Sudut Pandang

Kai, Saya Jatuh Cinta


“Perempuan itu telaga, tempat kembali kekasihnya… Dia bukan cermin besar yang memantulkan, tapi kejernihan yang meneduhkan… Kebeningannya menjadi pembasuh wajah lelah berpeluh…”

Jatuh cinta membuat orang mudah berpuisi. Puisi pendek itu saya tulis dalam sebuah perjalanan ke kota penuh cinta. Bahkan baru saja saya sampai Stasiun Gambir, saya sudah bergetar, sinyal jatuh cinta saya kuat sekali.

Saya jatuh cinta pada ‘revolusi kereta api’ …

Kereta_api_indonesia
Naik kereta, asyiikk… (sumber foto wikipedia)

Dalam beberapa perjalanan luar kota saya belakangan ini, kereta api menjadi pilihan. Pertama kali mendengar, “Sekarang kereta sudah enak lho, bersih, nggak ada yang jualan dan sumpek seperti dulu.” Saya terkesima. “Ah, masak sih?” saya masih belum percaya sepenuhnya. Satu-satunya cara, saya buktikan. “Kereta ekonomi saja ber-ac, Mas. Enak deh, coba saja.”

Maka, saya pun naik kereta ekonomi ke Solo pertengahan Oktober tahun lalu. Terus terang saya tercengang dan salut. Dari mulai sistem penjualan tiket yang praktis, bisa online, dilakukan dari rumah, kantor, atau bahkan dari gadget di genggaman tangan. Hmm… ini luar biasa, batin saya kagum. “Bisa juga pesan di Indomaret atau Alfamaret, Mas, tinggal pilih tanggal sama naik kereta apa, bayar deh. Nanti tinggal tuker tiket di stasiun,” kata teman yang sering pulang pergi ke kampung naik kereta.

Bayangan kereta ekonomi yang sumpek, banyak pedagang asongan mondar-mandir tak henti. Tidak saya temui. Gerbong yang kotor, panas, dan ventilasi kaca banyak yang rusak, tidak ada sama sekali. Demikian juga, lantai yang kotor, sampah berserak di selasar dan kolong-kolong kursi tak saya dapati. Gerbong bersih, beberapa kali ada petugas yang menarik sampahnya. Juga tak ada lagi bau pesing toiletnya. “Tepat waktu!” itu hal lain yang penting.

Maka, saya pun jatuh cinta padamu, Kai…

Kai aku menyebutmu. KAI – Kereta Api Indonesia. Seperti perempuan telaga. Membuatku jatuh cinta, lebur lelah letih, karena dirimu bakal membawa serta semua cinta. Di kereta, saya menulis puisi pendek itu. Karena dirimu telah menjadi telaga, tidak memantul, tapi meneduhkan. Membuktikan dalam gerak cepat, spartan, diam-diam berevolusi, dalam sunyi berrevolusi.

Akhirnya, dengan Gajayana saya ke Malang. Menikmati perjalanan dengan cinta si Kai. Ke Jogja saya naik Taksaka. Ke Purwokerto saya naik Purwojaya. Sepertinya, saya seperti dibangkitkan semangat kembali berpergian oleh pesona dan daya pikat, revolusi perkeretapian ala Mister Jonan, Direktur KAI yang berada di balik semua ini. Dia tidak hanya ingin menjadikan transportasi kereta itu cermin kerja keras, kedisiplinan, dan perilaku. Tapi dia seolah ingin menunjukkan, bahwa kereta api itu telaga. Bukan kaca yang memantul, tapi air bening yang meneduhkan.

Naik kereta api, serasa berbasuh segala lelah letih…

Tidak ada yang tidak bisa diubah. Seperti kalimat yang saya dengar dari pengeras masjid, seorang ustadz menyampaikan pesan baik, “Perubahan suatu kaum, ya tergantung kaumnya.” Ya memang begitu. Kalau tidak mau berubah ya jangan protes, nikmati saja. Bukankah perubahan terbaik itu dimulai dari yang terdekat. Seperti rumus 3M dari Aa’ Gym. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari yang paling dekat. Dan… Mulai dari sekarang.

Pokokna mah, sayah jatuh cintah ka Kai, A’… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s