SENGGANG

4 Destinasi Menarik Pecinan di Pasar Lama, Tangerang


Berawal dari rencana program kelas travel writing di FUN Institute, di antara banyak pilihan destinasi yang didiskusikan. Saya memilih wisata kota tua, pecinan di Tangerang. Dengan bekal berbagai referensi, Exploring Tangerang saya tawarkan. “Oke, bungkus!”

20150220_135008
TangCity, salah satu mal besar di Tangerang
20150220_162215
Tugu Jam, titik nol Kota Tangerang

Maka, mulailah saya melakukan perjalanan pendahuluan. Saya mencatat setidaknya ada empat bahkan lebih pesona yang menarik untuk menjadi destinasi city tour. Memenuhi banyak syarat sebagai destnasi wisata kota tua. Di kawasan Pasar Lama, dari titik nol Tangerang, saya bergerak.

Klenteng Boen Tek Bio

klenteng boen tek bioKlenteng tertua di Tangerang, diperkirakan dibangun tahun 1684. Merupakan bukti bahwa etnis Tionghoa sudah masuk ke Tangerang pada abad ke-17. Konon dulu di sekitar Kalipasir, tepat di tepian Kali Cisadane, Belanda mendirikan perkampungan orang Tionghoa yang kemudian dikenal dengan nama Petak Sembilan. Petak Sembilan kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan, yang kita kenal sekarang dengan Pasar Lama. Klenteng Boen Tek Bio, dibangun secara bergotong royong oleh para kongsi dagang di pasar Petak Sembilan itu. Bangunan ini sangat menyolok dengan dominasi warna merahnya, mudah dijangkau kok…

Museum Benteng Heritage

20150220_153938Letaknya tidak jauh dari Klenteng Boen Tek Bio. Hanya beberapa puluh meter saja. Museum Benteng Heritage menyimpan banyak koleksi dan artefak Tionghoa hingga referensi masuknya etnis Tionghoa sampai ke Tangerang. Bangunannya merupakan rumah yang didirikan tahun 1700-an. Walaupun sudah direstorasi, 90 persen merupakan bangunan asli. Pemilik Udaya Halim, membeli rumah itu tahun 2009, lalu merestorasinya selama dua tahun. Tanggal 11 bulan 11 tahun 2011, Museum Benteng Heritage diresmikan. Buka setiap hari, dengan harga tiket 20 ribu rupiah. Masuk museum ini semakin membuat saya mencintai sejarah, juga menakjubi kota Tangerang yang saya tinggali.

Masjid Kuno Kalipasir

Masjid Kuno Kalipasir berada tidak jauh dari kedua destinasi sebelumnya. Konon didirikan tahun 1700-an. Malah ada kabar, di menara yang bentuknya seperti pagoda itu, tertulis tahun 1615. Wallahu ‘alam. Meski mengalami beberapa kali renovasi, tidak meninggalkan ciri aslinya. Sebuah keunikan atau lebih bisa disebut sebuah pencapaian akulturasi budaya yang baik, karena arsitektur masjid yang didominasi warna putih dan hijau ini menyatukan unsur Arab, Eropa, dan Tionghoa. Soal sejarahnya, konon salah satu tumenggung dari Kesultanan Cirebon, singgah di Tangerang untuk perjalanan dakwahnya ke Banten. Tumenggung Pamit Wijaya kemudian mendirikan masjid, tidak jauh dari klenteng yang lebih dulu ada. Tapi saya harus bertanya lagi pada sumber yang kompeten. Tapi kekaguman saya tak terperi, pada sejarah pecinan ini, juga pada toleransi yang sudah terjadi melintasi beberapa generasi.

Tangga Jamban di Tepian Cisadane

Saat saya mengunjungi Museum Benteng Heritage, salah satu sudutnya terdapat Prasasti Jamban. Sebuah prasasti yang ditemukan oleh warga dengan tulisan cina bertahun 1873. Isinya tentang daftar nama orang yang sudah menyumbang Serikat Boen Tek Bio untuk membuat jalan, perahu, dan lainnya. Nah, tidak jauh dari Klenteng dan museum, ada dermaga merah yang di tepi Kali Cisadane yang sering disebut sebagai Tangga Djamban. Karena di tempat itu dulu ada tangga untuk menuju jamban atau kamar mandi. Selain itu, terdapat sebuah altar untuk memuja Toa Pe Kong Kali atau dewa penguasa kali. Saat ini menjadi tempat mangkal juga buat perahu yang siap mengantarkan pengunjung menyusuri Sungai Cisadane, cukup dengan 20 ribu saja.

20150220_155025
Perahu di dekat Tangga Jamban Cisadane
20150220_155130
Salah satu kuliner di tepi Sungai Cisadane

Kalau tidak mau berperahu ya, santai saja di tepi Sungai Cisadane sambil menikmati berbagai kuliner. Saya sih memilih es durian, kemarin sih satu gelas harganya 13 ribu, moga-moga tidak berubah ya. Tenang saja, banyak pilihan kuliner di sepanjang tepi Cisadane…

Belum tuntas sih. tapi setidaknya saya merasa sudah jadi orang Tangerang. Puluhan tahun tinggal di Tangerang, saya kok merasa kebangetan sekali tidak mengenali kota saya dengan baik. Parah nih! Sekarang saya siap antar tetamu di FUN Institute untuk melakukan city tour keempat destinasi di atas deh. Cuma setengah jam perjalanan kok dari tempat saya tinggal. Baik naik sepeda motor atau mobil, naik angkot juga tidak sampai satu jam…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s