Sudut Pandang

Soal Kesepakatan


STEMPEL SEKWE1“Saya nggak ngerti Mas, kok jadi begitu…”
Lelaki itu datang tak lama setelah menelepon dan kirim sms sebelumnya. Saya bilang, saya baru pulang. Teh buatan istri pun baru berapa sruputan. Eh, dia sudah nongol di pintu gerbang. Ya sudah, kita ngobrol di teras sambil cari angin.

“Jadinya ribet, padahal bisa dibikin gampang,” lanjutnya.
Mengalir banyak cerita. Mengegaskan beberapa selentingan yang sudah sampai duluan ke kuping saya. Seolah mengonfirmasi bahwa berita itu benar adanya. Saya memang beberapa waktu ini tidak terlalu keluar malam. Badan rasanya lagi tidak begitu sehat. Absen dulu tidak ikut nongkrong di pos ronda, walau sekadar ngopi. Tapi bukan berarti saya terbebas dari berbagai berita dan selentingan yang beredar di berbagai sudut komplek.

Saya tidak tahu persis dalilnya, hanya sekadar tahu, bahwa etika bersepakat dalam musyawarah ya mengikat. Sampai ada kesepakatan berikutnya kalau mau menggugurkannya. Tidak bisa, di forum oke, setuju, sepakat, tapi di luar forum luluh tak berbekas apa yang disepakati. Dikeluhkan, dicarikan alasan, dan diberi pembenaran untuk mengingkari kesepakatan.

“Nggak sekali ini saja lho, Mas…”
Saya tersenyum saja. Menyediakan telinga lebar-lebar sambil menikmati sepoi angin malam yang masih muda. Duduk sesantai mungkin, bersandar, meluruskan kaki, sambil terus menyimak.
Intinya dia ingin bilang, bahwa ketika kita diberi amanah oleh masyarakat. Artinya kita sudah sangat, sangat siap melayani pemberi amanahnya. Apa pun risikonya, meski harus digedor pintunya tengah malam untuk urusan genting. Atau harus menahan lapar dan kantuk, lebih capek dari yang lain, mesti rela keluar tenaga sekaligus uang juga.

“Warga sudah menitipkan sebagian urusannya kepada kita, mereka membayar sesuai ketentuan, ya sudah, urusan warga nggak usah dibikin ribet lah…” dia menekankan pada kalimat terakhir. Nggak usah dibikin ribet.

Dia kemudian bercerita lagi tentang rapat terbatas yang menghasilan kesepakatan. “Bulat, Mas. Tidak ada yang keberatan waktu itu. Clear, semua sepakat!” dia diam sesaat, “Lha kok sekarang kejadian lain, gimana ini!”
Saya hanya punya pertanyaan sederhana, “Kalau kita sudah sepakat, lalu kita lakukan hal di luar kesepakatan itu apa namanya? Apa sebutannya?”

Mendadak saya ingat, pada suatu malam berkumpulah banyak warga untuk bermusyawarah. Kesepakatannya, “Kita sepakat ya, semua warga di erte ini memilih calon kita di pemilihan erwe nanti. Bagaimana, sepakat?” Ada jawaban riuh, “Sepakat!” Juga ketika ditegaskan dengan kata, “Setujuuu?” Jawabannya pun riuh dan penuh semangat, “Setujuuuu…”

Saya tersenyum sendiri. Teman bicara saya melihat…
“Kok senyum-senyum, Mas?” tanyanya.
“Nggak papa…” jawab saya sambil melintaskan beberapa wajah yang telah beralih ke lain hati. Beralih pilihan dari yang sudah jelas-jelas dimufakati dan disepakati. Cukup buat saya belajar, bahwa tidak selalu yang telah disepakati akan sampai hingga eksekusinya. Tua itu pasti, tapi amanah belum tentu. Ya, meski sekadar istiqamah pada kesepakatan…

Malam yang menarik sekali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s