Ibu

Bunga di Meja Makan


bunga di meja makan

“Nanti kalau Ibu naik haji, kamu tidur di kamar Ibu ya…” kata ibu sambil menemani saya makan, duduk di kursi berseberangan, berhadapan menghadap meja makan. Ibu masih sehat, masih bugar. Sekitar empat bulan sebelum terbaring lemah di Rumah Sakit Omni Alam Sutra.

Saya mengiyakan, mengangguk, seraya menikmati pindang bandeng buatan beliau yang tidak terduakan rasanya. Menu kesukaan ayah saya, yang kemudian menurun menjadi salah satu kesukaan saya. “Heran, makin ke sini kok kamu makin persis bapakmu. Sampai ke makanan segala, seleranya sama.”

Lagi-lagi saya tersenyum.
Ibu saya itu punya kebiasaan tidur siang jam 11-an. Dan bangun menjelang waktu dzuhur. Setelah menunaikan shalat, beliau baru keluar kamar. Tujuannya, kalau tidak ke meja makan, ya kebun tanamannya. Maka, tidak mengherankan, di meja makan selalu tersedia makanan siap santap. Baik yang dimasak ibu, dimasak istri saya, atau hasil masak bersama ibu dan istri saya. Dua perempuan istimewa dalam hidup saya.

Satu lagi, di meja makan selalu ada bunga…
Makanan dan bunga. Seperti bagian yang khas menemani hari-hari saya, ibu, dan keluarga kecil di rumah. Bagi saya, meja makan adalah tempat kuliah kehidupan yang tak terperi indahnya. Ruang transformasi nilai-nilai yang dahsyat. Wilayah terindah untuk menikmati hubungan terbaik antara saya dan ibu. Banyak mengalir petuah, banyak masalah terurai dan selesai, dan tentu saja banyak cinta.

Sudah empat lalu ibu saya pergi…
Allah lebih mencintainya. Memanggil kekasih hatinya, persis ketika berada di puncak kerinduan dan cintanya. Saat beberapa waktu lagi terbang menuju baitullah. Menjadi tamu sang Maha Cinta. Semua sudah siap dan dipersiapkan. Tinggal manasik dan menunggu waktu berangkat. Namun, rupanya Allah lebih merindu beliau. Hanya tinggal berapa bulan saja, berapa hari lagi, ibu saya dijemput malaikat utusan-Nya menuju haribaan terindah. Diiring suara azan maghrib yang suaranya menembus kisi-kisi ruang isolasi di lantai tujuh rumah sakit internasional itu. Dengan iringan talkin yang tak berjeda, saya peluk tubuhnya, saya genggam tangannya, dan tak kunjung henti saya ciumi pipinya. Saya dipersaksikan, mengantar hingga embusan napas terakhir ibu.

Meja makan sepi setelahnya…
Meski tidak setiap kali, istri saya turut serta menghadirkan suasana ruang makan seperti biasanya. Seperti ketika ibu belum pergi, seperti saat ibu menumpahkan banyak cerita. Makanan siap saji tentu saja, dan rangkaian bunga potong…

Tradisi keluarga makan bersama di meja makan saya lanjutkan, sebisa-bisanya waktu. Memang tidak bisa setiap waktu. Kadang hanya saya dan istri saja. Sekali waktu bertambah dengan kemenakan saya. Sering juga saya mengajak teman untuk makan bersama di meja makan itu. Bagi saya, meja makan itu saksi dari banyak pembicaraan. Diamnya menyimpan banyak kenangan. Banyak transformasi nilai-nilai kebaikan hingga dialektika filsafati.

Buat saya, dengan segala persepsi dan bentuk rekonstruksi tentang ibu saya di mata orang lain, saudara, dan handai taulan. Ibu adalah makhluk terindah, terbaik, dan termulia. Sosok tak terdua, tak terganti. Rasanya sekadar menghiasi meja makan dengan bunga, seperti saat ibu masih ada, bukanlah rindu berlebihan. Buat saya, dalam kenangan ada benih spirit yang bisa terus ditumbuhkan. Menyegarkan ingatan, menambah daya gerak, mendorong langkah kemanfaatan secepatnya, sebanyak-banyaknya, tanpa lelah.

Bahagialah Mam, doaku mengiring tiada henti. Seperti kembang di meja makan yang terus berseri…

*bersama iringan al-fatihah dan doa-doa terbaik untukmu | mengenang 4 tahun yang lalu…

Iklan

2 tanggapan untuk “Bunga di Meja Makan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s