FUN Institute, Fun Writing

Ingin Jadi Penulis


saya ingin jadi penulis

Banyak alasan mengapa ada arus anak-anak hingga orang tua ingin jadi penulis belakangan ini. 1001 alasannya. Nah, ‘barangkali’ itu yang membuat FUN Institute, dengan Komunitas Fun Writing-nya juga riuh berkumpul, berdiskusi, belajar, dan ‘bully-bully-an’ hasil tulisan mereka. Setiap hari Minggu, mereka bergantian datang.

Berdasarkan survey dari lembaga yang belum dibentuk, dan sampel yang sepintas lalu, haiyaah…. Saya mendapatkan alasan mendasar mengapa orang ingin menjadi penulis. Ingat, tekanannya pada ‘ingin’ menjadi penulis.

Saya mencatat ada tiga kata, ingin, menjadi, dan penulis. Ingin itu posisinya masih kaget belaka. Seperti anak kecil, temannya punya sepeda baru, dia langsung ingin punya. Temannya punya mobil baru, langsung ingin punya juga. Jadi masih kaget, karena kayaknya asyik, menyenangkan, penuh kesenangan. Nah, saya melihat masih banyak yang masih senang berada dan bermain-main dalam eforia ‘ingin’ menjadi penulis.

Mengapa begitu?

Karena kata berikutnya, ‘menjadi’. Menjadi itu sebuah proses yang panjang. Apakah nasi yang ada di piring itu mendadak sontak langsung nasi? Ada proses panjang sekali untuk sampai ke piring dan siap disuap. Dari membenih, tentu memilih benih yang baik dan unggul. Pembenihan sendiri berproses, ya penyiapan lahannya, ya waktunya, ya pemupukannya. Terus berproses sampai penyiapan lahan tanam sawahnya, dari mencangkul, mengairi, sampai siap ditanami. Kalau tidak sungguh-sungguh, ya capek! Berproses memang begitu, panjang, melelahkan. Makanya banyak yang rontok dan memilih cara instan.

Menjadi penulis, itu harus bisa menulis. Lho itu sejak SD juga saya bisa nulis, Bos!

Yup, cukup bercandanya ya. Menulis dalam arti, kita harus belajar tentang apa itu jenis tulisan, fiksi itu apa, nonfiksi apa saja, tulisan ilmiah itu makhluk apalagi, kalau faksi atau fakta fiksi itu model apa pula? Bagaimana kalimat efektif, seberapa penting diksi dalam bisa menjangkau pembaca, apa pentingnya EYD, hadeuuuhhh…. Capek deh!

Tuh kan, belum sampai jadi penulis sudah capek…

Ya sudah, saya kira istirahat dulu ya. Kecapaian bisa menimbulkan penyakit. Jadi kalau mau belajar menulis, sekali lagi belajar menulis ya rileks-rileks saja… Tapi serius. Berprosesnya intensif, bersama-sama biasanya lebih terjaga semangatnya. Ada suasana berkompetisinya, ada persaingannya, “Wah udah seratus halaman aja lu…” atau “Gue baru seribu halaman nih,” Hehehe…

“Jadi mana alasan 1001 satu yang mau tulis , Om.”

“Ya nanti dulu, kalau sudah yakin jadi penulis itu bukan cuma karena ‘ingin’ belaka.”

“Ah, payah nih!”

“Lho, bukannya alasanmu tidak kunjung menulis juga banyak? Sok atuh dituliskan juga, mengapa saya tak kunjung menulis juga, hehehe…”

~ hari Sabtu yang iseng.

Iklan

2 thoughts on “Ingin Jadi Penulis”

  1. Haha… keren. Nyinggung banget, tapi gue udah nulis di blog gue yang masih pondasi, alasan untuk tidak menulis. Sila disambangi, Bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s