Sudut Pandang

CHSE – Air Mata Bu Tumbras


 

STEMPEL SEKWE1Terinspirasi CHSI – Catatan Hati Seorang Istri karya Mbak Asma Nadia yang jadi sinetron di tangan Mas Hilman Hariwijaya. Teringat masa-masa menyiapkan lahirnya buku itu, di lantai dua sebuah ruangan penerbitan di Depok.  Ah, itu masa lalu, saya mau menulis CHSE saja. Catatan Hati Sekretaris Erwe. Hmm, selamat menikmati… 

AIR MATA BU TUMBRAS

“Gimana ya Mas, saya ini punya suami tapi kayak nggak punya suami…”

Hmm, saya hanya bisa menarik napas dan berusaha memberikan empati sedalam-dalamnya pada perempuan yang bertamu sore itu. Bukan sore, sudah agak malam. Tamu kedua hari ini, keperluan khususnya adalah minta stempel erwe! Ya, untuk surat miskin.

“Saya sebenarnya malu, Mas…”

Malu, karena harus bilang miskin. Tapi kenyataannya ya demikian. Dia terus melemparkan semua isi hatinya. Seolah ruang tamu saya adalah kali yang mengalir, hingga ia buang tanpa sungkan semua keluh kesahnya. Mungkin dia pikir, semua itu akan mengalir dan bermuara di laut. Ya, tidak apa-apa. Saya hanya bisa mendengar, selain memberikan stempel di surat yang dia minta.

“Anak saya mau ujian, Mas. Kalau belum bayar nggak boleh ikut,” katanya, “Bapaknya nggak bisa diandelin.”

“Iya, sudah lama juga saya nggak liat bapaknya anak-anak…” tanya saya.

“Itu dia Mas, kerjanya catur, catur, catur…” ada tekanan yang keras. Saya melihat dia sudah kesal sekali. Bahasa kampungnya, udah gedek banget!

“Masak sih, kayaknya rajin bener ke mesjidnya,” saya berusaha memancing saja. Soalnya saya juga sudah sering lihat suaminya catur tak kenal waktu. Hanya saja, ya bagusnya, setiap azan berkumandang, dia bergegas ke masjid shalat berjamaah.

“Iya Mas, tapi ya tetap saja, habis itu pergi ke tempat main catur lagi.”

“Kalau seneng kadang memang lupa makan ya…”

“Kata siapa Mas, kalau laper ya bapaknya pulang, kalau nggak cocok lauknya marah. Saya deh diomelin…”

Wajahnya memerah. Matanya memerah.

“Saya berusaha sabar Mas, tapi kan sabar ada batasnya,” suaranya mulai parau. “Dosa biarin lah Mas, saya lawan dia. Dia makin marah waktu saya bantah.”

Ruangan tamu saya sempat sunyi. Sepi sesaat. Saya melihat air bening lepas dari matanya. Cepat sekali. Secepat tangannya menyeka dengan ujung jilbabnya. Sambil tergugu, menguar semua cerita, nyaris tak ada yang tersisa.

Saya tahu, ini aib keluarganya. Tapi pertahanan hatinya tak sekuat yang dia kira. Jebol malam itu, pedih perih dan semua sedihnya.

“Sudahlah, terserah bapaknya mau ngapain. Saya sudah masa bodoh, Mas!”

Saya berusaha paham dan maklum. Hingga dia mengatakan sesuatu yang tak bakal saya lupakan. Menusuk persis di ulu hati saya.

“Saya rela kerja apa saja, yang penting halal Mas, demi anak-anak…”

Surat yang sudah saya stempel dimasukkan ke map, “Saya nggak bisa bantu apa-apa, moga-moga besok dimudahkan.” Dia pamit. Istri saya mengantar hingga ke gerbang. Sebuah kantong plastik disertakan. Saya tak tahu persis isinya, tapi begitulah. Saya harus berterimakasih pada sebuah ‘pelajaran’ dan ‘kebijakan’ hidup yang datang tanpa diundang. Tapi Allah antarkan sampai ke rumah, bahkan hingga pelupuk mata. Semoga turun ke hati…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s