Sudut Pandang

CHSE – Apa Salahnya Pohon


STEMPEL SEKWE1“Kok, pohonnya ditebangin, Mas?”

Bukan hanya satu atau dua orang saja yang bertanya. Lalu pernyataan berikutnya beraneka rupa. “Kan panas, udah bagus rimbun, adem.” Ujar beberapa orang yang biasa ‘berkedudukan’ alias sering duduk-duduk di sekitar pepohonan itu berada. “Apa salahnya pohon, kok ditebang, kalau di Belanda itu kena delik lho Dik Taufan…” Duh yang pernah tinggal di negeri kincir angin referensinya keren deh. Ada lagi yang agak marah, emosional lah.

Ada juga yang mewakili beberapa orang, intinya menyesalkan. Karena pohon yang ditebang dan tumbuh dengan rimbun itu sengaja menjadi tempat teduh untuk tempat bermain anak-anak. Di bawahnya ada sepaket mainan anak-anak, ayunan dan teman-temannya. “Bagus deh ditebang, jadi anak-anak kalau mau main jadi panas, langsung kejemur matahari.”

Pernyataan yang terakhir itu bagus, kalau dikaji dari segi kebahasaan. Sindiran dengan amarah yang tajam. Karena memang pohon yang ditebang itu sudah ada sejak saya pindah ke komplek ini. Kalau saya saja sudah hampir 20 tahun di sini, berarti pohon itu umurnya lebih dari segitu.

Hmm, kelihatannya sederhana…

Hanya menebang pohon. Apa pun alasannya tidaklah sederhana. Konon untuk program baru, “Nanti kan sepanjang jalan ini kita kasih pot. Biar kelihatan asri…” Saya mengapresiasi hal ini, karena ini program bagus. Kalau saya melawan, tidak setuju pastilah saya masuk kategori ‘bukan warga erwe yang baik’, apalagi saya sebagai sekwe… halah!

Terus terang saya tidak bisa menjawab dengan baik pertanyaan ini. Kecuali menjawab sesuai yang saya tahu, normatif belaka. Karena saya memang tidak tahu ada program tebang-tebang pohon dan gundul-gundulin pohon. Setahu saya ya program membuat wajah komplek menjadi bersih, indah, dan asri. Itu yang saya catat dalam notulen rapat, maupun saya ingat dalam beberapa pembicaraan.

“Hari Minggu kita kerja bakti…”

Ya itu saja perintah atau instruksi yang saya catat. Dengan lugu saya memakna hari Minggu itu kerja bakti. Seperti bebersih got, saluran air yang nyaris tidak berfungsi. Lalu beberes sampah yang menggunung sepanjang jalan masuk komplek. Hanya itu… Tidak ada komando untuk ‘buang pohon’ atau ‘tebang pohon’. Kalau sekadar mengurangi dahan atau ranting mungkin dimaklumkan. Bisa jadi karena terlalu rimbun,  nyangkut di kabel listrik dan membahayakan, atau berpotensi patah kena angin, menghalangi pandangan, atau semacam itu lah. Wajar kalau sekadar dikurangi dahan dan rantingnya.

Saya hanya belajar saja, bahwa visi yang baik harus dijabarkan dengan baik lalu dikomunikasikan dengan baik. Juga inisiatif yang baik juga perlu dikordinasikan dengan baik. Agar semua hasilnya adalah kebaikan. Ya kebaikan bersama, juga kelebihbaikan yang lebih maslahat dan manfaat.

Kekuasaan itu bak pedang berbilah. Seberapa pun tingkatnya, apa pun tingkatannya. Harus menjadi jalan kebaikan dan lahan kebaikan. Membuat orang menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Jadi mentang-mentang, jadi keangkuhan, dan membenih kebencian, seberapa pun takarannya. Bukankah sebesar zarah pun kalau itu benih kebencian, kedengkian, prasangka, dan kejumawaan, juga tiket menuju ujung kehancuran. Sebuah pelajaran penting buat saya. Ini yang membuat saya mencatatnya…

Sambil berharap, tanaman dalam pot itu segera tumbuh. Rimbun dan indah. Semoga saja, saya hanya bisa berharap. Pohon Waru yang umurnya dua puluh tahun lebih, pohon angsana yang puluhan tahun lebih umurnya terganti. Itu saja…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s