Ibu

Sayap Ibu


ibu-bundar-emasSuatu ketika, saya mendapati cerita, ibu saya menetes air matanya setelah anak satu-satunya ini menikah. Tentu yang mengatakan hal ini orang terdekat ibu saya, asisten di rumah. Katanya, ia merasa belum percaya, kalau anak yang dikandung, disusui, diurusi, dan dibesarkan itu, sekarang sudah dewasa, dan punya istri.

Hmm… Saya paham sekali. Rasa kehilangan itu memang tak terhindarkan. Bukan kekhawatirannya setelah menikah saya akan melupakan ibu, bukan. Dia tahu persis komitmen saya menjaga ibu. Dengan istri pun saya sudah sepakat, bahwa saya mendudukkan ibu di prioritas pertama mengalahkan kepentingan domestik dan tempat kerja sekalipun.

Istri saya paham, bersama-sama meletakkan kecintaan tertingginya buat ibu. Penghormataan dan penghargaan untuk ibu melaju dengan baik. Ibu saya merasa tidak kehilangan, tidak merasa terpisahkan, semuanya berjalan seperti saya belum menikah.

Memang berat sekali. Cinta kadang kala menjebak seseorang untuk memiliki sepenuhnya. Padahal, zaman membuat segalanya tumbuh. Hati dipergerakkan, rasa dibolak-balikkan, dan posesivitas menderu-deru memelanting emosi. Sehingga, seringkali kita merasa memiliki semuanya, menjadi penguasa di setiap fase, lalu mengikat kencang kaki-kaki dan sayap-sayap yang kita latih untuk kuat, kita dongengi tentang keberanian para penjelajah, tanpa pernah berkehendak ingin menerbangkannya.

Ahay, ngomong apa saya ini.

memberi ruang1Mencintai itu memberi ruang, itu menurut saya. Saya belajar dari ibu saya, ibu saya belajar dari ayah saya. Begitu sanadnya. Jadi ketika saya mencintai seseorang, maka saya harus sediakan ruang baginya untuk tumbuh. Tumbuh menjadi dirinya sendiri, tumbuh ilmu dan pengetahuannya, tumbuh wawasan dan pergaulannya, tumbuh potensinya dan seterusnya termasuk tumbuh rasa syukur telah turut menumbuhkan.

Saya percaya betul, kita diberi otoritas mencintai dalam ruang dan waktu tertentu. Pada saatnya, dengan rasa cinta yang lebih besar, kita harus melepaskan seseorang atau sesuatu yang kita cintai. Memberinya ruang, membuktikan dongeng tentang para penjelajah dunia, mengepak sayap yang telah kita persiapkan.

Maka, cinta dan mencintai juga mencakup kesiapan untuk bersama dan tidak bersama dalam kebersamaan. Rumit ya… hehe, maksudnya harus siap bersama, tidak bersama, karena memang seharusnya begitu. Kebersamaan itu ada dalam doa-doa.

Saya tidak mengerti puisi, jarang menuliskannya, apakah yang seperti di bawah ini juga puisi. Saya hanya menyemangati diri sendiri, kalau saya seperti juga seperti orang-orang lain yang ‘punya rasa kehilangan’, ‘terlepaskan, entah dengan cara apa.

Bak melepas burung dari genggaman ke angkasa biru… Luaskan cintamu, luaslah cintamu. Sudah kau kuatkan sayapnya,  usai masa merawatmu,  biarlah dia terbang dengan keberanian yang kau ajarkan, kelak dia kabarkan betapa besarnya cintamu, kepada angin, laut, samudera, hutan, dan para pecinta di belahan bumi mana saja. Demikianlah cinta… Maka terbangkanlah…

Februari memang selalu membuat saya terbang. Membiru mengharu rindu, mengingatmu… Ibu. Alfatihah untukmu…

~ pada sebuah malam, saat lelap mendekap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s