Sudut Pandang

CHSE – Wajah Melas Bu Ros


STEMPEL SEKWE1            “Lho, kok di situ jualannya,” sontak saya terkaget, baru keluar rumah melihat pemandangan memilukan, “Kan panas, Bu Ros…”

Bukan hanya wajah perempuan yang duduk di belakang meja dagangannya yang tersentak. Beberapa orang di sekitar saya pun turut terkesiap. Saya tidak mengamati, seberapa banyak, tapi terlihat jelas pandangan mereka segera memusat. Menoleh, memutar leher, bahkan ada yang menghampiri saya yang baru datang bersepeda motor. Bahkan mesin belum saya matikan.

“Nggak boleh, Mas…” Bu Ros pemilik lapak itu menjawab.

“Sama siapa? Kan panas di sini…” sahut saya lagi.

Bu Ros menyebut sebuah nama. Saya hanya bisa mengumpat dalam hati. “Sialan! Dia lagi…” Mungkin seketika wajah saya memerah. Saya tidak ngecek walau bisa saja berkaca di spion motor. Beberapa hari ini saya mendapatkan laporan yang tidak begitu menarik tentang nasib teman-teman pedagang kecil di sekitar jalan masuk komplek. Dari yang hanya disuruh pindah sampai yang diusir padahal sudah nguleni adonannya.

Saya tahu, sangat tahu…

Bahwa ada program membuat komplek menjadi bersih dan asri. Saya tidak menolak. Karena salah satu pilihan seseorang dan keluarganya tinggal di suatu tempat adalah kebersihan dan keasriannya. Itu pula yang membawa saya dan ibunda saya jauh sekali memilih tempat ini puluhan tahun silam. Karena keasriannya…

Namun saya juga paham, ada cara berkomunikasi yang baik untuk menyampaikan niat baik, hal-hal baik, dan perubahan yang lebih baik. Bukan komunikasi yang arogan, mentang-mentang, bernada tinggi, dan menghentak menimbulkan rasa tidak nyaman.  Apa lagi sampai menimbulkan luka rasa, menjadi momok menakutkan. Itu sebab, kenapa saya dulu belajar ilmu komunikasi waktu kuliah.

Jujur saja, saya tercekat. Nelangsa…

“Saya nurut saja, Mas. Ya mau bagaimana lagi…” kata Bu Ros lirih.

Mata saya kian panas, serasa air kian menggenang. Melihat seorang perempuan setengah baya, berdagang dengan meja seadanya, hanya jajanan pagi, di bawah terik matahari, tanpa payung, tanpa pelindung, persis di pojok jalan. Hanya jualan jajanan… “Untungnya paling dua puluh ribu, Mas…” ujarnya dengan wajah melas yang tak mungkin mudah saya lupakan. Ya, wajah perempuan yang nyaris tidak pernah mengenal make up. Wajah sederhana, dari perempuan sederhana, dengan tekad sederhana. Turut membantu suami, walau harus berdagang dengan untung tak seberapa. Demi bakti pada suami, demi cinta pada keluarga.

Biasanya, dia berjualan di samping pos satpam. Atas nama ‘demi kebersihan dan keasrian’, maka dia tidak boleh lagi menggelar jualannya di situ. Hal yang dilakukannya bertahun-tahun lamanya. Hanya sepagian dia berjualan, belum tengah hari dia sudah pulang. Habis atau tidak. Dia memilih menjajakan dari rumah ke rumah sembari pulang.

Sedih sekali melihat orang terjemur di pinggir jalan…

Saya membayangkan seandainya itu ibu saya. Istri saya, bibi saya, atau saudara perempuan saya. Apa cukup dengan air mata untuk simpati belaka. Apa cukup dengan mengumpat sebabnya. Tidak… Saya melihat mata Bu Ros menatap penuh harap. Saya menangkap tatapan itu adalah jeritan minta tolong, ketidakberdayaan, dan mungkin dinistakan. Saya tak tahan, tak kuat berlama-lama melihat semua itu.

“Pindah lagi saja ke tempat semula, Ibu…” kata saya. Dia langsung menggeleng. Aura wajahnya tak berdaya. Saya kelilingkan pandangan, “Di sana, mungkin nggak terlalu panas. Atau Ibu pilih saja di mana tempat selain di samping pos.”

Hmm, saya belajar lagi. Bermasyarakat butuh empati dan sensitivitas yang tinggi. Bagi yang kebagian menjadi pemimpin atau petinggi, selain kedua rasa itu, ia juga harus cerdas berkomunikasi.

Pagi yang membuat saya perih hati. Sepenggal doa untuk perempuan berwajah tawakal di pojok jalan komplek yang pasti panas terjemur. Semoga semua kebaikan dan keberkahan melimpah untukmu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s