Sudut Pandang

Sate Bebek Veve – Kehangatan Pertemanan


Veve itu nama anak teman saya, teman sekolah yang dulu saya juga tidak kenal, hehe… Tapi zaman menghubungkan kembali melalui teknologi. Dalam sebuah grup bbm – blackberry massanger – dan fesbuk, saya dipertemukan kembali dengan Mas Racmat. Dia adalah orang akhirnya bersetia dengan kampung halamannya, menjaga tempat lahir dan leluhurnya.

Sate Bebek Veve

 

Suatu hari saya mengunjunginya. Saya berjanji untuk datang dan menikmati sate bebek buatannya. Ya, Sate Veve, adalah merk dagang sate bebek Mas Racmat ini. Posisinya di Tambak, sebuah kecamatan antara Sumpiuh dan Gombong, Jawa Tengah. Bisa dilewati ketika kita melakukan perjalanan ke timur dari Jakarta melalui jalan raya jalur selatan.

Walhasil, saya pun datang bersama istri…

Rupanya tidak hanya disambut dengan sate bebek yang dijanjikannya, namun ditambah dengan berbagai produk olahan bebek lainnya. Sebuah kehangatan pertemanan yang luar biasa. Cerita di grup bbm bahwa nikmatnya sate bebek Veve ini pun tidak lagi menjadi sekadar cerita. Saya sangat menikmatinya malam itu…

“Enak, Mat!” kata saya ketika baru mencicipi.

“Hmm, gulainya juga enak…” istri saya menambahi.

“Tenang, hari ini istimewa untuk tamu istimewa, stok mencukupi kalau mau nambah…” sahutnya dengan senyum.

Kehangatan itu bukan sekadar sate bebek dan gulai bebeknya yang memang enak tenan! Tapi ada reuni kecil, karena teman-teman lain pun ikut bergabung. Meramaikan malam dengan berbagai cerita, canda, dan ‘ceng-cengan’. Mengabarkan kebahagiaan, pun akhirnya sampai pada pembicaraan yang agak serius, ‘bagaimana kalau kita bantu teman yang tidak terlalu beruntung ekonominya?’

20140913_221911
teman-teman yang luar biasa…
20140913_201804
mie nyemek yang mantap jaya…

Pertemuan malam itu di Sate Bebek Veve Tambak, bukan lagi sebuah perjalanan lidah dan pengembaraan kuliner belaka. Tapi menjadi pertemuan hati, bahwa siapa pun punya keinginan dan niat baik. Kadang tidak menemukan jalannya, kadang tidak merasa berarti kalau hanya sendiri. Maka, malam itu menjadi kesadaran baru, bagaimana menjadi ‘jalan kebaikan orang lain’, serta menjadi ‘kebaikan itu lebih bermakna dan besar dengan kebersamaan.”

“Boleh nambah ya,” kata saya.

“Mau nyobain mie nyemek nggak, Fan? Enak…” tanya Rachmat balik.

“Wow, boleh, boleh…” sahut saya senang.

Tak seberapa lama, seporsi mie nyemek pun datang ke meja saya. Seorang teman nyeletuk, “Pantes badannya ekstra gembul, Taufan ususnya panjang banget…” Tentu saja disambut gelak tawa teman-teman yang lain. Saya sih cuek saja. Wong buat saya dalam soal makan dan menikmati makanan itu, “Tidak ada doa tolak rezeki, kan?”

Pokoknya, sate bebeknya Mas Racmat bakal jadi ‘agenda wajib’ yang harus saya datangi kalau saya melakukan perjalanan darat lewat jalur selatan lah. “Mantep Mat! Moga-moga laris manis, seneng ngliatnya…” ketika saya pamit. “Makasih ya Fan, malem ini rame banget…” ujarnya sambil salaman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s