Story & History

Baik Sekali


Banyak hal dahsyat yang membuat saya belajar. Tidak hanya menunjukkan ketidaktahuan, memberi pendalaman dan penegasan, tapi juga memberikan inspirasi kebaikan buat saya. Hingga saya merasa tidak seberapa, bukan apa-apa, dan hanya manusia lemah belaka. Ini salah satu cerita tentang empati teman saya. Saya kagum dan malu hati, lalu belajar diam-diam…

“Saya batalin, Mas…”
Ups! Saya merasa tersentak dengan kalimat ini. Tentu ini bukan satu-satunya kalimat dalam perbincangan dengan teman saya. Pembicaraan lewat telepon yang tentu saja panjang.
Persahabatan buat teman saya ini luar biasa.
“Dia teman saya, masak dia sedang begitu, saya senang-senang…”
Itu lanjutan kalimatnya.

Saya dibuat terbata-bata memakna. Sepertinya, otak saya kosong sekali selama ini memaknai persahabatan. Terus terang saya kagum. Saya belum sampai pada pencapaian bersahabat seperti itu. Membatalkan rencana bepergian, menghanguskan tiket yang ratusan ribu, memendam dalam mimpi dan keinginan yang sudah nyaris jadi kenyataan, menunda lagi satu hal yang belum pernah dilakukannya seumur hidup.

“Oh gitu ya…”
Muka saya pasti merah, kuning, kelabu. Beruntung dia tidak melihat langsung, betapa saya sangat malu dibuatnya. Beruntung juga saya tidak sedang berada di depan cermin, sehingga melihat wajah jelek saya semakin jelek.

Empati…
Tentu levelnya lebih tinggi dari sekadar simpati. Tidak cukup dengan mengucap turut serta dalam rasa yang sama, tidak cukup dengan mendoakan diam-diam, tidak cukup berbuat dan membantu dalam diam, tapi melewati itu semua. Total. Turut di waktu, gelombang dan frekuensi rasa yang sama.

Terus terang, saya belum sampai level ini.
Mungkin saya bisa jadi lebay, berlebihan menilai sikap teman saya ini dengan sinisme. Bahkan memprovokasi dengan kalimat, “Belum tentu lu kena musibah, dia bakal begitu…” walau hanya dalam hati. Tapi saya harus hargai, saya bahkan apresiasi. Karena saya tidak bisa turut berempati sampai “tingkat wali” seperti dia.

Empati yang tinggi biasanya tumbuh dalam sepi. Bersemi pada pribadi terpilih yang sering dililit perih. Sehingga tahu persis ‘rasa’ serupa bila ada orang lain mengalaminya. Empati juga tidak mungkin basa-basi, seperti air yang dalam diam mengalir mengisi celah retak tanah yang melungka kering. Saya menempatkan orang yang punya empati tinggi itu ‘guru laku’.

Guru yang mampu menjaga dirinya untuk tidak meliar saat kesempatan dan jalan terang terbentang lebar di hadapannya. Beberapa orang gagal, tidak bisa lulus, ketika perih yang menahun dan berkali-kali datang padanya, justru melahirkan jiwa kemumpungan, pongah, angkuh, dan norak saat dia terlepas dari tali temali keperihan, kepedihan, dan kesempitan. Alasannya, “Gue udah capek hidup susah…”

Hari ini saya berguru pada kebajikan waktu tentang empati. Meski belum bisa seperti teman saya itu, saya berusaha sebisa-bisanya untuk memelihara empati. Saya melihat orang berusaha keluar dari perih dan pedih dengan berbagai cara. Cara baik, setengah baik, setengah buruk, atau cara seburuk-buruknya. Tentu hak mereka untuk memilih, tetap berendah hati atau meninggikannya mumpung kesempatan itu ada. Pilihan menunjukkan kualitas persona.

Padi yang berisi, katanya kian tua kian merunduk. Pribadi berisi, konon kian rendah hati dan penuh empati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s