Sudut Pandang

CHSE – Cerita Si Buyung


STEMPEL SEKWE1“Saya bisa atur pedagang itu, Bang…” ujarnya dengan wajah penuh harap dan gerak tangan menyerta.

Ruang tamu saya menjadi hangat dengan kedatangan Buyung dengan salah satu petugas keamanan komplek. Saya terus berusaha mendengar. Ya, saya sadar sekali, tugas saya dengan posisi ini hanya bisa mendengar, sedetil-detilnya. Saya harus memiliki daya serap untuk memindai semua pembicaraan. Setelahnya saya pun ‘hanya bisa’ menyampaikan kepada pemegang mandat, pemilik wewenang atas segala kebijakan di wilayah ini.

“Saya hanya bisa mendengarkan, Bang Buyung,” kata saya, “Menyampaikan apa yang menjadi pembicaraan kita ini.”

“Kalau bisa sih dipertimbangkan lagi, Fan…” satpam yang mengantarkan ke rumah. Wajahnya penuh harap. Dia sudah cerita sebelumnya, tepatnya memberi pandangan, atau sebagiannya lagi keluhan. Intinya, “Apa nggak bisa dipertimbangkan lagi.”

Buyung itu kordinator pasar malam. Setiap hari Selasa, sore hari sampai malam, dia bersama hampir 20 pedagang lainnya menggelar jualan di sepanjang jalanan komplek. Dari Buyung dan satpam itu, saya jadi tahu banyak sejarah pasar malam setiap malam Rabu itu. Setidaknya, kalau benar sampai tidak boleh berdagang di tempat itu, “Berarti sudah tiga kali pasar malam ditutup!”

Waktu itu ada oknum yang mengurus uang ‘selaran’, istilah para pedagang untuk retribusi. Urusannya tidak beres, ada laporannya, tapi tidak berwujud uangnya. Tutup! Kemudian urusan pasar malam dikelola oleh ‘pemilik wilayah’. Menurut pengakuan penjual compact disk dua kios ini, konon pengelolaannya juga tidak beres. Tutup lagi. Sang satpam turut serta menguatkan. “Makanya, setelah itu pengelolaan pasar malam diserahkan ke kita (keamanan), Fan…”

Hmm…

“Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi, Bang?” tanya Buyung, “Kalau soal macet, nanti saya atur, kalau perlu saya kurangi jumlah pedagangnya. Tapi kalau harus pindah ke tempat itu, pedagang saya nggak sanggup.”

Saya menghela napas. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Saya paham, berdagang bagi Bang Buyung dan kawan-kawan adalah upayanya mencari nafkah. Berpindah dari tempat satu ke tempat lain. Membuka lapak dari jam lima sore, mengemasi kembali, kadang sampai hampir jam sebelas malam. Walau resminya, jam sepuluh sudah habis waktunya. Berdagang adalah perjuangan mereka, seperti saya bekerja untuk mendapat uang, demi menutupi segala kebutuhan hidup.

Beberapa waktu sebelumnya memang sudah dipertemukan Bang Buyung dalam rapat erwe, keputusannya, “Pasar Malam pindah ke belakang!” Maksudnya belakang, tidak di jalan utama masuk komplek. Karena bagi sebagian orang, “Bikin macet!”, “Tanaman rusak semua,” “Bla, bla, bla…” Sementara, di belakang itu menurut si Abang ini, tempatnya tidak strategis, sepi, terlalu masuk, jarang orang lewat. “Orang dagang kan cari tempat yang ramai, Bang.”

“Lagi pula cuma sebentar, berapa jam sih! Seminggu sekali juga…” si satpam komplek ikut menambahi. “Mereka yang protes juga belanja di situ kok…” lanjutnya.

Yah, saya hanya belajar lagi. Sebelum memutuskan sesuatu, carilah masukan sebanyak-banyaknya, informasi selengkap-lengkapnya, bicara sampai selesai semuanya. Saya setuju, komplek saya menjadi bersih dan asri. Walaupun itu kapan terrealisasi. Tapi, menutup jalan rezeki orang rasanya kok mengganjal di hati ya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s