Story & History

Jomblo, Anugerah Terindah


“Jomblo itu anugerah, karena tidak ada ruang paling indah selain masa menjadi jomblo,” kata saya di depan peserta seminar dan bedah buku “Jomblo Aib atau Prestasi, yang diselenggarakan BEM FISIP UMT di aula BLKD Kota Tangerang.

IMG_20150412_122136Sebagai pembicara terakhir, dimana peserta sudah mulai bosan, pantat panas, ngantuk, lapar mendera, namun kenyang dengan paparan dua pembicara sebelumnya, saya hanya berusaha menghidupkan suasana. Sudah cukuplah, penulis buku “Cintapedia” Mas Edwin yang prestasinya luar biasa mengupas tuntas soal cinta, jatuh cinta, dengan berbagai kajian psikologi sesuai bidangnya. Juga komplit sudah Mbak Cicih Yuningsih, penulis buku “From Jomblo to Nikah” mengurai pasal dan dalil shahih menjadi jomblo ideal dunia akhirat.

“Dulu, ada jomblo keren banget…” saya membuka cerita. “Masih usia belasan, dia sudah merantau, meninggalkan orangtua dan tanah kelahirannya untuk belajar di Batavia. Kenapa saya sebut Batavia, karena saat itu belum ada kecanggihan teknologi komunikasi seperti hari ini, semua tinggal enter, belum ada juga transportasi serupa sekarang…”

Saya berusaha sekali untuk bisa mengontrol konsentrasi audiens. Saya terus bercerita dengan jeda-jeda yang sebisa mungkin membuat mereka bertanya-tanya, penasaran, dan ingin tahu kelanjutannya.

“Di usia belum dua puluh, masih sembilan belas, dia mendapat beasiswa kuliah di Belanda. Hmm, itu sekitar tahun 1921. Masih dijajah VOC, bisa mendapat beasiswa sekolah di luar negeri. Kalau dia bukan orang hebat, tidak mungkin bukan? Di usia yang sama, pencapaian kita sudah sampai mana coba…”

“Bung Karno ya, Pak?” seseorang di barisan paling depan menyela tidak sabar. Perempuan yang duduk di sebelahnya menoleh. Saya memberinya senyum…

“Di Belanda, dia memilih mengotori tangannya dengan tinta ketimbang mengikuti ajakan dansa-dansi temannya. Dia lebih memilih terlibat dalam Perhimpunan Indonesia yang menerbitkan majalah berisi tentang cita-cita dan idealisme. Hingga kemudian ditangkap pemerintah Belanda karena dianggap menghasut…”

“Siapa sih, Pak…” terdengar celetukan dari salah satu peserta. Sekilas saya menyapu ruangan, lumayan masih banyak yang menyimak.

“Dia membuat pembelaan atau pledoi yang luar biasa, di depan pengadilan Den Haag, dia membacakan pledoinya selama tiga setengah jam! Bayangkan…” saya menjeda sesaat. “Bukan hanya bagaimana ketrampilan menulisnya, ketajaman dan kejernihan argumentasinya, tapi juga energi dan daya baca yang tidak biasa. Coba saya tanya, siapa di antara teman-teman di sini yang pernah, ya yang pernah membaca selama itu?” saya mengedarkan pandangan. Melihat wajah-wajah pelangi.

“Dalam kesendiriannya, dia mengabdikan semua hidup, demi cita-cita kemerdekaan negerinya. Memperjuangkannya dengan gigih, melewati berbagai pembuangan dan pengasingan. Beliau baru menikah setelah Indonesia merdeka. Jadi maaf-maaf ya… hari ini kita menikmati zaman yang merdeka ini, bisa bebas ngapain aja, berkat jomblo luar biasa ini, Bung Hatta…”

Dari belakang tampak panitia memberi isyarat, waktu tinggal lima menit lagi. Tak apa, nasib pembicara terakhir itu ya, enak gak enak. Enak waktunya dikit, nggak enak bahasannya nggak tuntas. Soalnya jomblo bukan soal aib, juga bukan soal prestasi. Tapi anugerah tentang ruang, soal mau ngapain di ruang itu, kembali kepada visi dan persepsi seseorang memandang diri dan masa depannya. Sayang waktunya sudah habis. “Nanti kita lanjutkan sambil ngopi yaaa…”

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s