Ibu

Empat Tahun Berlalu, Pesan Itu…


ibu-bundar-emasEmpat tahun lalu, persis tanggal 24 Februari 2011…
Allah memanggil ibunda saya ke haribaan terindahnya. Pergi dalam puncak cintanya. Teriring janji, “Taufan bisa, Mam…”

Hari ini tanggal yang sama dalam tahun yang terus berderak. Dalam balutan berbagai rasa, saya semakin paham, betapa ibu saya orang yang luar biasa. Banyak amalan baiknya yang tak terkejar. Gerak ilahiyahnya cepat sekali, lincah, dan total. Sementara saya? Malu membandingkannya. Tidak sebanding, tidak seujung kuku. Saya masih terus terseok-seok, masih berhitung, lamban dan patah-patah.

Dalam gerak lainnya, ibu saya seorang single parent yang ajaib. Daya dan energinya kokoh melawan berbagai terjangan sinisme, gunjing, dan fitnah. Demi konsistensinya menuju cita-cita hidup dan menjalankan kewajibannya, beliau tutup mata, tutup telinga, dan tutup mulut, persis seperti peribahasa Jepang yang terkenal, sansaru atau sanbiki no saru. Di barat,dikenal dengan turning a blind eye.

Konon merupakan ajaran Confucius yang dipahatkan di gerbang sebuah kuil di Nikko, Jepang pada abad 17. “Tidak melihat yang bertentangan, tidak berkata yang bertentangan, tidak mendengar yang bertentangan, dan tidak berbuat apa yang bertentangan dengan kepatutan.”

tutup mata1Ajaran yang menjelma dalam simbol three wise monkey. Ada Mizaru, monyet yang menutup mata. Kikazaru monyet yang menutup telinga dan Iwazaru, monyet yang menutup mulutnya. Dalam literatur lain, tambah satu monyet yang bersilang tangan, Shizaru namanya.

Saya yakin ibu saya tidak sedang mengamalkan ajaran ini. Beliau hanya mengajarkan pada saya, untuk meraih tujuan, kadang kala kita harus tutup mata, tutup telinga, dan tutup mulut. Maksudnya, fokus pada tujuan tapi tidak berarti menafikan pandangan lain. Tutup telinga dalam artian jangan terlalu peduli dengan omongan orang lain, sepanjang kita yakini apa yang kita lakukan benar, tidak merugikan orang lain, dan mengandung kemanfaatan. Tutup mulut, dimaknai jangan banyak bicara, kerjakan sebaik-baiknya. Karena tetap beda, orang yang hanya banyak bicara dan orang yang berbuat.

Semakin hari, semakin saya paham…
Seperti yang dipesankan ibu saya, “Kamu sekolah, kamu punya kebisaan, kamu punya ilmu, semua itu harus bermanfaat.” Pesan itu disampaikan puluhan kali, mungkin saya anak yang tak bisa hanya dengan sekali pesan langsung jalan. Sehingga harus dilakukan secara berulang, repetitif. Sampai pesan itu benar-benar menyatu dan sublim. Belum banyak yang saya perbuat, saya tidak yakin juga, apakah yang belum banyak itu juga bermanfaat.

Empat tahun berlalu tanpa ibu, separuh hidup saya…
Bukan hal yang ringan, tapi juga bukan sesuatu yang berat. Karena saya yakin, Allah mengiringkan banyak kemudahan dan jalan keluar bersama kesulitan. Saya hanya berusaha menunaikan dan menuntaskan janji pada beliau. Maka micek, mbudeg, mingkem versi lain tiga kebajikan dalam bahasa jawa, tutup mata, tutup telinga, dan tutup mulut adalah pilihan untuk sampai pada cita-cita yang harus saya tuntaskan. Seperti yang saya bisikan ke telinga ibu di hari-hari terakhirnya…

“Taufan bisa, Mam. Insya Allah, Taufan bisa…”
Meski sudah tak berdaya, tak bertenaga, tangannya mengelus rambut kepala saya berulang-ulang. Pelan, pelan nian… Keindahan yang terkenang di akhir hayatnya. Saya masih merasakannya hingga empat tahun berlalu. Lapanglah kuburmu Mam, teranglah jalanmu…

Mengenangmu, 24 Februari 2015

Iklan

2 tanggapan untuk “Empat Tahun Berlalu, Pesan Itu…”

  1. Micek, Mbudeg, Mingkem, kyaaaa, pesannya mendalam. Semoga Ibu Kang Tep senantiasa disayang Allah, ya. Kalau kata ibu saya ada 3 falsafah yang harus digigit erat juga : Ojo gumampang, Ojo nggawe gampang, Ojo Nggampangake.

    Sepertinya kita berdua mengidolakan sosok Ibu ya 🙂

    1. Tidak pernah habis cerita tentang Ibu, mungkin karena beliau adalah cerita yang tak ber-ending dalam hidup saya. Never ending story pokoknya lah… Saya aminkan doanya Mbak Cahaya, terima kasih banyak, semoga Allah menjaga Ibu kita… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s