sama?” tanya anak gadis berkacamata dengan frame besar, mengimbangi wajah dan jilbabnya.

“Pertanyaanmu sudah menjawab kok, kenapa beda, ya karena melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.”

Beberapa teman yang turut bersila di saung turut menyimak. Khusyu bukan semata bahasannya yang mulai serius, tapi karena ada sajian lain. Cemilan yang dibawa masing-masing.

“Contoh, ini apa?”

Saya menunjuk pada gelas Fhia. Semua mata melihat ke objek yang saya tunjuk.

“Menurutmu ini apa?” tanya saya lagi.

“Gelas, isinya setengah air putih…” jawab Fhia.

“Kalau menurutmu,” saya menunjuk Dina.

“Bisa seperti Fhia, gelas yang isinya setengah air putih, bisa juga gelas yang isinya tidak penuh, atau bisa juga gelas berisi air putih sisa minum Fhia…” jawab Dina panjang.

Tidak ada yang salah. Ini yang disebut sudut pandang. Kalau dulu waktu saya magang bertahun-tahun jadi reporter di sebuah media. Sudut pandang sudah sepaket ditentukan oleh institusi tempat saya magang itu. Kalau agak ilmiahnya mungkin dalam dunia jurnalisme, ada tiga hal yang menyebabkan seorang jurnalis menulis dengan sudut pandang berbeda.

Pertama, bisa karena memang sudah ditentukan oleh institusinya. Seperti tempat saya magang bertahun-tahun lamanya itu. Mungkin itu yang disebut kebijakan politik redaksi. Haiyaah… gaya.

Kedua, bisa karena perbedaan segmentasi medianya. Kalau media umum, tentu akan lebih umum beritanya. Dibanding dengan media yang segmented. Misal, berita tentang Mafia Minyak di Petral. Media biasa ya luas bahasannya. Tapi media bisnis, apalagi media tentang perminyakan dan investasi, pasti akan mengambil sudut pandang berbeda dan lebih detail dalam laporannya.

Ketiga, bisa karena yang lain. Melaporkan berdasarkan urutan kronologis atau terstruktur. Misal, kunjungan pejabat. Kalau yang datang presiden, pasti disebut duluan, baru disebut yang lain, terus mengerucut berurut sampai ke tingkatan terendah. Ya semacam itu.

Tentu soal sudut pandang di penulisan jurnalistik, baik untuk penulisan berita, entah hardnews atau deepnews, termasuk feature, berbeda dengan pengambilan sudut pandang dalam penulisan fiksi. Kalau di fiksi, ada sudut pandang orang pertama atau akuan, ada juga sudut pandang orang ketiga.

Prinsipnya sudut pandang penting, karena bisa membuat tulisan menjadi ‘berbeda’ dan ‘menarik’. Tidak biasa, tidak seperti biasanya, tidak seperti banyak yang sudah ditulis sebelumnya. Tulisan yang menarik, tentu enak dibaca. Kecanggihan menentukan sudut pandang memang tidak serta merta. Perlu banyak latihan, selain sensitivitas menangkap hal unik, menarik, tapi penting. Tentu…

Satu lagi, orang semakin bisa menentukan sudut pandang karena kaya pengalaman, penuh dengan bacaan, dan pergaulan yang luas. Lagi-lagi ya, menulis memang harus terus membuka diri dengan berbagai pengetahuan, plus… terus menulis.

“Oke, Panda…” Fhia menghabiskan minuman yang tinggal setengah, eh hanya saparo, eh tinggal sedikit lagi di gelasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s